SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
DANAR YANG GILA


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 5 | DANAR YANG GILA


~TEH IJO~


Jihan hanya mampu menelan ludahnya saat mendengar erangan panjang dari Danar. Ia yakin permainan mereka telah usai. Jihan memilih meninggalkan tempat itu dan memilih ke kamarnya. Suara erangan Danar masih memutar di kepalanya, bahkan Jihan mengingat setiap melakukan penyatuan tubuh bersama Danar.


Danar tidak pernah sampai sekuat itu. Apakah Pita lebih memuaskan daripada dirinya? Lalu jika iya, mengapa Danar mau menyentuhnya.


Pita yang kelelahan langsung tertidur, tetapi tidak dengan Danar yang masih belum merasa puas oleh pelayanan Pita. Karena Pita sangat yang sangat pasif tidak bisa mencoba berbagai gaya seperti yang Jihan lakukan.


Mendadak mata Danar terbelalak saat mengingat nama Jihan. Dia baru menyadari bahwa Jihan sedang ada di rumahnya. Dengan langkah pelan, Danar berjalan keluar kamar. Dia segera mencari Jihan di kamarnya.


Jihan yang belum tertidur merasa sangat terkejut saat Danar hanya mengenakan kimono saja. "Mas Danar?"


Danar segera menghujani Jihan dengan berbagai kecupan. Mulai dari bibir, leher, dada hingga terhenti di perut Jihan.


Jihan menggeliat merasakan sensasi yang menggetarkan tubuhnya. Tangan Danar pun tidak ingin tinggal diam untuk memainkan bagian sensitif milik Jihan.


Hingga akhirnya penyatuan keduanya terjadi lagi. Jihan memang sangat mengakui jika Danar adalah lelaki kuat. Setelah menghajar istrinya dia masih kuat untukmenghajar dirinya lagi.


"Mas Danar nekat banget sih? Gak takut ketahuan sama Pita?" bisik Jihan di sela-sela permainannya.


"Kamu tau gak sih Ji, sepertinya milikku sudah merasa candu dengan milikmu yang terasa menggigit. Berbeda dengan Pita yang sudah terasa hambar."


Jihan terkekeh. Napasnya naik turun, tubuhnya pun bergetar hebat. Danar yang sudah tidak tahan lagi akhirnya mencapai puncak, meskipun tidak mengerang panjang namun itu sudah membuat Jihan merasa sangat puas.


Pagi ini, Pita sedikit malas untuk bangun. Badannya terasa sangat sakit akibat permainan Danar tadi malam. Pita melirik Danar yang sudah siap dengan pakaian kerjanya membuat Pita terheran.


"Pukul berapa Bang?" tanya Pita.


"Pukul 7," jawab Danar singkat.


Pita gelagapan saat mendengar bahwa sekarang sudah pukul tujuh pagi sementara dirinya belum menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Mau kemana?" tanya Danar saat melihat Pita sibuk memungut pakaiannya di bawah lantai. 


"Aku mau masak lah, Bang. Kan Abang mau kerja," tutur Pita.


Namun hal itu segera dicegah oleh Danar

__ADS_1


"Tidak usah, aku langsung berangkat kerja aja. Nanti sarapan di caffe aja. Kamu istirahat aja."


Danar yang menatap dirinya dalam pantulan cermin besar sudah terlihat  oke pun segera berlalu keluar dari kamarnya.


Pita masih terdiam dengan sikap Danar yang terlihat cuek. Apakah pelayanan tadi malam tidak memuaskan? Pita memaksa untuk mencari tahu salahnya dimana.


Danar dan Jihan berangkat satu mobil karena memang satu tujuan. Jihan menggelengkan kepala saat tangan Danar mengelus paha Jihan yang sengaja dia tampilan agak terbuka. "Kenapa? Mas Danar masih kurang?" goda Jihan.


"Inget ini masih pagi," lirih Jihan lagi.


"Maunya gitu. Punya ku sekarang bawaannya idup terus kalau deket sama kamu. Tuh, kamu gak liat apa udah sesak gitu?" Danar memberi isyarat agar Jihan melihat dimana sesuatu yang sudah menonjol.


Jihan tertawa pelan. Memang benda pusaka milik Danar sudah membesar hingga menyembul. "Ji, gimana dong? Aku gak bakalan fokus kerja kalau seperti ini." lirih Danar.


"Mas, aku udah cantik seperti ini masa harus ***-*** lagi, kan gak mungkin, Mas." kekeh Jihan.


"Sebentar aja Ji, pakai your mouth! Oke!"


Jihan menghembuskan napas kasarnya. Dengan patuh dia menuruti kemauan Danar. Demi untuk menghancurkan Pita, Jihan rela menjadi budak Danar, toh Jihan juga sangat menikmati caranya yang terbilang sangat gila. Selingkuh dengan suami sahabatnya sendiri.


