SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
RASA PENASARAN


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 85 ||  RASA PENASARAN


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA DAN MOHON BERI DUKUNGAN AGAR NOVEL INI TIDAK HIATUS DI TENGAH JALAN.


VOTE, BERI HADIAH, LIKE DAN KOMEN. OKE!


Setelah  selesai menjalani pemeriksaan, pikiran Pita masih terbayang akan sosok yang


samar-samar ia lihat tadi.  Ingin memastikan apakah penglihatannya itu benar atau hanya halusinasi semata.  Namun, relung hatinya sangat berharap jika itu benar Rey. Rey masih hidup.


 “Yun, aku ke toilet dulu ya,” pamit  Pita lagi.


“Astaga Bu, dari tadi bocor terus?” gerutu Yuna.


Tak  menghiraukan Yuna, Pita memilih segera menuju kamar  dimana ia yakini bahwa di dalamnya ada Rey.


Sampai di depan ruangan, nampaak seorang wanita tengah duduk di ruuang tunggu dengan wajah lelahnya.


Dia Violla, seorang relawan muda yang berhasil menemukan Rey pada saat itu, tetapi melihat


wajah Rey yang hampir mirip dengan suaminya, Vio dengan egonya sendiri segea membawa Rey ke rumah sakit terdekat.


Derap langkah Pita berhenti tepat dihadapan Vio yang masih tertunduuk lesu. Namun,


seketika ia mendongak saat melihat sepasang sepatu di depannya. Sambil menyeka airmata,


Vio menatap Pita.


“Anda siapa?” tanya Vio.


“Eh, maaf jika kedatanganku membuatmu terkejut. Aku dari toiletdan tak sengaja melihatmu duduk disini sendiri. Apakah kamu sedang ada masalah?” tanya Pita.


Seketika Vio menatap pintu ruang kamar diamana saat ini sedang ada sosok yang masih


terbaring tak berdaya.

__ADS_1


“Yah, namanya juga hidup pasti akan ada saja masalah, mbak,” ujar Vio.


Pita semakin penasaran dengan ucapan Vio karena jejak airmata dan mata merahnya masih jelas ketara. Ditambah lagi Vio selalu menatap pintu ruangan kamar.


Pita mengambil duduk disaping Vio dan sejenak Pita berkenalan. Hanya ingin mencari


tahu rasa penasaran, Pita rela mendejati Vio, orang  yang sama sekali tak ia kenal. Pita pun


terpaksa harus sharing, membeberkan masalah yang sedang Ia hadapi dan dengan


bangga menunjukan perut datarnya. Berharap jika benar prasangkanya, wanita yang


bernama Vio itu punya sedikit hati kepada dirinya, syukur-syukur Vio adalah


wanita yang baik.


 Vio tersenyum tipis mendegarkan curahan hati Pita. Hampir sama dengan dirinya


namun, yang membedakan Vio tidak seang hamil. Sama –sama kehilangan orang yang


dicintai dengan usia pernikahan yang baru seujung kuku membuat Vio tersentuh


“Aku salut denganmu, Mbak. Masih semangat untuk bertahan. Aku dulu butuh waktu satu tahun untuk bisa bangkit lagi. Saat itu aku baru sadar, bahwa aku barus bisa membuat


suamiku bangga denagnku dan menjadi relawan mungkin adalah salah satu jalan


yang terbaik. Dari sini aku bisa menolong orang yang memeng sedang membutuhkan.


Dan kini Tuhan mungkin sedang menurunkan anugrahnya kepadaku.” Vio berubah


mengembangkan senyumnya saat mengingat wajah pasien yang sedang berada didalam


ruangan.


“Awalnya aku juga down, tetapi saat mengingat ada nyawa yaang sedang bersarang di perut ini,


aku putuskan untuk bangkit kembali,” sambung Pita.


Hingga di penghujung rasa penasaran, Pita menanyakan siapa sosok yang sedag di rawat

__ADS_1


didalam ruangan tersebut karena sedai tadi Vio selalu menatp kearah Pintu.


Vio masih terdiam belum bisa menjawab pertanyaan dari Pita. Antara rasa iya dan tidak.


Vio sendiri sebenernya juga dalam keadaan bimbang. Ingin melanjutkan merawat


Rey atau menyerah karena biaya ruamah sakit yang semakin membengkak karena Rey


tak kunjung sadar.


“Dia …” ucapan Vio menggantung saat Yuna datang.


“Ya ampun …npamitnya ke toilet, gak taunya ngerumpi disini?” celoteh Yuna.


“Apaan sih, Yun kecilin suara mu! Ini rumahh sakit!” tegur Pita.


Yuna yang menyadari sikapnya yang berlebihan segera meminta maaf dan mengajak Pita untuk


segera pulang namun, Pita menolak.


“Aku ingin cari angin sgar dulu, Yun. Siapa tahu bisa bisa bertemu dengan Rey,” gumam


Pita.


saat itu juga mata Vio melebar saat mendengar nama yang disebutkan oleh Pita. Tapi … Vio


segera menepis jauh. Mustahlil yang dimaksud oleh  Pita adalah Reyhan, seseorang yang telah ia selamtakan. Nama Rey itu bukan hanya utuk Reyhan saja.


“Oh iya, Vio aku jalan duluan ya,” pamit Pita.


Saat Pita telah berhenti, Vio mencegah kepergian Pita.


“Tunggu!”


Pita da Yuna seketika menoleh.


“Ada apa?”


-BERSAMBUNG-

__ADS_1


__ADS_2