SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
MENGUSIR


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 31 || MENGUSIR


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA...


...Terkadang hati terlalu cepat menghakimi...


...hingga rasa menyesal itu menyelimuti...


Awal yang baru dengan status baru. Menyandang status janda bukanlah hal yang diharapkan oleh setiap wanita, karena sebagian orang akan memandang sebelah mata dengan status janda. Tetapi tidak dengan Pitaloka, janda muda kaya raya. Orang malah simpatik terhadap dirinya setelah mengetahui kasus yang sebenarnya namun hembusan angin yang terlalu kencang membuat Pita gerah. Pasalnya baru dua hari menyandang status janda dirinya sudah mendengar kabar angin bahwa Pita dan Rey memiliki hubungan khusus melihat Rey yang sering berkunjung ke rumah Pita.


Begitu pandangan orang terhadap seorang janda. Siapapun yang dekat maka itulah yang akan menjadi bahan ghibahan tak terkecuali kedekatan Rey dan Pita yang ternyata sedang hangat di kompleks tempat tinggal Pita.


Seperti pagi ini, Rey sudah menjemput Pita untuk ke studio mengingat banyak pengusaha yang mengendorse Pita sebagai model mereka. Bahkan saat ini Pita juga menerima tawaran dirinya untuk menjadi model iklan di televisi. 


Rey sangat mendukung tawaran tersebut. Menurut Rey itu adalah sebuah hadiah terbaik dari Tuhan. Inilah cara Tuhan untuk menggantikan semua rasa sakit yang Pita alami.


"Kenapa, Tan?" tanya Rey heran. Pasalnya sejak naik mobil wajah Pita sedikit kusut seperti belum disetrika.


Pita mengerucutkan bibirnya sambil menghilangkan kedua tangan di depan dada.


"Aku tuh lagi sebel, Rey! Masa iya kita dighibahi sama tetangga depan rumah. Katanya kita punya hubungan khusus. Kan bikin naik tensi, Rey!"  Pita terlihat sangat kesal.


Bukannya ikut kesal, Rey malah menertawakan pengakuan Pita. Yah, memang begitulah jika hidup bertetangga. Akan ada saja yang akan menjadi topik pembicaraan, apalagi bagi mereka yang memang tidak memiliki pekerjaan.


"Sudahlah, Tan gak usah diambil hati. Kita kan emang lagi ada hubungan khusus," celoteh Rey.


Mata Pita langsung membelalak, sejak kapan dirinya punya hubungan khusus. 


"Jangan macam macam ya, Rey! Sejak kapan kita punya hubungan khusus?" protes Pita.

__ADS_1


Rey menertawakan Pita yang sudah terlihat tegang. Deru nafasnya naik turun menahan amarahnya kepada Rey.


"Maksud aku tuh hubungan fotografer dan model, Tan. Terus kata Om Ucok aku disuruh jagain tante, masa tante lupa?" 


Pita menghembuskan nafas kasarnya. Untung saja Pita tidak menganiaya tubuh Rey. 


******


Hari berganti hari, Pita sudah biasa dengan bisik bisikan tetangga yang seolah menyudutkan dirinya karena sering bersama dengan Rey. Bahkan ada yang lantang mengatakan bahwa keduanya telah menikah siri. Jika awalnya Pita diam saja maka kali ini Pita mendatangi tetangga depan rumahnya yang mulutnya sangat jabir.


"Bu Tuti… Bu. Keluar!" teriak Pita dengan sejuta amarah di dadanya.


Sang pemilik rumah mendengar teriakan Pita langsung segera membuka pintunya dan bertolak pinggang seolah sudah siap menghadapi Pita. Entah ada salah apa Pita dengan Bu Tuti yang jelas ibu satu anak ini merasa sangat membenci Pita setelah Pita menyabet gelar jandnya.


"Ada apa?" ketus Bu Tuti.


Pita segera mengutarakan keluh kesah atas ketidaknyamanan dengan bahan gosip Bu Tuti yang dianggap berlebih. Padahal selama ini Pita tidak pernah memiliki urusan dengan para tetangganya.


"Bu Tuti tolong dong di filter itu mulut jangan asal jeplak aja! Apa maksud Bu Tuti apa menyebarkan fitnah kepada orang orang?" cecar Pita


"Lha emang bener kan kalau kamu pacaran sama bronis itu?" 


Pita mengernyitkan dahinya merasa bingung dengan kata yang dimaksud oleh Bu Tuti. Bronis? Emang kue gitu? Batin Pita. Mana ada dirinya pacaran sama kue.


Ingin rasanya Pita menanyakan apa itu Bronis tatapi  Pita juga merasa gengsi. Sudah amarah meledak ledak pakai acara tidak tahu pula. Dimana harga dirinya.


