SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 11 | KE RUMAH SAKIT


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA...


Yuna meminta maaf karena telah membuat Danar harus menunggu di luar untuk sebentar dengan alasan sedang mengerjakan tugas di dalam rumah.


Setelah Danar masuk, seperti biasa Pita menyambut kedatangan suaminya hanya saja dia tidak membukakan pintu.


"Bang Danar tumben udah pulang? Baru jam 7 lho," sindir Pita.


Danar yang masih mengendurkan dasinya mengernyit. "Kan kamu yang bilang Abang harus pulang cepat. Masa udah lupa sih?" gerutu Danar.


Pita tertawa kecil. "Oh iya, maaf Bang aku lupa kalau kita tadi habis bertemu kan di Mall. Ya sudah Bang Danar mandi dulu sana!" ujar Pita.


šŸ€šŸ€šŸ€


Pita sengaja menunggu Danar di ruang tengah. Dirinya bersama dengan Yuna sedang menonton televisi, sesekali Pita melayangkan beberapa pertanyaan untuk Yuna. Begitu juga dengan Yuna yang tidak segan untuk mengajukan pertanyaan kepada Pita. Keduanya pun saling melempar pertanyaan.


Yuna yang baru mengetahui bahwa majikannya telah menikah selama setahun lebih dan belum memiliki momongan membuat Yuna turut prihatin. Tidak memungkiri bahwa setiap pasangan muda menginginkan segera memiliki keturunan. Termasuk Pita, namun Pita mampu menutupi semuanya meski hatinya kecewa.


"Memangnya Ibu tidak kontrol ataupun konsultasi gitu, Bu?" tanya Yuna.


Pita menggeleng. "Tidak."


"Lho... Ibu gimana sih, udah setahun lebih lho?! Masa Ibu diam saja dan pasrah? Memang semua itu kehendak Allah tetapi kita juga harus tetap berusaha, Bu." Terlihat Yuna tidak terima atas sikap Pita yang hanya pasrah. Kalau seperti ini majikannya akan sangat lama untuk memiliki momongan karena tidak tahu apa penyebabnya. Bisa jadi karena faktor keturunan atau rahim Pita tidak subur.


"Ibu tidak boleh putus asa! Besok saya bawa Ibu ke rumah sakit untuk check up!"


Pita menggelengkan kepala melihat kehebohan dari Yuna yang belum genap 24 jam ia kenal.Ā 


Saat Yuna ingin melanjutkan ucapannya, Danar sudah tiba di samping Pita.Ā 


Yuna yang sadar pun segera beranjak meninggalkan Pita.


"Bapak mau di buatkan minuman?" tanya Yuna.


"Tidak usah!" jawab Danar.


Yuna mengerutkan dahinya. "Oh iya, tadi kan udah ngopi." Yuna mendumal.


"Aku dengar kamu ngomong apa ya," sahut Danar.

__ADS_1


Saat ini Danar dan Pita sedang berada di kamar.Ā  Pita sudah berusaha biasa saja untuk baik baik saja namun, semakin lama semakin sakit merasakan pahitnya penghianatan yang dilakukan suami dan sahabatnya.


"Bang Danar sering jalan sama Jihan ya?" pancing Pita.


Mata Danar membulat. Jantungnya terasa ingin berhenti saat ini juga. Apakah Pita mengetahui sesuatu tentang hubungannya dengan Jihan?


"Mas Danar kenapa tegang gitu sih? Kan aku cuma nanya aja, bukan mau eksekusi," lanjut Pita.


"Ah… Itu… Abang…"


"Astaga, Bang Danar kenapa gugup kayak gitu sih? Sudahlah ngapain juga bahas Jihan. Aku mau kasih kejutan buat Abang."Ā 


Tak bisa memungkiri dada Danar masih naik turun meredam rasa gugupnya. Danar membuang nafas kasarnya lalu sebisa mungkin untuk bisa tersenyum lebar.


Pita benar benar merasa muak atas sandiwara yang sedang di permainan oleh suaminya. Pita tidak habis pikir mengapa dengan mudah Danar berpaling darinya. Sedangkan yang Pita tahu, Danar sangat mencintainya dan tidak mudah hatinya tergoyahkan namun, mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah Danar sudah tidak mencintainya lagi? Atau Danar sedang dijebak oleh Jihan?


"Kejutan apa?" Danar sedari tadi jugaĀ  merasa penasaran dengan kata kejutan dari Pita.


"Tara… Aku diterima menjadi model sebuah iklan produk kecantikan, Bang. Dan minggu depan aku sudah bisa melakukan pemotretan," terang Pita.


Danar terbelalak tak percaya akan ucapan Pita. Bagaimana bisa Pita mendadak jadi model produk kecantikan. Yang Danar tahu untuk menjadi model produk kecantikan harus lulus seleksi terlebih dahulu.


