SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
OPUNG


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 27 || OPUNG


~TEH IJO~


SELAMAT MALAM MINGGU ❤


Nadine dan Pita telah melakukan sebuah kesepakatan, maka dari itu Nadine juga harus bisa mengulur waktu untuk menunggu kedatangan Rey, sesuai dengan instruksi Pita.


Nadine kembali ke mobil dan membisikkan sesuatu kepada Ucok membuat Ucok membulatkan matanya.


"Yang benar saja, Mak? Ada ada aja," gerutu Ucok.


"Ya sudah cari dulu lah itu pembungkusnya," lanjut Ucok lagi.


Nadine bersorak dalam hati saat Ucok tak sedikit pun menaruh curiga. Nadine pun segera kembali ke toilet.


Di ujung toilet, Pita sudah tak sabar mendengar kabar dari mamaknya. 


"Gimana, Mak?" tanya Pita.


"Beres! Dimana teman kau itu?" 


Pita pun segera menghubungi Rey. Kebetulan Rey juga sudah berada di tempat tersebut. Pita menarik tangan mamaknya, tak sabar ingin segera menemui Rey.


Tepat di depan mobil yang ditumpangi oleh Ucok, Rey menghentikan motornya tepat di depannya. Rey segera menghampiri Ucok.


"Permisi, apakah Om adalah kakak dari Pitaloka Siregar?" tanya Rey.


Ucok yang sedang santai di dalam mobil sangat terkejut dengan kedatangan yang membenarkan dirinya..


"Aku bukan kakaknya tapi aku Abangnya? Mau apa kau?" sinis Ucok.


Rey menatap tajam kearah Ucok, ternyata orang yang sedang diajak berkomunikasi ini ternyata sangat ketus tidak seperti Pita yang kadang lemah lembut.


"Maaf, Om tidak bisa membawa Pitaloka pergi karena tante Pita masih mempunyai sebuah kontrak. Apapula tante Pita melanggarnya maka tante Pita kan dikenakan denda sekitar 20 juta. Om paham?" dusta Rey.


"Maksud kau apa?" Ucok sedikit shock atas ucapan Rey yang tiba tiba mengeluarkan selembar surat perjanjian palsu yang telah Rey siapkan.


"Ini adalah surat perjanjian kerjasama antara kami dan tante Pita." Rey memberikan lembar kertas tersebut agar dibaca oleh Ucok. Semoga saja Ucok tidak curiga. 


Ucok sesaat terdiam sambil membaca setiap pasal yang tertulis di kertas tersebut. Bagaimana Ucok bisa mengganti denda 20 juta perbulan selama masa kontrak berlaku. Boro boro 20 juta, 1 juta saja Ucok tidak pernah memegangnya. 


Seorang pengangguran mana punya uang sebanyak itu. 

__ADS_1


"Bagaimana Om? Jika Om bersedia maka silahkan tanda tangani surat pencabutan kontrak tetapi pihak yang bersangkutan harus membayar denda yang telah tertulis," ujar Rey.


Tak menunggu lama Pita dan emaknya datang. Keduanya pura pura tidak tahu apa apa dan merasa shock saat mendengar ucapan Rey yang didengar oleh mereka. 


"Maaf Rey, aku tidak bisa melanjutkan kerjasama kita karena Bang Ucok memaksaku untuk pulang kampung. Jika kamu ingin meminta denda, silahkan meminta kepadanya." Pita memasang wajah sendunya seolah dia benar benar merasa sangat bersalah.


Ucok tersentak, apa pula dia yang harus membayar denda sedangkan yang bekerja adalah adiknya. Sungguh ini tidak adil.


"Tidak! Aku tidak mau. Apa apaan ini? Butet yang kerja awak pula yang bayar denda! Tidak aku tak mau!" tolak Ucok keras.


"Emak juga tidak mau!" sahut Nadine.


"Baiklah, sesuai dengan pasal yang berlaku, sodara Pitaloka akan kami tuntut ke pihak berwajib atas kasus ini." Rey berpura pura meninggalkan mereka.


Dalam hati Rey menghitung mundur.


3...2..1…


"Jangan!" teriak Ucok dan Emak berbarengan membuat Rey tertawa pelan.


"Gampang banget di kibulin," batin Rey.


*****


"Jangan lupa janji kau tadi, Tet. Awas kalau berbohong, Mak bilang sam Ucok baru tau rasa kau!" ancam Nadine.


"Beres, Mak. Kebetulan lusa aku ada pengambilan foto di sekitar sana jadi Mak bisa puas berkeliling di sana," bisik Pita.


