
SEGENGGAM LUKA
BAB 56 || SETITIK RASA PENYESALAN
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA
Disaat sayatan luka hati telah mengering, bukan berarti tidak meninggalkan jejak. Rasa sakit yang mendalam masih membekas di hati Pita. Masih butuh waktu berpikir untuk menjenguk Danar, mantan suaminya.
Pita bukan tidak merasa kasihan tetapi, ia belum siap untuk bertemu dengan Danar. Dirinya masih takut jika akan terbawa suasana iba dan terlihat lemah di depan Danar. Mendengarkan ceritanya saja Pita sudah tidak sanggup, apalagi dihadapkan dengan orangnya. Sungguh Pita merasa sangat egois menikmati hasil jerih payah orang lain sedangkan sang pemiliknya sedang melawan antara hidup dan matinya. Mengapa Pita tak mendengar lebih awal? Jika Pita mengetahui lebih awal, setidaknya Pita bisa membantu biaya pengobatan Danar. Namun, terlambat sudah. Kini penyakit Danar sudah masuk dalam stadium akhir. Tak akan ada lagi sebuah harapan besar untuk tetap bertahan hidup kecuali jika Tuhan menurunkan sebuah mukjizat untuk Danar.
Pita memilih mengutus Raka untuk menjenguk Danar dan membawanya ke rumah sakit terbaik agar Danar segera mendapatkan penanganan khusus.
Pita menantu dari ponsel. Sebelum Raka pergi, Pita telah berpesan agar mengirimkan kondisi Danar saat ini.
Sangat miris ketika mata Pita menatap ponsel yang menayangkan tentang kondisi Danar saat ini.
"Asataga … bang Danar." Pita menutup mulutnya dengan penuh keterkejutan.
Wajah Danar yang lusuh serta tubuhnya yang terlihat sangat kurus masih bisa bersemangat untuk menjadi juru parkir didepan sebuah mall terbesar. Sungguh miris! Hati Pita bagai bagai teriris belati melihat kondisi Danar saat ini.
Rasa iba membumbung tinggi hingga tanpa sengaja air matanya lolos begitu saja.
Namun, Pita segera menutup ponselnya saat pintu ruangan diketuk salah seorang waiters.
"Bu, di luar ada yang sedah ingin bertemu dengan anda."
Pita mengiyakan lalu menyuruh orang tersebut untuk datang ke ruangannya.
Pita terkejut saat mendapati kedatangan Riyan ke Cafenya.
"Riyan," sap Pita.
Riyan tersenyum, baru beberapa minggu saja tidak bertemu tubuh Pita sudah mulai berisi. Mungkin pikiran Pita sekarang sudah bahagia.
__ADS_1
"Hai … Apa kabar, Pit?" tanya Riyan sekedar basa basi. Sejatinya Riyan tahu bahwa Pita menang sedang bahagia. Karirnya selalu bagus. Saat menjadi model, namanya bisa menembus pasaran luas dan saat ini Cafe yang dikelolanya juga terlihat sangat ramai. Sungguh nasib baik selalu berpihak kepada dirinya.
"Duduk sini, ada apa?"
Riyan pun duduk depan meja Pita.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu tetapi, aku harus menyampaikan sesuatu penting. Ini mengenai kontrak kerjamu. Ternyata masih ada satu kontrak kerja yang belum selesai. Jadi … bagaimana, apakah kamu akan membayar denda yang telah tertera atau menyelesaikan kontrak hingga berakhir?"
Mata Pita membuat. Bukankah semua kontrak sudah diselesaikan semua? Lalu kontrak yang mana lagi? Pita menjadi bingung.
"Kontrak mana lagi Yan? Bukankah semua kontrak sudah aku selesaikan semua? Kamu jangan ngarang cerita ya?" tekan Pita.
Riyan segera menyodorkan sebuah map yang sudah ia siapkan. Di dalam kertas tersebut juga ada bubuhan tanda tangan Pita yang. Bahkan Pita sendiri merasa heran karena ia merasa tidak pernah menandatangani kontrak tersebut.
"Yan, mungkin kamu salah. Aku tidak pernah merasa menandatangani kontrak kerja ini," sanggah Pita.
"Tapi ini buktinya, Pit. Aku tidak tahu tapi aku menemukan kontrak ini di ruangan Rey saat aku hendak membersihkan ruangan tersebut. Mungkin kalian pernah berdua yang menyepakati kontrak ini," balas Riyan.