"Pit, Abang sudah pernah bilang, Abang gak pernah akan setuju jika kamu kerja lagi. Apalagi menjadi model," ketus Danar.


***


Pagi ini setelah kepergian Danar, Yuna mengajak eh, tepatnya memaksaĀ  Pita untuk pergi ke rumah sakit. Seharusnya harus dengan Danar tetapi, Yuna tidak ingin saat hasil tes ternyata kekurangan berada di tangan Pita akan membuat Pita semakin terpuruk.


"Yun, mau dipecat ya kamu," teriakĀ  Pita.


Yuna tidak peduli, apalagi saat mobil pesanannya telah tiba.Ā  "Ibu, tolong sekali ini saja anda menurut kepada saya, oke?"


Astaga Yuna, tolong sadar siapa sebenarnya yang menjadi majikan, aku atau kamu?


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Pita terdiam, membayangkan hasil yang akan mengatakan bahwa dirinya adalah wanita yang tidak sempurna. Pita sangat takut jika itu benar terjadi. Apakah ini salah satu alasan Danar bermain api di belakangnya karena dirinya juga belum hamil?


"Bu kita sudah sampai. Ibu jangan tegang gitu dong. Rileks aja," ujar Yuna.


Pita berjalan dengan langkah pelan, begitu juga dengan Yuna yang sedang berbalas pesan dengan salah satu dokter yang ia kenal. Hebat bukan seorang asisten rumah tangga bisa mengenal sosok dokter terkenal?


Mata Pita tak hentinya memperhatikan pasangan yang berada di depannya. Jika dilihat, usia mereka sudah tidak muda lagi tetapi semangat yang membara. Lihat saja anak pertama saja masih berkisaran setahun lebih dan kini sang istri sudah berbadan dua lagi. Lelaki yang tidak bisa menahan nafsu atau itu adalah rezeki terbaik dari Tuhan.


Pita yang mendengarkan ocehan anak sulungnya pun tiba tiba memegangi perutnya. Andaikan saja ia lebih cepat diberi kepercayaan dari Tuhan mungkin anak Pita seusai bocah kecil tersebut.


"Aura pelan pelan, Nak!" teriak ibunya.

__ADS_1


Bocah kecil yang dipanggil Aura itu memang tidak bisa diam. Akan ada saja yang ia lakukanĀ  membuat kedua orang tuanya merasa pusing.


"Nath, kamu awasi Aura dulu. Aku tiba tiba pengen ke toilet," ujar Bia, ibu dari Aura.


"Jangan lama lama,soalnya dokter Mada juga pasien lain," ujar Nathan.


Bia mengangguk paham. Entah mengapa selama kehamilan ini dirinya sering buang air kecil hampir 10 menit sekali. Hal itu membuat dirinya merasa tidak nyaman, namun kata dokter kandungannya itu adal9 bawaan bayi.


Aura dengan riang berjalan menghentakan kaki kecilnya lalu berlari lari seolah menganggap rumah sakit ini adalah rumahnya.


Saat berlari Aura tidak memperhatikan jalannya hingga ia menabrak seseorang hingga dirinya terjatuh. Bukannya menangis Aura malah meminta tolong kepada Pita untuk menarik tangannya.


"Te… To lo n," ucap Aura terbata.


Pita dan Yuna saling menatap dan akhirnya Pita berjongkok untuk membangunkan tubuh mungil tersebut.


"Atit Ante," adu Aura.


Aura memegang pantatnya yang terasa sakit akibat terhantam lantai.


"Kamu gemesin deh, anak siapa sih." Yuna merasa sangat gemas dan mencubit pelan kedua pipi Aura yang tembam.


"Atit Ante!" teriak Aura.Ā 


Pita tertawa pelan. Sungguh mengemaskan bukan sikap anak anak?Ā 


"Mama Papa kamu mana?" tanya Pita.


Aura celingukan mencari keberadaan papanya yang tadi berada di depannya. Kemana perginya papa dan namanya.


Sementara itu, Nathan yang sedang menerima telepon tidak sadar Jika Aura masih tertinggal di belakang. Bagaimana mungkin ia melupakan Aura, bisa bisa dirinya akan menjadi santapan mentah oleh Bia yang sedang mode morning sickness.


[ Nah, Aura ketemu sama Pita 🤭🤭 ]


Jika ingin tahu silahkan mampir di Novel Author yang berjudul "BUKAN PERNIKAHAN IMPIAN"



MAAF HARI INI BARU BISA UP,


TERIMAKASIH BUAT YANG BARU SAJA MEMBACA NOVEL INI, SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN CERITA RECEH INI šŸ™šŸ»


OH IYA, TEH IJO MAU REKOMEN NOVEL DARI TEMEN TEH IJO. MAMPIR YA


__ADS_1


__ADS_2