
SEGENGGAM LUKA
BAB 54 || MENGHILANG
~TEH IJO~
Seperti Rey yang menghilangkan tanpa jejak, Authornya pun ikut menghilangkan selama satu hari tak ada kabar beritanya dan baru bisa up malam ini.
SELAMAT MEMBACA ...
Pita sudah mengunjungi apartemen Rey, nyatanya apartemen itu kosong. Rey tidak ada di sana. Merasa sedikit bingung, Pita melangkahkan kakinya untuk pulang dengan sejuta rasa penasaran yang menggebu di hatinya.
"Rey kemana lagi sih? Ngilang gak jelas," gerutu Pita.
Pita sudah berusaha menanyakan keberadaan Rey kepada teman dekat, tetapi tak ada satupun yang mengetahui dimana Rey saat ini.
Satu hari dua hari Pita masih bisa sabar tetapi kini sudah dua minggu berlalu tetapi tak ada sedikitpun kabar Rey untuk dirinya. Sekedar menanyakan kabar pun sama sekali tidak ada. Sebenarnya apa maunya Rey hingga harus mengabaikan Pita seperti ini. Apakah hanya untuk mempermainkan perasaannya saja? Lalu untuk apa Rey sampai rela mencari dirinya hingga ke kampung hingga membuat kesepakatan kepada ayahnya? Padahal jika dihitung lagi, masa iddah Pita akan habis selama dua minggu lagi, tapi nyatanya Rey malah pergi tak berjejak.
Di sebuah rumah sakit terdekat, Jihan harus segera melakukan sebuah operasi karena ternyata Jihan telah mengalami pendarahan sebelumnya. Dokter yang menangani tidak bisa menjamin penuh atas keselamatan sang bayi. Jihan tidak peduli, yang ia pedulikan saat ini adalah menghilangkan rasa sakit yang semakin melilit perutnya. Reza yang berada di samping Jihan telah menandatangani surat operasi yang akan segera dilakukan.
"Tenang, Ji. Kamu akan selamat," bisik Reza.
"Za, aku takut." Jihan menggenggam kuat lengan Reza.
"Kamu tenang, aku akan ada disini menunggu kamu dan anak kita."
Hampir tiga jam operasi berjalan. Seperti prediksi dokter sebelumnya, nyawa bayi yang telah berhasil keluar tidak lagi bisa terselamatkan. Namun, setidaknya nyawa Jihan masih bisa terselamatkan.
Mengetahui anaknya tidak bisa terselamatkan, tubuh Reza luruh ke lantai. Sudah sangat lama Reza menantikan momen tersebut. Memiliki anak dari wanita yang sangat ia cintai adalah impiannya. Awalnya Reza hanya ingin menggunakan Jihan sebagai alat untuk menghancurkan Danar tetapi, Jihan yang terobsesi memiliki Danar ternyata melakukan tugasnya dengan tujuan berbeda. Ia benar benar bisa menyentuh Danar dan berhasil menghancurkan rumah tangga Danar. Tujuan Jihan hanya satu. Ingin memiliki Danar seutuhnya tetapi Reza sangat tidak setuju karena yang sedang Jihan kandungan adalah darah dagingnya.
"Maaf Pak, saru lagi," jeda dokter tersebut.
__ADS_1
"Kami mohon maaf, karena rahim istri anda sudah rusak, maka kami melakukan pengangkatan rahim. Itu artinya istri anda tidak akan pernah bisa hamil lagi," jelas sang dokter.
Mata Danar hanya membuat. Bagaimana bisa rahim Jihan diangkat. Itu artinya … artinya Jihan sudah tidak bisa reproduksi lagi. Lalu masih ingin dipertahankan sosok Jihan yang tak akan pernah mungkin bisa memberikan lagi keturunan untuk dirinya.
"Tidak mungkin!" jerit Jihan pecah saat mengetahui sebuah kebenaran yang benar benar nyata bagi dirinya.
Tidak hanya rahimnya yang telah diangkat tetapi juga wajahnya yang sudah berubah total. Bahkan dirinya sendiri tidak mengenalinya. Kulit tangan mendadak saja menjadi keriput dan wajahnya sudah menua.
Reza yang berjaga di ruang ICU sangat terkejut dengan teriakan Jihan membuat lelaki itu segera menghampiri Jihan
"Jihan," gumam Reza.
.
.
.
.
.
"Bu, jangan sedih terus. Mungkin mas Rey memang sedang ada urusan penting," hibur Yuna.
Pita tersenyum sinis. "Apakah tidak bisa hanya sekedar memberi kabar saja?"
Yuna tidak tahu lagi mau menjawab apa. Hubungan majikannya terlalu rumit untuk dipahami. Kadang manis seperti gula kadang sepet seperti mengkudu. Rey yang masih seperti anak anak suka sekali menghilang tanpa jejak.
"Sudahlah Bu. Jodoh gak akan lari kemana. Meskipun saya pribadi sebenarnya juga menyukai mas Rey, tetapi saya mengalah kok demi ibu," celoteh Yuna lagi.
"Ambil saja untukmu!" Pita meninggalkan Yuna yang masih membeku.
__ADS_1
"Ya elah … sensitif amet sih Jamu satu ini. Untung cantik." Yuna mengedikan bahunya.
Menjalani hari hari tanpa Rey seperti sayur tanpa garam, anyep. Tak ada yang membuat Pita kesal, tersenyum, tertawa bahkan tak ada yang mengantar jemput dirinya lagi. Mungkin Pita harus terbiasa dengan keadaan seperti ini mengingat Rey tak kunjung memberi kabar dan kembali meski meski sudah hampir satu bulan.
Pagi ini Pita sengaja pergi ke Studio karena ada suatu hal yang ingin Pita selesaikan.
Mungkin ini adalah keputusan terberat bagi dirinya. Pekerjaan yang telah memberikan banyak peluang harus Pita lepas begitu saja. Impian masa kecil yang sudah di tangan Pita lepas ia tidak ingin larut dalam rasa kepedihan yang selalu menimpa dirinya. Mungkin saat ini fokus dengan mengurus Cafe adalah cara terbaik untuk melupakan rasa sakitnya.
"Kamu serius, Pit ingin resign?" tanya Riyan tak percaya.
Pita hanya mengangguk pelan. "Iya. Maaf jika keputusan ini mendadak."
"Jadi, apa yang harus aku sampaikan nanti saat Rey menanyakan tentangmu yang tiba tiba memilih resign?"
"Dia tidak akan pernah menanyakan aku karena aku akan baik baik saja," timpal Pita.
Setelah berpamitan dengan semua crew Pita merasakan hati kecilnya ikut menangis tapi ia harus kuat. Jangan sampai Pita diperdaya oleh hatinya lagi. Ia tidak ingin sakit hati berkali kali.
Sudah cukup Danar dan Rey yang menggoreskan luka di hatinya.
Pita telah berusaha sabar tetapi kesabarannya tidak pernah berarti.
"Rey … Maaf aku harus pergi. Karena, percuma saja aku bertahan jika kamu tak pernah menganggap ku ada. Rasa cintaku mungkin terlalu dalam hingga aku selalu memikirkan mu tetapi tidak denganmu yang tak menganggap ku ada. Rey ... Terimakasih sudah mengisi hatiku yang rapuh. Cintamu akan tetap aku bawa pergi."
.
.
.
Hayo... mana like nya??
__ADS_1