
SEGENGGAM LUKA
BAB 61 || MENIKAH?
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA LIKE 👍🏻
Rey terbangun, kepalanya masih terasa sedikit pusing tetapi sudah terasa lebih ringan. Merasakan sesuatu di kening, Re segera meraba. "Kain," gumam Rey.
Berarti apa yang ia lihat dan rasakan tadi bukanlah mimpi atau halusinasi semata.
Rey mengerjapkan saat netranya menangkap sosok Pita yang tertidur di samping. Wanita yang telah ia tunggu akhirnya datang sendiri kepada dirinya.
Rey mengulum senyum memandangi wajah Pita yang telah lama ia rindukan.
Wajah Rey mendekat hingga hembusan nafas Pita bisa ia rasakan. Perlahan Rey memejamkan mata tetapi Pita yang merasa terusik segera membuka mata dan segera mendorong tubuh Rey hingga Rey terjungkal kembali ke tempat tidur.
Rey memejamkan matanya kembali merasa malu.
Pita menatap tajam kearah Rey. "Gak usah merem! Bangun," ketus Pita.
Baru juga dua bulan tak bertemu, Rey merasa Pita semakin galak tapi ngangenin.
Rey membuka mata lalu melirik ke arah Pita yang tengah menatap dirinya.
"Tan, sebenarnya Tante kenapa sih? Kenapa tadi malam gak mau nemuin aku? Aku 'kan kangen sama Tante. Emang Tante gak ada kangen sama aku?" Wajah Rey mendadak murung saat mengingat kejadian tadi malam, tapi Rey harus segera menyelesaikan masalah ini agar tidak larut.
Pita yang awalnya melupakan sejenak egonya mendadak langsung teringat kembali. "Gak," ketus Pita.
"Kenapa? Tante udah gak sayang lagi sama aku?" tanya Rey iba.
"Gak. Udah luntur." Pita hanya asal menjawab saja.
Rey menahan nafas untuk sejenak. Berharap ini tidak serius dan hanya prank semata. Tidak mungkin Pita tidak merindukan dirinya, nyatanya saja dia berada disini untuk mengurusnya tadi.
"Tante paling bisa beranda," kekeh Rey.
"Aku serius Rey! Aku sama sekali tidak merindukanmu dan namamu telat aku hapus saat kamu pergi tanpa kabar berita. Dan aku kesini hanya ingin mengatakan, kamu tak perlu lagi untuk menemui ku lagi. Karena rasa untukmu sudah berlalu seiring menghilangnya dirimu," jelas Pita
Rey masih terdiam tak mengerti akan ucapannya. Jika memang benar begitu, percuma saja Rey berjuang mati matian hanya demi bisa memenuhi janjinya kepada ayah Pita.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?" tanya Rey sedikit gugup tak percaya.
Pita yang sudah tidak ingin lagi berbasa-basi basi dan ingin segera meninggalkan Rey akhirnya mengeluarkan unek-uneknya dan mengatakan Rey terlalu mempermainkan perasaannya.
"Asal kamu tahu Rey, aku mencari mu kemana mana nyatanya kau pergi begitu saja tanpa pamit, bahkan tanpa kabar berita sedikit untukku. Kamu anggap aku apa? Aku punya perasaan dan harusnya kamu tuh peka dikit. Setidaknya kamu kasih kabar ke aku, bukan ngilang gak jelas dan tiba tiba datang lagi begitu saja."
Rey menunduk lesu. Semua memang salah dirinya tidak memberikan kabar berita sedikitpun kepada Pita. Bukan tidak mau memberi kabar tetapi Rey tidak ingin menambah beban pikiran Pita jika tau Rey akan memperjuangkan dirinya.
Bukan angka yang sedikit yang harus ia cari, bahkan jika di menggadaikan Studionya pun juga belum tentu cukup.
"Iya maaf aku salah. Tapi aku sekarang udah kembali kok, Tan."
"Aku gak butuh kamu. Semua lelaki sama aja. Bisanya nyakitin hati perempuan, termasuk kamu!" Pita bangkit dengan sejuta rasa kesalnya. Hanya permintaan maaf saja tanpa ingin menjelaskan kemana ia pergi selama ini. Memang menjengkelkan. Atau jangan jangan Rey telah menikah secara diam diam di belakangnya seperti saat itu yang menghilangkan tanpa jejak lalu kembali dengan tunanganya?
"Tunggu … jangan bilang kamu udah nikah diam diam dibelakangku makanya kamu gak kasih kabar. Iya kan?" tuduh Pita.
Rey terbelalak dengan tuduhan Pita. Dengan siapa ia akan menikah jika sebenarnya kepergiannya hanya untuk memperjuangkan cintanya.
Rey menggeleng pelan dan berkata, "Tidak, aku tidak menikah diam diam kok
Tapi kalau tante mau nikah diam diam ayok!" Disaat suasana sedang serius pun Rey masih bisa untuk bercanda.
"Tan, kenapa Tante makin garang sih? Iya maaf aku salah udah pergi tanpa kabar. Aku minta maaf."