___


Sesampainya di Cafe, Jihan segera menuju ruang kerjanya sementara Danar segera melajukan mobilnya untuk ke caffe induk. Karena Danar memantau pekerjaannya dari Caffe induk.


"Iya, Pak. Saya dengar ini adalah peresmian cabang restoran yang ada di luar kota. Beliau ingin memperkenalkan restoran ala Jepang itu kepada kita semua, Pak," ujar Raka.


"Baiklah."


____


Terpaksa Pita harus bangkit dari tidurnya karena mengingat jika dia belum mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah mandi Pita segera mencuci pakaian. Awalnya biasa saja namun mendadak Pita terdiam. Matanya sangat tajam saat melihat noda merah di kaos yang ia kenakan kemarin sore. Noda merah itu Pita amati dengan jeli.


"Inikan noda lipstik," gumam Pita.


"Tetapi lipstik siapa? Bahkan aku saja tidak pernah memakai lipstik."


Pikiran Pita terus berputar, mengingat Danar adalah orang yang sangat mencintai dirinya. Tetapi Pita berpikir kembali, jika ini adalah kos yang di kenakan oleh Danar kemarin sore, berarti orang yang berinteraksi kepada dirinya adalah Jihan. Namun, Pita menepis dengan keras bahwa tidak mungkin Jihan akan menusuknya dari belakang.


Ponsel Pita berdering. Sebuah nama Danar tertulis di layarnya. Dengan bergegas Pita segera mengangkat teleponnya.


Pit, aku hanya ingin memberi kabar bahwa malam ini aku tidak bisa pulang karena harus keluar kota dadak. Kamu gak apa apa kan?

__ADS_1


"Lho kok mendadak Bang?"


Abang juga tidak tahu. Ya sudah Abang cuma bilang itu saja agar kamu gak nungguin Abang. Nih, Abang juga mau siap siap.


Seketika ponsel dimatikan sebelah pihak oleh Danar. Hal itu membuat Pita merasa jika Danar sudah keterlaluan, tidak memberikan ruang untuknya berbicara terlebih dahulu.


"Mas Danar kenapa sih, akhir-akhir ini aneh deh," gerutu Pita.


Padahal Pita juga ingin menanyakan tentang noda di kaos Danar. Namun, Pita harus menunggu hingga Danar kembali pulang. Bahkan Danar juga tidak mengatakan akan berapa lama di luar kota.


Merasa bosan di rumah, Pita berniat untuk sekedar jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Sudah lama dirinya tidak pernah jalan-jalan, apalagi Danar yang akhir-akhir ini juga sangat sibuk.


____


"Mas Danar jahat tahu!" Jihan yang sedari tadi berada di samping Danar merasa geli atas alibi Danar kepada istrinya.


"Emang kita mau keluar kota?" tanya Jihan.


"Kalau kamu mau," ujar Danar santai.


Danar sengaja  memilih Jihan untuk menemani acara perjamuan dari salah satu kenalannya. Karena menurut Danar Jihan lebih cocok daripada istrinya yang terlihat kucel sekarang.


Di waktu yang bersamaan, Pita tengah memasuki sebuah mall terbesar di kotanya. Hanya sekedar jalan-jalan dan singgah untuk menikmati kopi cappucino adalah niat awalnya dari rumah. 


Di saat itu juga mata Jihan menangkap sosok Pita sedang memasuki tempat dimana dia dan Danar juga sedang menikmati secangkir cappucino. "Mas, itu Pita." Jihan menunjuk ke arah dimana Pita berada. Danar segera membalikkan badan dan sangat terkejut.


"Pita?" gumamnya.


"Mas Danar mending pergi deh, aku takut Pita tahu kalau Mas Danar disini." Jihan merasa sangat panik, dia tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana jika Pita akan menjambak rambutnya dan memaki dirinya. 


Dengan cepat Danar melipir ke toilet untuk menghindar. Disaat itu juga Pita melihat Jihan lalu dengan penuh senyuman, Pita segera menghampiri Jihan.


"Hai Ji, kebetulan kita bertemu disini," sapa Pita.


"Hai juga Pita, wah gak nyangka ya kita bisa jumpa disini."


Pita segera menarik sebuah kursi. Keningnya mengernyit melihat sebuah cangkir yang berada di depan Jihan. Berarti Jihan tidak sedang sendiri, batin Pita.


"Kamu ada temennya," tanya Pita.


Jihan yang menyadari cangkir bekas Danar merasa salah tingkat. "Oh itu… tadi ada temen aku disini, tapi udah pulang," alibi Jihan.

__ADS_1


🍃🍃 BERSAMBUNG 🍃🍃


__ADS_2