SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
BUKAN CINTA SATU MALAM


__ADS_3

SEGENGGAM LUKA


BAB 53 || BUKAN CINTA SATU MALAM


~TEH IJO~


SELAMAT MEMBACA



Tidak akan ada yang tahu dengan nasib seseorang di kemudian hari meskipun mereka selalu dilimpahkan kesehatan dan kecantikan yang luar biasa. Terkadang kita akan lupa atas nikmat sederhana yang Tuhan berikan hingga kadang harus salah jalan untuk Menggapai apa yang kita inginkan.


Jihan Almira, seorang sahabat yang paling Pita sayangi ternyata berhati busuk, sanggup merebut suaminya hanya demi sebuah obsesi untuk memilikinya. Rela menempuh jalan untuk menutup mata Danar tetapi, seberapa jauh dia melangkah Tuhan pasti akan tahu, sebab Dia tidak pernah tidur. 


Setelah mendapat talak dari Danar, Jihan kehilangan jejak lelaki itu, solah ditelan  bumi yang tak tahu dimana rimbanya saat ini. Reza sang kekasih terus saja meneror Jihan agar mau menikah dengannya demi anak yang sedang ia kandungan tetapi, Jihan selalu menolak dengan keras.


Semakin hari tubuh Jihan semakin terlihat lebih kurus dengan perut buncitnya. Aura kecantikannya sudah tak terlihat lagi, entah karena efek dari kehamilannya atau Jihan yang sedang frustasi.


Saat ini, hal yang tak ingin Jihan lakukan adalah melihat pantulan dirinya di dalam kaca karena menyadari wajahnya yang terlihat menua lebih awal dengan sedikit kerutan di wajahnya.


"Apa apaan ini?" Tanpa sengaja Jihan melihat dirinya di kaca rias saat hendak menyisir rambutnya.


"Mengapa wajahku semakin hari semakin keriput?" gumamnya lagi.


Jihan mengepalkan tangan dengan perasaan tidak terima. "Arrgg … " Jihan membuang semua peralatan make up yang ada di depannya. Mengeluarkan emosinya, hingga Jihan memutuskan berlari dari kamar dengan berurai air mata. Ia tidak menghiraukan lagi dengan perutnya yang terasa melilit, yang ia inginkan pergi hanya menjauh karena wajahnya yang dianggap tak sempurna lagi.


"Ini tidak mungkin." Jihan berlari kecil meninggalkan pekarangan rumahnya. Kakinya terus berlari tanpa arah dan tujuan. Begitu pula dengan rasa sakit yang kian melilit hebat membuat Jihan duduk sebentar di pinggiran jalan. Lala lalang kendaraan hilir mudik bahkan tak segan diantara pengemudi melemparkan koin ke arah Jihan yang dianggap sebagai seorang pengemis.


"Woi … aku bukan pengemis!" teriak Jihan. Apakah sehina itu dirinya dimata semua orang yang lewat?


"Arrgg … " Lagi lagi Jihan menjerit saat rasa sakit itu mengguncangkan perutnya.


"Sakit …" teriaknya lagi.


Keadaan Jihan saat ini menjadi pusat perhatian dari pengendara jalan. Mereka mendekat tetapi takut akan menjamah Jihan karena penampilan Jihan bak terlihat seperti ODJG karena rambutnya yang amburadul dan wajahnya yang kusam dan kusut terlebih sangat terlihat tua. Banyak yang mengira Jihan adalah salah satu ODJG yang menjadi korban pemerkosaan.

__ADS_1


Ditengah tengah kerumunan, Reza yang hendak ke rumah Jihan menghentikan langkahnya karena merasa penasaran dengan kerumunan yang sedang terjadi.


Reza ikut prihatin atas apa yang tenang dialami oleh wanita tersebut karena dirinya mengingat Jihan yang tengah mengandung anaknya. 


Rintihan kecil dan suara yang menggema di daun telinga Reza seperti tak asing baginya. Berharap itu hanya sebuah kebetulan saja. Mana mungkin wanita tua ini adalah Jihan.


Reza memberanikan diri membelah kerumunan demi ingin memastikan lebih jelas lagi. Dengan seksama mata Reza memperhatikan wanita tersebut dengan jeli. 


Tidak mungkin ini Jihan.


