
SEGENGGAM LUKA
BAB 70 || PINGITAN
~TEh IJO
SELAMAT MEMBACA MAAF ❤
SENGAJA UP CEPAT PENGEN NODONG VOTE DARI KALIAN 🔫🔫
Dua keluarga saling bertukar cerita untuk mendekatkan diri sebelum menjadi menjadi keluarga besar. Apalagi ayah Pita yang heboh menceritakan keadaan kampungnya saat musim durian tiba. Semua orang pasti akan berbondong bondong ke kebun demi menunggu durian jatuh termasuk ayah Pita, tetapi hanya hitungan jari saja ia mengikuti kelakuan konyol saudaranya.
Abdulah yang sering mudik ke Vietnam pun juga sangat heboh menceritakan kondisi kampung kampung di sana yang sangat unik unik.
Nadine yang baru saja mengetahui bahwa calon besannya adalah orang Vietnam merasa sangat heboh. Bukan seumur umur Nadine belum pernah keluar Negeri meskipun hanya ke Malaysia ataupun Singapura.
"Wah … enak dong ya, bisa keluar Negeri tiap bulan," kagum Nadine.
"Apanya yang enak kalau ibunya Rey mabuk terus di perjalanan," sahut ayah Rey.
"Nah … pas pula itu. Sama kek mak-nya Butet, mabuk di perjalanan bikin pening kelapaku," sambung ayah Pita.
Disaat kedua belah pihak orang tua saling bertukar cerita lain halnya dengan sepasang anak manusia yang sedang berbunga bunga karena lampu hijau sudah menyala dengan sempurna hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk segera mendengar kata sah dari para saksi.
"Sayang, aku seneng banget malam ini. Ternyata orang tua kita bisa langsung akrab." Rey sengaja mengajak Pita untuk keluar dari gedung restoran untuk mencari privasi sendiri. Seolah mereka terlihat seperti tak menghargai kedua orang tuanya dengan cara meninggalkan mereka.
"Oh, kamu senang ya? Jadi, bisa jelaskan mengapa tadi siang seolah cuek?" sindir Pita.
__ADS_1
Rey yang menyadari kelemahannya yang mudah terbawa suasana dan baper melihat Pita berdekatan dengan laki-laki lain terutama mantan suami yang menurut Rey masih menyimpan perasaan kepada Pita.
"Iya maaf, aku salah."
Pita malah mengernyit. "Salah?" beonya.
"Aku kesal melihat kamu masih perhatian kepada mantan suami kamu," lirih Rey.
Pita mendongak menatap manik mata Rey yang hitam pekat. Pita tahu jika kekasih hatinya yang masih labil cemburunya akut tinggi.
"Jadi kamu cemburu?"
Pita memberanikan diri untuk menyentuh tangan Rey meski harus menahan desiran yang seperti menyengat seluruh tubuhnya.
"Rey, lihat aku! Cintaku sekarang hanya untuk kamu seorang. Aku hanya kasihan kepada bang Danar, tak lebih dari itu. Masa kamu gak percaya sama aku?"
Rey meraih tubuh Pita agar masuk kedalam pelukannya. Mendekap dan menghirup aroma shampo yang menusuk hidung hingga menembus syaratnya.
Tangan Pita retulur untuk memeluk pinggang Rey, menyalurkan rasa kesalnya yang sedari tadi sudah menggebu. Sejak tadi ingin rasanya memakai tetapi setelah menatap Rey, mendadak semua amarah itu hilang, apalagi sudah berada dalam dekapan lelaki ini.
.
.
.
Jika lampu hijau sudah menyala, maka tinggal persiapan untuk melaju. Kali ini atas permintaan orang tua Pita dan Rey akan mempercepat pernikahan tanpa ada lamaran, sebab lamaran Rey malam itu sudah dianggap sah oleh Pita. Apalagi keluarga Pita yang sadar akan usia anaknya yang sudah tidak muda lagi. Tidak akan baik jika terus mengulur waktu.
__ADS_1
Undangan sudah disebar. Gedung juga sudah di pesan. Bahkan untuk catering dan juga gaun pengantin sudah dipersiapkan oleh kedua wanita yang bergelar ibu. Ibunya dan juga ibu Rey sangat antusias menyambut hari pernikahan anaknya.
Pernikahan akan segera dilakukan. Mengingat Rey masih menuruni darah jawa, maka kedua calon pengantin harus melakukan sebuah tradisi pingitan, alias tidak boleh bertemu ataupun berkomunikasi selama satu minggu kedepan.
Rey mengeluh karena pingitan tersebut hanya akan membuat pikirannya tidak tenang.
"Ibu, kenapa Rey gak boleh ketemu Pita? Kan Rey kangen," keluh Rey setelah tiga hari menjalani proses pingitan. Tak ada kabar dari Pita hanya membuatnya semakin gila.
"Kamu ini nurut aja kenapa sih? Tinggal beberapa hari lagi kok. Nanti sekali ketemu udah sah dan usah bisa diraba raba," goda ibu Rey.
Rey terdiam sejenak dan membenarkan ucapan ibunya. Pikirannya melambung tinggi membayangkan malam indah yang akan Rey lewati bersama Pita.
"Gak ada kortingan gitu Bu, biar cepet hari H?" tanya Rey semangat.
"Kamu pikir jualan baju, pakai di kortingan segala. Sudah nikmati saja, toh ujungnya kan bisa puas," pungkas ibunya kemudian meninggalkan Rey di dalam kamarnya.
Di lain sisi Pita juga merasakan hal yang sama. Sangat merindukan Rey. Meskipun Pita telah pernah menikah tetapi saat itu tak ada acara pingitan seperti ini. Ingin rasanya Pita menelepon Rey untuk sekedar menanyakan bagaimana kabar Rey tetapi ponsel berada di tangan ibunya.
BENTAR LAGI KITA KONDANGAN MUMPUNG BELUM BULAN PUASA 😀
SELAMAT HARI SENIN JANGAN LUPA LIKE DAN TABUR HADIAH. KALAU PUNYA VOTE JANGAN LUPA VOTE NOVEL INI 🔫🔫
NAH, SELAGI MENUNGGU UP SELANJUTNYA MAMPIR DULU DI NOVEL KARYA AUTHOR DEE HWANG YANG CERITANYA JUGA LEBIH SERU.
JUDUL NOVEL ; TERJETAT RANJANG DUA MAFIA
AUTHOR : DEE HWANG
__ADS_1