
SEGENGGAM LUKA
BAB 30 || CERAI
~TEH IJO~
SALAMAT SIANG DAN SELAMAT MEMBACA...
Aku mencintaimu lebih dari segalanya. Aku rela berkorban untuk cinta kita namun pada akhirnya aku kecewa, aku sakit atas perlakuanmu terhadapku.
Mungkin ini adalah keputusan terberat ku, melepaskanmu dan juga cinta kita.
Aku mundur, aku mengalah karena aku tidak ingin larut dalam kekecewaan.
Mungkin cinta kita sampai disini.
...~Pitaloka.~...
Jantung Pita berdegup lebih kencang dari biasanya. Rasa gugup merasuki jiwanya namun Pita berusaha untuk menguatkan dirinya. Disamping itu Pita mendapatkan dukungan lebih dari Yuna dan Rey yang turut hadir dalam acara persidangan perdana atas gugatan Pita terhadap Danar.
Mata Pita tidak bisa berbohong jika dirinya masih menyimpan sebuah harapan terhadap Danar namun saat Pita menatap perut Jihan yang sudah mulai terlihat buncit hati Pita kembali hancur. Kesucian cintanya harus ternodai oleh sebuah pengkhianatan.
Hari ini Danar memenuhi panggilan pengadilan untuk melakukan sidang pertama atas gugatan yang Pita layangkan ditemani oleh Jihan yang tak merasa bersalah sedikitpun. Malahan Jihan semakin menempel pada Danar.
Pita berusaha tegar, ia menahan air mata yang hendak meleleh. Tidak ada gunanya menangisi lelaki brengsek seperti Danar, itulah bisikan dari hati kecilnya.
"Semangat, Tan," ucap Rey saat acara hendak dimulai.
Pita menatap Rey dengan penuh senyuman. "Makasih ya, Rey."
__ADS_1
Hati Rey meleleh seketika saat mendapatkan senyuman langka dari Pita.
"Tan, jangan buat hatiku meronta," batin Rey.
Danar menatap Pita hingga tak berkedip. Ada setitik rasa sakit di hatinya namun Danar tidak bisa melawan egonya untuk tetap berpisah dengan Pita. Pikiran Danar saat ini adalah menikahi Jihan dan merawat anaknya saat lahir nanti.
Sidang pertama hakim meminta kedua pihak untuk melakukan mediasi namun dengan kukuh Pita menolaknya. Baginya lebih cepat berpisah dengan Danar itu lebih baik. Buat apa membuang buang waktu yang tidak berguna lagi bagi keduanya sementara Danar sama sekali tidak peduli lagi kepadanya. Bahkan tanpa basa basi Danar untuk menyapa Pita. Mata Danar telah dibutakan oleh kegelapan hingga tak bisa melihat Pita dengan jelas. Jelas jelas Pita lebih dari segalanya namun Danar malah terbuai oleh Jihan yang tidak apa apanya dibandingkan dengan Pita.
Sepanjang sidang Pita sama sekali tidak menatap Danar, ia hanya menatap lurus ke depan tanpa goyah.
Hampir satu jam sidang berlangsung, Rey dan Yuna juga menjadi saksi dari pihak Pita. Bahkan Pita juga menyerahkan file pemindahan atas aset milik Danar yang telah jelas menjadi milik Pita seutuhnya.
Danar yang mendengar keputusan hakim tidak bisa membela diri karena saat itu dengan sadar Danar menandatangani surat surat tersebut.
Acara sidang selesai karena Pita menganggap semua masalah sudah selesai dengan menunjuk Jihan sebagai selingkuhan Danar yang tengah hamil. Tak ada perlawanan atau pembelaan dari Danar hingga hakim memutuskan perceraian keduanya. Ketukan palu terdengar nyaring di ruangan yang tidak banyak orang itu, sidang berjalan dengan lancar dan Pita pun segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Terimakasih sudah melepaskan Mas Danar untukku dan juga untuk anak kami. Ups anak Mas Danar maksudku." Jihan sengaja berucap di samping Pita yang tengah berjalan lurus ke depan.
Pita tersenyum sinis dan tidak peduli dengan bisikan syaitan disamping saat ini.