Namun, mata Reza terpaku pada salah satu cincin yang melingkar di jari manis wanita tersebut. Cincin yang sama dengan milik Jihan. Tidak mungkin Reza salah mengenali sebab, Reza sudah hafal betul itu memang cincin milik Jihan.


"Jihan." 


"Arrgg … Sakit." Rintihan yang selalu diulang tetapi tak ada satupun yang mau menolong.


"Kamu jihan?" tanya Reza.


Sambil menahan rasa sakitnya Jihan berkata, "Iya aku Jihan, siapapun kamu tolong aku."


Katakanlah, ini bukan cinta satu malam dimana sepasang insan yang menghabiskan malam panasnya. Karena nyatanya mereka tidak kepanasan. Hawa dingin Puncak Pinus membuat Pita hampir mati menggigil. Untung ada Rey yang berhasil menghangatkan tubuh Pita.


Pita masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana dia meminta Rey untuk memeluknya lebih erat lagi.  Pita hanya bisa merutuki hal konyol tersebut setelah sampai di rumahnya.


"Bodoh … Bodoh …" Pita menjitak kepalanya sendiri karena merasa sangat malu. Padahal Pita ingat dengan jelas bahwa tak boleh ada sentuhan fisik di antara keduanya dan memasang guling sebagai pembatas keduanya.


Berbeda dengan Pita yang sibuk merutuki kebodohannya, Rey merasa sangat bahagia bisa memeluk wanita yang sangat ia cintai dalam waktu yang cukup lama meski harus menahan sesak di area sensitifnya.


Katakan saja itu bukan cinta satu malam tapi kenangan satu malam.


Rey mengulum senyum berharap semua ini cepat berlalu dan bisa segera menikah Pita karena nyatanya tidur berdua itu lebih enak dan pelukan Pita mampu membangunkan sesuatu yang memang sudah tidak sabar lagi untuk menyapa Pita.


Dua hari berlalu, tubuh Pita sudah terlihat lebih fresh daripada hari kemarin setelah pulang dari puncak yang sedikit berat. Kali ini  Pita juga  sudah siap untuk berangkat ke Studio karena tak sabar untuk bertemu dengan Rey. Rey yang tidak bisa dihubungi membuat Pita sangat khawatir, apakah Rey sedang sakit?


"Yun,  aku berangkat!" pamit Pita sambil berteriak karena Yuna yang sedang berada di belakang. 

__ADS_1


Seperti biasa mobil pesanan sudah sudah standby di depan rumah Pita. Pita yang sedikit gengsi mengendarai sepeda motor lebih memilih menggunakan jasa taksi online. Bukan tidak bisa membeli mobil tetapi Pita memang tidak bisa mengendarainya. Masalah sopir bisa saja Pita mencari supir pribadi untuk dirinya.


Sesampainya di  Studio, Pita segera mencari keberadaan Rey tetapi nyatanya Rey belum datang. Pita pun memilih menunggu Rey sambil berganti kostum sesuai dengan jadwal pemotretan hari ini.


Namun, nyatanya hingga Pita siap dan hendak memulai pemotretan Rey belum datang. Yang lebih mengherankan lagi fotografer yang akan mengambil gambarnya adalah Riyan. Lalu kemana perginya Rey. Apakah dia benar benar sakit? Pita semakin tidak tenang untuk melakukan pemotretan pagi ini.


"Yan, si Rey kemana sih, kok kamu kameramennya?" tanya Pita penuh rasa penasaran.


"Kayak gak tau anak itu aja, Pit? Emangnya selama ini dia bilang kalau libur? Gak kan?" Riyan menjawab asal karena  Riyan memang tidak tahu keberadaan Rey saat ini.


"Iya juga, sih." Pita menyetujui ucapan Riyan.


Ah, biarkan saja nanti setelah selesai pemotretan aku ke apartemennya ajalah. Mungkin kurang enak badan. Kasian banget sih kamu Rey.


.


.


.


.


Semoga kamu baik baik aja ya Rey, biar tante gak kepikiran sama kamu.


NOVEL INI BUTUH DUKUNGAN KALIAN, JADI MOHON DUKUNGANNYA YA 🙏🏻


FAVORIT Kan!


LIKE


KOMEN


BERI HADIAH


VOTE

__ADS_1


 


__ADS_2