"Gak perlu! Dah ah, sepertinya aku salah datang kesini. Harusnya aku tadi gak kesini. Tau gak, gara gara kamu, aku sampai meninggalkan meeting yang sangat penting."
Rey hanya bisa terdiam. Sebegitu besarkah kesalahan yang telah Rey tinggalkan. Rey hanya mampu menatap punggung Pita tanpa ingin sedikitpun mencegah kepergiannya. Sudahlah mungkin saat ini Pita butuh waktu untuk berpikir lebih tenang. Sejujurnya hati Rey sangat sakit saat Pita mengatakan bahwa ternyata Pita tidak merindukan dirinya. Tidak! Rey tidak boleh bersikap seperti anak anak lagi, Rey harus mengalah dan membuang egonya. Saat hendak mencegah Pita, dering ponselnya berdering membuat Rey maupun Pita sama sama menoleh ke nakas, dimana ponsel itu berada.
Jujur jantung Pita berdebar lebih kuat. Perasaannya menduga duga, apakah itu panggilan dari perempuan lain? Apakah benar kepergian Rey tanpa kabar itu dia sedang menikah. Ah… pikiran Pita semakin kacau.
Rey segera mengangkat telepon dan mengatakan akan segera kesana padahal Rey belum juga sembuh total.
Pita menghentakkan kaki dengan kesal. Saat ini ia yakin bahwa Rey telah menikah secara diam diam.
"Tan! Tante tunggu!" teriak Rey.
Pita tak menghiraukan dan langsung berlari keluar dengan menahan genangan air mata yang hendak tumpah.
Tangan Rey segera menarik tangan Pita hingga Pita hingga tubuh Pita berbalik dan jatuh kedalam dada bidang milik Rey. Tak perlu waktu lama, Rey segera memeluk erat wanita yang sangat ia rindukan meskipun ucapannya yang melantuntur tidak jelas.
Pita mencoba meronta tetapi Rey segera membisikan sebuah kata, "Please, Tan. Biarkan untuk sebentar. Aku sangat merindukan Tante."
__ADS_1
Tangan Pita melemas. Bohong jika ia juga tidak merindukan Rey.
Semakin erat pelukan semakin sesak juga nafas Pita hingga Pita berkata, "Rey sesak nafasku."
Rey yang menyadari segera mengendurkan pelukannya. "Maaf, Tan."
Kedua insan yang sama sama gengsi untuk mengakui sebuah perasaan hanya saling berdiam diri. Ah, ralat bukan keduanya tapi hanya Pita saja karena nyatanya sedari tadi Rey telah mengutarakan isi hatinya kepada Pita tetapi tak dihiraukan, malah Rey dituduh menikah secara diam diam. Jika Rey bisa melakukan hal itu, maka ia sudah lama akan menikahi Pita secara diam diam tanpa harus mencari uang sinamot.
"Tan, jangan marah lagi ya? Please maafkan kekhilafanku."
Pita masih diam.
"Oke kalau Tante masih marah, nanti setelah menyelesaikan urusanku, aku akan memberikan sebuah kejutan terindah untuk tante." Rey menyunggingkan senyum lebarnya.
"Bilang aja kamu mau nemuin istri kamu kan?" todong Pita.
Rey tak habis pikir dengan pemikiran Pita yang sempit dan bisa bisanya menuduh dirinya telah menikah. Rey menatap Pita dengan tatapan menusuk, selangkah demi ************ Rey membuat Pita semakin gugup karena langkahnya yang terus mendekat. Tak ada yang bisa lakukan lagi selain berjalan mundur dengan gerakan pelan juga. "Rey kamu mau apa?" gugup Pita.
"Sudah aku katakan aku belum menikah. Jika pun aku menikah itu hanya dengan Tante. Tapi mengapa dari tadi tante selalu memancing kesabaranku?"
"Rey, please kamu mau apa?"
"Mau membuktikan kepada Tante, kalau aku belum menikah biar tante percaya. Gimana tante mau kan jadi bahan percobaan?"
"Jangan ngaco kamu Rey. Aku teriak kalau kamu berani macam macam!" ancam Pita.
Reh tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Pita yang sudah merah padam. Pikiran Pita yang sudah dewasa ternyata lebih cepat menangkap apa yang akan dilakukan seseorang jika sudah dalam keadaan seperti ini. Namun, Rey tidak pernah akan berani menyentuh Pita terlalu dalam.
"Muka Tante lucu," kekeh Pita.
Menyadari sedang dikerjai oleh Rey, Pita segera mendorong tubuh Rey yang terlalu tegap, tapi bukan Rey yang jatuh, malah dirinya yang mental jatuh ke tempat tidur. Beruntung saja itu kasur yang terasa empuk jadi tidak membuat dirinya cidera berat.
...🍃 BERSAMBUNG 🍃...
HALO HALO ... SAATNYA AUTHOR MAU REKOMEND NOVEL SERU BUAT KALIAN. NOVEL DARI TEMEN AUTHOR YANG HARUS KALIAN BACA SELAGI NUNGGU NOVEL INI UP.
JUDUL NOVEL : TIGER WU
AUTHOR : RIA AISYAH
__ADS_1