
SEGENGGAM LUKA
BAB 84 || SEKILAS
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA
Setelah kepulangannya, Danar segera menuju ke apartemen dimana Pita tinggal saat ini. Sungguh dirinya ingin menjadi bahu tempat bersandar Pita saat ini mengingat kondisi Pita yang memprihatinkan. Tubuhnya yang terlihat lebih kurus, wajahnya yang kucel serta penampilannya yang sama sekali tak terawat. Danar Hanya menahan nafas sesaknya saat mengetahui bahwa Pita tengah berbadan dua di usia pernikahannya dengan Rey yang baru seujung akar toge. Selama satu tahun Danar menggauli Pita tapi tak ada hilal kecebong yang berkembang biak di rahim Pita menandakan bahwa dirinya-lah yang tidak sehat.
"Bang Danar," gumam Pita, saat melihat sosok Danar dari bilik pintu luar.
"Hai." Danar merasa grogi saat hendak menyapa Pita.
"Ini ada sedikit oleh oleh. Semoga kamu suka," lanjut Danar lagi.
Pita membukan matanya dengan sempurna saat melihat sosok Danar yang sudah berdiri di depannya dengan Yuna di belakang Danar. Ini pasti adalah ulah Yuna, memberi tahu tempat tinggalnya.
"Terimakasih," lirih Pita.
__ADS_1
Tanpa disuruh untuk duduk, Danar mendaratkan tubuhnya di sofa, meskipun menjaga jarak. Danar hanya menatap Pita, hatinya sedikit hancur melihat Pita saat ini. Inggin sekali memeluk Pita, tapi dirinya terlalu takut jika akan dikatakan ngelunjak. Sudah bagus Pita mau menerima kedatangan, mengingat perbuatan dimasa lampaunya. Bisa berteman saja Danar merasa bersyukur. Mungkin Danar harus pelan dalam mengendalikan keadaan ini. Mengambil hati Pita secara perlahan agar Pita kembali lagi membuka hati untuk dirinya. Saat ini Pita membutuhkan teman untuk berbagi dan Danar akan berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Aku … aku turut berduka cita atas kepergian Rey."
Pita mengangguk pelan. Ingin rasanya memaki Danar tetapi Pita tau itu hanya akan sia-sia. Toh kenyataannya memang seperti itu. Semua orang menganggap Rey telah tiada namun, tidak dengan ya yang mengatakan bahwa Rey baik baik saja di tempat lain.
"Iya, terimakasih."
"Pit, kamu harus kuat demi … " Danar berhenti sejenak lalu melirik perut Pita yang masih rata.
"Demi anak kalian," lanjut Danar lagi.
Pita tersenyum sinis. "Iya. Tanpa Abang kasih tau pasti aku kuat kok."
.
.
.
__ADS_1
Di lain tempat seseorang terbaring lemah dengan balutan kain kasa melingkar di kepalanya. Luka yang cukup serius bahkan mengalami patah kaki dan tangan ringan yang masih bisa pulih seperti sedia kala.
Selamat dari sebuah kecelakaan maut adalah sebuah keajaiban besar untuk Rey meski saat ini dirinya terbaring lemah tak berdaya dalam keadaan koma. Satu bulan lebih dalam keadaan seperti ini, tak ada tanda-tanda akan sadar.
Seorang wanita cantik senantiasa menunggui Rey. Siang malam waktunya hanya untuk menjaga berharap Rey tersadar.
Villa, seorang relawan yang berhasil menemukan Rey saat itu. Awalnya Vio mau memberitahukan bahwa ia menemukan salah satu korban kecelakaan tetapi, setelah melihat kembali wajah Rey yang tampan, Vio mengurung niatnya dan segera melarikan ke rumah sakit terdekat agar Rey segera mendapatkan pertolongan. Nasib baik, nyawa Rey masih tertolong, tetapi dengan luka serius. Tangan dan kakinya mengalami patah tulang. ( Sekilas gambaran tentang Rey, mana mungkin Othor tega membunuh anak kesayangan 😀 )
Siang ini, Pita dipaksa oleh Yuna untuk cek up kandungannya karena sudah satu bulan juga Pita tak kunjung memeriksakan calon bayi mereka. Yuna hanya takut saja karena psikologi Pita yang kurang baik. Biasanya ibu hamil muda yang mengalami tekanan batin dan stres dapat mempengaruhi kandungannya.
"Bu, ayo!"
Pita menghela nafas kasarnya. Meski terasa malas, tetapi demi nyawa yang sedang hidup di dalam rahimnya, Pita mengikuti saran dari Yuna.
"Iya."
Sesampainya di rumah sakit, jantung Pita berdebar tak karuan. Aroma khas rumah sakit membuat perutnya bergejolak lebih kuat dan semakin mual. Pita memilih mencari toilet terlebih dahulu untuk mengeluarkan rasa gejolak dalam perutnya.
Langkah Pita tertahan saat para melihat rombongan tenaga medis bergegas ke dalam sebuah kamar rawat inap. Diwaktu bersamaan sekilas Pita bisa melihat pasien yang tengah terbaring di sebuah ranjang rumah sakit. Lagi-lagi jantungnya berpacu lebih kencang, sekilas bahwa pasien tersebut adalah Rey.
__ADS_1
MOON MAAF BELUM SEMPAT CEK, OTHOR MAU NGULI DULU.
AYO DONG MANA DUKUNGAN KALIAN??