SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
PERTEMUAN DUA KELUARGA


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 89 || PERTEMUAN DUA KELUARGA


~TEh IJO~


SELAMAT MEMBACA MAAF BARU BISA UPDATE


"Yun, kita pulang!"


Yuna yang baru saja hendak menapaki eskalator menahan langkahnya sambil mengernyitkan dahinya menatap Pita yang sudah berjalan meninggalkan Yuna. Merasa heran, Yuna segera mengejar langkah Pita.


"Bu … kita kan baru sampai kok pulang?" protes Yuna.


"Rey udah di rumah," sahut Pita.


"Apa hubungannya sama brondong jagung itu sih Bu? Biarkan aja dia nunggu. Ganggu aja," sewot Yuna.


"Ya udah kamu disini aja, aku mau pulang."


Pita berlalu begitu saja  tanpa memperdulikan Yuna yang merasa berat untuk pulang lagi. Masa iya baru saja sampai sudah mau pulang percuma dong sampai mall gak ngapa ngapain.


"Kalau gini mending nonton tivi aja tadi," gerutu Yuna.


Tak butuh waktu lama Pita dan Yuna sudah sampai di rumah. Terlihat sepi tetapi ada mobil Rey terparkir di depan rumahnya. Pita yang dilanda kepo sudah tidak sabar untuk menemui Rey karena tidak biasanya Rey datang tiba tiba ke rumahnya.


Setelah membuka pintu rumah, mata Pita di kejutkan oleh pemandangan yang ia saksikan detik ini juga dan berharap itu hanya halusinasinya saja. Mana mungkin ayahnya yang di kampung akan berada disini.


"Wah … Bapak … " pekik Yuna heboh saat melihat ayah Pita dan Rey sedang main catur bersama di ruang tengah.


"Ayah," guman Pita.


Teriakan Yuna mengalihkan pandangan kedua orang beda generasi untuk menatap asal suara tersebut.


"Nah … darimana kalian? Sudah lumutan kita menunggu kalian," ujar ayah Pita.


Bukanya terkejut atau ikut heboh, ekspresi ayah Pita biasa saja padahal mereka baru saja bertemu.


"Sini kau, Tet!" panggil ayahnya.


"Ayah kok disini?"


"Pertanyaan macam apa ini? Tak suka kau rupanya kami disini? Jangan jadi anak durhacim kau ya!" 


Pita segera menyalam tangan ayahnya sambil melirik ke arah Rey yang menatap dirinya. Ada rasa kesal karena Rey menyembunyikan hal terbesar ini dari dirinya. 


"Ya sudah ayah mertua, saya kembali bekerja dulu ya agar kelak bisa mencukupi  kehidupan anak ayah mertua," ucap Rey.


"Nah, itu baru paten! Calon menantu idaman harus kerja keras. Tak apa apa daun muda yang penting uangnya banyak. Hidup tak bisa hanya modal cinta saja karena tak kenyang perut."

__ADS_1


Rey tersenyum puas. Dalam hati ia bersorak ria, lampu hijau sudah sangat berkelap kelip di depan, rasanya sudah tak sabar untuk segera menghalalkan bidadari hatinya.


"Tentu ayah mertua."


Rey meninggalkan rumah Pita dengan perasaan sangat puas. Siapa yang tidak bahagia jika calon ayah mertuanya saja sangat mendukung hubungan anaknya dengan dirinya. Dengan seperti itu jalannya untuk menikahi Pita mulus seperti jalan tol.


"Rey, tunggu!" teriak Pita.


Rey yang hendak membuka mobilnya segera menoleh kebelakang.


"Iya Sayang, ada apa?"


Pita malah merasa canggung sendiri dengan panggilan Rey. Apakah Rey sudah tidak ngambek lagi kepada dirinya?


"Apa Sayang?" ulang Rey  "Aku kerja dulu, nanti malam aku kesini lagi. Kenapa udah gak sabar pengen bobok bareng ya?" goda Rey.


Pita menyesal menghentikan langkah Rey yang hanya akan membuat wajahnya merah. Mulut Rey terlalu lemes gak bisa dijaga.


"Ngaco mulu! Aku cuma mau bilang makasih udah jemput ayah," ucap Pita.


"Iya, tapi gak gratis, kamu juga  harus membayar waktuku yang menemani ayahmu main catur. Sebagai bayaran, sun dulu." Rey menunjukan pipinya.


"Ogah," sahut Pita.


Namun tangan Rey segera menangkap lengan Pita. "Kalau malu masuk mobil bentar, nanti aku kasih bonusnya di sini."


Desiran darah seolah mengalir deras hingga menimbulkan sengaja listrik menjalar keseluruhan tubuhnya. Tubuh Pita membeku sesaat. Ia selalu heran mengapa sentuhan tangan Rey mampu menimbulkan sengatan yang menjalar hingga ke syarafnya.


"Gimana? Mau kan?" goda Rey lagi.


"Jangan ngaco deh!" tepis Pita.


"Ya sudah kalau gitu, sun disini aja."


Interaksi keduanya tak luput dari pandangan ayah Pita. Awalnya ayah Pita ingin segera menghampiri Rey dan ingin menggampratnya tetapi ia memundurkan langkahnya dan ingin melihat bagaimana Rey memperlakukan anaknya. Jangan sampai kali ini salah pilihan lagi.