"Tuh kan… Bu Tuti emang suka fitnah. Siapa yang pacaran sama bronis, Bu?" tekan Pita lagi.


"Kamu ini ya, udah jelas jelas ketahuan masih aja nyangkal! Kalau kalian gak pacaran itu apa namanya, tiap hari diantar jemput sama bronis. Inget, kamu itu baru bergelar janda sebulan yang lalu. Masa iya langsung gebet bronis. Inget umur!" 


Seketika Pita tahu apa yang dimaksud dengan bronis. Brondong manis. Bu Tuti tahu aja kalau Rey emang manis. Pita terkekeh dalam hati. Namun Pita tetep harus mencari keadilan bahwa dirinya tidak berpacaran dengan Rey. Bu Tuti harus mencabut ucapannya agar nama baiknya tidak tercoreng. Jika tetangga yang lain termakan komporan Bu Tuti, Pita yakin bu  RT pun juga akan datang ke rumah untuk menanyakan kabar angin tersebut.


"Bu Tuti sudah berbicara tidak benar dan itu Fitnah. Maka dari itu aku akan bawa Bu Tuti ke ranah hukum dengan catatan pencemaran nama baik," tandas Pita.

__ADS_1


Bu Tuti yang semula angkuh dengan tangan di pinggang kini mendadak tegang. Apa jadinya jika sampai di penjara hanya karena masalah sepele  seperti ini.


Bu Tuti pun segera memilih meminta maaf kepada Pita bahwa dirinya hanya ingin bercanda saja namun Pita yang sudah terbawa emosi tak peduli. Dengan perasaan dongkol Pita meninggalkan rumah bu Tuti. Semoga ancaman Pita saat ini membuat Bu Tuti jera akan sikapnya yang suka membicarakan suatu masalah yang tidak benar alis fitnah.


Namun, langkah Pita terhenti saat mobil Rey sudah berhenti lagi di depan rumah Pita. Pita yang masih terbawa emosi segera menghampiri Rey.


"Ngapain sih kamu setiap hari kesini? Gara gara kamu orang beranggapan bahwa kita memiliki hubungan khusus!" bentak Pita.


Rey yang awalnya ingin memberikan buket bunga pun menjadi mengurungkan niatnya. Sebenarnya kedatangan Rey kali ini untuk menyampaikan berita bahagia tentang Pita yang akan segera melakukan shooting untuk iklan perdananya di televisi namun melihat Pita seperti ini Rey mengurungkan niatnya.


"Kenapa masih diam? Pulang sana! Aku gak butuh kamu lagi teriak Pita lagi.


Tak ingin membuat Pita merasa tertekan lagi akhirnya Rey memilih untuk meninggalkan kediaman Pita. Mungkin saat ini hati Pita butuh waktu  untuk sendiri.


"Ok, aku pulang Tan. Tante baik baik di rumah ya."


Mobil Rey melenggang meninggalkan pekarangan rumah Pita meskipun penuh dengan rasa tidak rela.


Rey menatap kabar pada buket yang telah ia siapakan untuk Rey. Mungkin Rey terlalu berlebihan, harusnya Rey tak perlu melakukan semua ini. Rey sendiri tidak tahu mengapa dirinya terlalu bersemangat untuk memberikan semangat kepada Pita.


Di lain tempat, Pita sedang meredamkan emosinya. Saat ia menyadari kebodohan yang baru saja dilakukan kepada Rey, Pita baru merasa menyesal. Tidak seharusnya Pita mengusir Rey. Semua ini bukan salah Rey. Pita benar benar merutuki kecerobohannya.


Siang ini setelah Pita merasa lebih tenang, ia berangkat ke studio karena ada jadwal pemotretan. Saat tiba di studio mata Pita berkelana mencari Rey untuk meminta maaf atas sikapnya yang berlebihan tadi namun seperti Rey sedang tidak ada di studio padahal hari ini ada jadwal pemotretan.


"Yan, kemana si Rey? Kok jadi kamu yang  ngambil gambar?" tanya Pita heran saat seseorang yang dipanggil Riyan itu menggantikan pekerjaan Rey.


"Ah itu… Tadi Rey sempet mampir sebentar, trus pergi lagi," ujar Riyan.


"Kemana?" berondong Pita.


"Gak tahu juga, soalnya gak nanya tadi. Cuma tadi pesen kalau kamu kesini suruh kasihkan buket itu!" Riyan menunjukkan sebuah buket yang berada diatas  meja.


Pita semakin mengernyitkan keningnya. Apa Rey benar benar marah terhadap dirinya? Tak ingin merasa penasaran dengan kepergian Rey yang tanpa kabar, Pita segera menghubungi Rey, namun ternyata nomor Rey tidak bisa di hubungi.

__ADS_1


Pita benar benar gundah atas hatinya yang merasa sangat bersalah karena telah kasar terhadap Rey.


__ADS_2