Disisi lain Rey tengah berbincang dengan Ucok. Meskipun baru beberapa menit bertemu keduanya sudah sangat akrab apalagi sifat Rey yang fleksibel dan mudah bergaul. Tidak akan susah untuk menaklukkan kerasnya hati Ucok. 


Dari perbincangan Rey tahu jika Ucok adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya sepenuh hati meski dengan cara yang keras. Ucok tidak akan membiarkan jika adiknya terluka ataupun kecewa, maka dari itu Ucok meminta Pita untuk pulang kampung agar bisa melupakan lelaki yang sudah menghancurkan hadapannya.


"Sudah berapa lama kau kenal Butet?" tanya Ucok.


"Baru beberapa bulan ini, Om. Kebetulan tante Pita adalah model pengganti yang bernasib mujur, karena ternyata banyak pihak yang mengendorse tante," terang Rey.


Ucok mengangguk pelan sambil memperhatikan penampilan Rey. Dilihat dari segi pakaian yang digunakan Ucok tahu bahwa itu adalah sebuah branded terkenal dan mahal. Bisa dipastikan Rey bukanlah orang biasa. Jam tangan yang dikenakan Rey juga menambah lagi jika Rey dari golongan berada. Hanya orang orang yang kelas tinggi yang bisa memakai jam tangan tersebut.



"Bang berhubung udah siang, kita makan siang dulu ya!" Suara Pita membuyarkan tentang penilaian Ucok terhadap Rey.


"Kalau begitu silahkan lanjutkan, aku permisi," pamit Rey.


Belum sempat Rey berbalik, langkahnya telah ditahan oleh Ucok

__ADS_1


"Siapa yang nyuruh kau pulang? Ayo makan dulu kita baru main catur, kalau kau menang kau baru kau boleh pulang!" tantangan Ucok.


Rey menelan kasar ludahnya. Seumur umur Rey tidak pernah memegang bidak catur apalagi untuk memegangnya.  Ah, apakah ini sebuah jebakan, batin Rey.


Nadine tak hentinya memandang Rey tanpa kedip. Sungguh Rey makhluk Tuhan yang paling tampan. Senyumnya mampu meruntuhkan awan panas gunung Sinabung. Tatapan matanya mampu menggetarkan lautan selat sunda.



"Mak kenapa?" protes Pita saat Nadine tersenyum sendiri dengan haluan tingkat dewanya. Meski usianya sudah berada di angkat 48 tahun tetapi Nadine akan merasa lebih muda jika melihat BroNis seperti Rey ini.


"Tidak ada. Kau jangan kepo!"


Pita mengernyitkan dahinya melihat ibunya yang mendadak seperti seorang ABG yang sedang di apelin oleh kekasihnya.


"Sudah punya pacar nya, kau?" tanya Nadine.


Rey menakutkan alisnya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" 


"Iyalah. Jadi siapa lagi? Tak mungkin aku tanya sama si Ucok?" gerutu Nadine.


Rey menggaruk tengkuknya. Boro boro pacar kenalan cewek saja tidak punya. Hanya beberapa model yang Rey kenal dan salah satunya adalah Pita.


"Masih mau nyari, Pung ( Opung )."


"Hei… Apa kau bilang aku Opung? Kau lihat baik baik wajahku? Cucu saja aku belum punya sudah berani kau panggil aku opung." geram Nadine. 


Nadine merasa sangat tidak setuju jika dirinya dipanggil opung oleh Rey sementara Nadine merasa usianya masih terlalu muda untuk dipanggil opung.


"Ah, maaf. Aku hanya lihat di televisi biasanya kalau orang yang sudah tua dari suku Batak akan dipanggil opung." Rey merasa sangat bersalah dengan ucapannya. Dia sendiri juga bingung ingin memanggil ibunya tante Pita dengan sebutan apalagi.


"Apa kau bilang?" Tiba tiba Nadine menggebrak meja makan membuat Ucok dan Pita merasa sangat terkejut, apalagi dengan Rey yang badanya sudah menggigil ketakutan. Apakah ada yang salah lagi dengan ucapanya?


"Kau bilang aku tua? Lihat apa kau tidak tahu wajahku yang masih segar seperti ini kau bilang tua," lanjut Nadine lagi.


Rey mengelus dadanya sambil mengucap kata sabar. Rey tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya hidup bersandingan dengan Ucok dan Nadine. Bisa bisa Rey mati kaku akibat salah berucap. 


Ingin melawan tetapi tidak sopan, namun itulah faktanya jika Nadine memang sudah tua.


Nah, ini dia ibu Nadine, Emaknya Pita



🍂🍂 BERSAMBUNG 🍂🍂


OPUNG MASIH SEGER GINI, MANA TAP LIKEnya 🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2