Pita berpikir keras, mengapa dirinya tidak bisa mengingat dengan jelas kapan ia menandatangani kontrak tersebut.
"Kalau begitu kamu harus membayar dendanya Pit, sesuai dengan kontrak," ujar Riyan.
Mungkin lebih baik Pita membayar denda dari pada harus kembali lagi ke tempat yang akan menggores luka hatinya yang telah mengering. Baru saja Pita mencoba untuk bisa melupakan Rey, mengapa ada lagi cara untuk mengingatnya.
"Memangnya aku harus membayar denda berapa?" tanya Pita.
"Sebenarnya tidak banyak sih jika melihat keadaanmu sekarang. Hanya 300 juta saja."
"Apa?" Pita tersentak kaget.
Riyan gila! Bagaimana bisa uang 300 juta bukan jumlah yang banyak? Pita tidak mungkin membayar denda tersebut meskipun sebenarnya dia juga sanggup membayarnya. Daripada untuk membayar denda lebih baik uang itu digunakan untuk membantu pengobatan Danar.
300 juta? Lebih baik uang itu untuk membantu untuk berobat bang Danar daripada harus aku berikan cuma cuma meskipun tak akan ada harapan sembuh untuk bang Danar, setidaknya aku bisa membantu sedikit. Katakanlah aku egois! Namun, siapa yang akan bisa memprediksikan nasib ini. Tak akan ada yang tahu bagaimana nasib seseorang kedepannya.
"Maaf Yan, aku tidak bisa membayar denda. Biarlah aku menyelesaikan kontrak tersebut meski sebenar terasa berat."
__ADS_1
Riyan tersenyum puas sebelum meninggalkan Pita lalu berkata, "Terimakasih, Pit. Ini adalah kontrak terakhirmu. Semoga setelah ini selesai kamu bisa bahagia lagi. Jangan bersedih. Minggu depan jadwal pemotretan. Persiapan dirimu lagi. Oke!" Riyan mengerlingkan salah satu matanya.
Sungguh berat untuk Pita tetapi, inilah kenyataan. Rasa penyesalan terus menghantui malamnya. Bagaimana ia bisa tertidur dengan nyenyak saat bayangan Danar selalu terngiang dipikirkannya. Sungguh Pita tidak bisa membayangkan bagaimana Danar melalui hari harinya seorang diri. Mungkin Danar telah membuat kesalahan besar meninggalkan dirinya tetapi, itu semua bukan murni keinginan Danar. Jika saja tidak ada kehadiran Jihan di tengah tengah kehidupan mereka, mungkin Danar tidak akan mengalami hal seperti ini.
Pita yang merasa gundah segera bangkit dari ranjangnya. Saat ini sudah pukul 11 malam. Tidak aman bagi seorang wanita keluar rumah sendirian meskipun menggunakan jasa taksi online.
Jihan mondar mandir bak seperti sedang menyetrika baju. Memikirkan bagaimana ia bisa menemui Danar malam ini mengingat Pita juga tidak mengetahui dimana tempat tinggal mantan suaminya tersebut.
"Raka," gumam Pita.
Salah satu orang yang sangat bisa membantu Pita adalah Raka. Selain Raka tahu dimana Danar berada, Raka juga bisa mengantarkan dirinya.
"Ide yang bagus." Pita segera mendial nomor Raka.
Lama tak ada jawaban. Pita tidak putus asa, wajar saja tidak mengangkat karena memang ini sudah larut. Raka pasti sudah terjun ke alam mimpinya.
"Ayo dong Rak, angkat!"
Saat dirinya hampir menyerah tiba tiba ponsel Pita berdering. Pita segera mengangkat, berharap itu adalah Raka.
Pita mengernyit saat melihat panggilan tanpa nama tertera di layar ponselnya.
"Siapa ya," gumam Pita lulu mendial tombol warna hijau.
Lama tak ada suara yang menyahut meski Pita sudah berulang kali mengatakan halo tetapi tak ada sahutan dari seberang ponselnya.
"Siapa sih, kalau gak jelas aku matiin," ucap Pita.
Kesal sedang dipermainkan oleh seseorang, Pita pun memilih mematikan sambungan teleponnya. Saat ini yang ia inginkan hanya bisa menemui Danar malam ini juga, entah bagaimana cara Pita harus menemuinya.
.
.
.
__ADS_1
HAYO JAN LUPA, MANA DUKUNGAN KALIAN?