"Pit, lihatlah bagaimana benih Mas Danar cepat berkembang di rahimku, berarti benih Mas Danar itu manjur lho. Terbukti kan kalau top cer," kekeh Jihan.
Jihan sengaja menjadi kompor untuk Pita dengan kehamilannya saat ini. Jihan seolah sedang mengejek Pita yang tidak bisa memberikan keturunan untuk Danar namun Pita berusaha tetap tegar atas cibiran dari Jihan. Pita yakin dirinya sehat karena hasil pemeriksaan kala itu mengatakan bahwa dirinya sehat tidak ada gangguan apa pun di rahimnya. Mungkin saat ini Tuhan sedang menguji batas kesabaran Pita. Untuk mendapatkan sesuatu yang manis maka ada saatnya untuk merasakan hal yang paling pahit lebih dahulu. Pita yakin Tuhan sudah menetapkan takdir terbaik untuk dirinya.
"Pit… Pita tunggu!" teriak Jihan saat Pita mengacuhkan semua ucapanya.
Tak sedikitpun Pita terkecoh untuk membalas cibiran Jihan, Pita malah terlihat lebih santai membuat Jihan semakin geram.
Danar yang baru saja keluar dari ruangan hanya bisa menatap punggung rapuh mantan istrinya. Danar yakin Pita saat ini sedang rapuh atas kenyataan ini. Danar sendiri tidak tahu mengapa bisa menjadi seperti ini. Setiap kali Danar ingin menggapai Pita lagi, bayangan Jihan langsung menghantui pikirannya menguasai jiwanya.
__ADS_1
"Eh pak Danar, bapak sadar dong! Apa yang bapak lihat dari wanita itu? Montok juga kagak, bahenol juga kagak malah tepos," ejek Yuna yang dilewati oleh Danar.
Danar terdiam sesaat seakan membenarkan ucapan Yuna yang memang benar adanya namun Danar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tetap memilih Jihan.
"Coba deh pak Danar sekali kali sholat dan baca al quran gitu, biar mata pak Danar sedikit kebuka. Biar bisa bedain mana berlian mana kerikil jalanan," lanjut Yuna lagi.
Danar menatap tajam kearah Yuna dan Rey yang sedang berdiri disamping Danar. Memang selama ini Danar tidak pernah menjalankan sholat. Apakah Danar harus sholat untuk menetralkan hatinya yang selalu bimbang?
*****
Rey melihat dengan jelas guratan kesedihan di wajah Pita meskipun Pita mencoba menutupinya dengan mencoba tetap tersenyum. Tidak akan mudah merelakan sesuatu yang pernah dimiliki meskipun itu menyakitkan.
"Tan, aku tahu sedang menutupi luka di hati Tante," ujar Rey dengan gayanya yang sok cool.
Pita tersenyum sinis. "Sok tahu kamu. Aku bahagia karena setidaknya hidupku tidak penuh tekanan lagi."
"Tante, Tante. Wajah tante itu gak bisa bohong. Kalau tante butuh sandaran, sini bahu aku siap jadi sandaran untuk tante. Free untuk 12 jam, kalau 24 jam bayar ya," celoteh Rey.
Pita menahan tawanya. Sejak kapan bersandar pakai biaya? Dasar Rey.
Yuna yang berada di belakang keduanya seolah menjadi baygon yang berjalan.
Saat ini Rey tidak langsung mengantar Pita pulang melainkan mengajak Pita untuk singgah ke Caffe milik Danar yang sudah sah menjadi miliknya. Rey sengaja membawa kameranya untuk menjepret setiap sudut bagian Cafe untuk dipromosikan agar lebih ramai lagi. Semenjak Danar Cafe pindah ke tangan Pita pengunjung mulai jarang karena Pita belum bisa mengelola Cafe dengan baik meskipun ada Raka yang membantunya.
"Tan, coba deh ganti suasana gitu biar lebih hidup. Meskipun ramai tapi masih ada sedikit yang kurang, contohnya baground yang harus di ganti," ujar Rey.
Pita hanya mengangguk saja karena memang Pita tidak tahu apa apa tentang desain. Saat ini pekerjaan Pita bertambah lagi yaitu mengurus Cafe serta menjadi model yang sedang naik daun karena sebuah produk yang diiklankan saat itu.
🍃🍃BERSAMBUNG🍃🍃
__ADS_1