"Ya sudah sini." Akhirnya Pita menyerah. Dengan senang hati Rey mendekatkan diri da menyodorkan pipinya untuk mendapatkan kiss dari Pita.


"Tapi merem, aku malu," lirih Pita.


"Dengan senang hati." Rey segera menutup matanya. 


Pita mengambil nafas sebelum melancarkan aksinya. 


Detik kemudian Rey mengaduh kesakitan akibat dari ulah Pita yang menjewer kedua pipinya dengan keras.


"Aww … Sakit tau." Rey memegangi bekas cubitan di pipinya.


"Rasain! Itu akibatnya udah berani cuek sama aku. Oh ya … itu juga belu seberapa, besok besok lebih dari itu." Pita yang masih merasa kesal meninggalkan Rey yang masih mengelus pipinya. Sebenarnya Pita tak tega, tapi ah sudahlah Pita masih kesal dengan Rey yang mengabaikan dirinya sejak tadi.

__ADS_1


.


.


.


Suasana malam yang syahdu diwarnai tawa canda dari dua keluarga besar yang sedang berkumpul. Malam ini, Keluarga Rey yang mengetahui orang tua Pita sudah mendarat di kota Yogyakarta pun segera memboyong keluarganya untuk segera melakukan pertemuan di salah satu restoran terbesar di kotanya. Menyambut calon besan harus dengan sambutan yang lebih berkesan mewah.


Asiah dan Ilham pun juga ikut andil dalam acara malam ini, sebab Asiah adalah anak tertua, kakak dari Rey.


"Wah … jeng Nadine terlihat awet muda ya, apa sih rahasianya? Pasti mahal ya skin carenya?" celoteh Aminah yang mengundang tawa Nadine.


"Ah, bisa aja. Aku tak pernah pakai skincare, mana boleh sama ayahnya Butet," ucap Nadine.


"Bagus bagus kau mak Butet! Siapa yang tak memperbolehkan? Kau aja yang tak mau kalau tak bermerek. Matilah aku kalau tiap bulan beli pengoles kulit yang jutaan." Ayah Pita membela dirinya.


"Bilang saja pelit," sambung Nadine.


Pita hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dimana mana tempatnya masih sempat untuk berdebat. Apakah tidak malu dengan keluarga Rey yang memperhatikan kedua orang tuanya beradu mulut.


"Mak, sudahlah. Pita malu," bisik Pita. Nadine pun menetralkan lagi suasana hatinya dengan menyunggingkan senyumnya pada calon besan yang tertawa kecil melihat adegan yang dianggap orang adalah cekcok rumah tangga tetapi itu sebenarnya adalah  kunci keharmonisan yang disepelekan.


Pita yang malam ini terlihat bercahaya membuat Rey tak hentinya memandang sang pujaan hatinya dengan rasa penuh bahagia. Hanya tinggal menghitung hari, Pita akan menjadi nyonya di keluarga Rey. Semoga saja dengan kehadiran Pita kelak akan segera memperkembang biakan bibit bibit unggul yang tersembunyi.


Kedua orang tua serius membahas tentang bagaimana cerita selanjutnya hubungan dua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Jika ayah Rey menginginkan sebuah acara lamaran terlebih dahulu, tetapi ayah Pita menginginkan mereka untuk segera menikah saja. Ada atau tidak adanya lamaran toh pada akhirnya mereka akan menikah juga. Apalagi Rey yang sudah sempat melamar Pita di Medan. Mungkin Pita bisa merahasiakan kejadian malam itu dimana Rey menyematkan sebuah cincin di jari anaknya.


"Tak perlu pakai acara lamaran lagi. Itu hanya akan membuang waktu saja. Tanpa dilamarkan, anakmu sudah melamar anakku. Coba kau kau lihat dulu jari manis si Butet," ujar ayah Pita pada calon besannya.


Ayah Rey mengernyit. "Benarkah?"


"Yang benar saja, Rey. Sungguh kamu keterlaluan," sahut ibunya.


"Coba lihat cincinya? Aku baru tahu kalau Rey bisa romantis," ledek Asiah.


Semua orang kagum akan sebuah cincin bermata berlian biru yang yang terbilang sangat langka. Bahkan Nadine sendiri tak mengetahui kejadian dimana Rey melamar Pita tetapi mengapa suaminya bisa tau?


Saat semua orang tengah bahagia dan memuji Pita, ada sepasang mata yang sangat muak melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Rasa tidak suka membumbung tinggi saat mengetahui bahwa cincin itu limited edition dan hanya ada hanya ada lima di penjuru dunia salah satunya adalah milik Pita.


"Tidak usah memujinya, aku juga bisa membelikan cincin seperti itu untuk kamu," lirih Ilham pada Asiah membuat semua mata segera menuju ke arah Ilham.


HALO HALO ... MAAF BARU SEMPAT UP YA. MAKASIH ATAS KESETIAAN KALIAN PADA NOVEL INI.


OH YA, JANGAN LUPA SAMBIL MENUNGGU NOVEL INI UP KALIAN BISA SINGGAH DULU KE NOVE AUTHOR AGE NAIRIE


JUDUL NOVEL : SAMUDRA NAYRA


AUTHOR : AGE NAIRIE


__ADS_1


__ADS_2