SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
PERCAYA ATAU TIDAK


__ADS_3

Meskipun kehilangan sebagian ingatannya, tetapi saat memasuki sebuah kamar Rey merasa tidak asing karena Rey mengingat bahwa itu adalah apartemennya.


"Kamu tinggal disini juga? Eh, maksudku kita?" tanya Rey.


"Iya."


Setelah Rey mengitari seluruh ruangan akhirnya Rey memutuskan untuk menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang dimana Pita duduk bersama Yuna.


Sambil mengacak rambutnya Rey berkata, "Mengapa aku sama sekali tak mengingatmu? Apakah kita sudah lama menikah?"


Pita tersenyum tipis. "Belum, mungkin baru sekitar 2 atau tiga bulanan saja. Aku juga lupa." Pita berpura-pura.


"Kamu juga lupa ingatan?"


Berhubung Rey sudah kembali pulang maka Yuna pun berniat untuk pulang, mengurus rumah dan majikan baru yang baru saja pulang dari berobat. Saat ini Danar juga dalam masa pemulihan. Sebenarnya satu bulan itu belum cukup untuk menyembuhkan penyakitnya Danar, tetapi saat mendengar keadaan Pita, Danar lebih memilih menunda pengobatan lanjutannya.


Suara bel rumah berbunyi, menandakan ada tamu. Dengan sigap Yuna berdiri untuk membuka pintu.


"Pak Danar," gumam Yuna.


"Kenapa liatin aku seperti itu? Dimana Pita?" tanya Danar.


"Bu Pita ada di dalam bersama mas Rey."


Seketika Danar membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar nama Rey. Ah, ternyata dia terlambat.


"Siapa Yun?" Pita sedikit berteriak.


"Pak Danar, Bu." Yuna juga berteriak.


Danar melihat Rey yang duduk berjauhan dengan Pita. Harapan seketika hancur saat tiba-tiba keberadaan Rey ditemukan meskipun saat ini dia kehilangan sebagian ingatannya. Anehnya, Rey bisa mengenali Tua, tapi dengan Pita. Wanita yang berstatus istrinya sendiri malah tak ada dalam memorinya. Miris bukan?


"Ada apa, Bang? Mau jemput Yuna, ya? Ya udah bawa aja dia pulang. Aku bisa kok ngurus Rey sendiri."


"Bukan begitu, Pit. Aku kesini …."

__ADS_1


"Ya udah ayo, Pak. Bu Pita sedang ingin berdua. Mending kita pulang. Anda harus banyak beristirahat." Yuna menarik paksa tangan Danar yang belum ingin pulang. Ada ya, asisten rumah tangga seperti Yuna.


Setelah kepergian Yuna, Pita mulai mendekati Rey. Tetapi ia tidak ingin memaksakan Rey untuk mengingat tentang dirinya. Lambat laun pasti Rey bisa mengingat dirinya, Pita yakin itu.


"Kamu istirahat dulu aja di kamar," ucap Pita.


Tak ada kata yang keluar, tapi Rey hanya mengangguk pelan.


Sampai di kamar Rey segera naik ke tempat tidur dengan bantuan Pita. Tanpa sengaja matanya melihat sebuah bingkai di atas balas. Tangan Rey terulur mengambilnya.


"Jadi kita beneran udah nikah?" Rey mengernyit.


Pita mengangguk. "Iya. Ngapain juga aku bohong."


Rey kembali meletakkan bingkai kembali ke tempatnya kemudian menatap Pita dengan tajam.


"Maaf … maafkan aku yang tak mengingat dirimu," lirih Rey.


"Gak papa. Kamu udah kembali dan percaya kepadaku saja aku sudah bahagia."


*


*


*


Ingin membuka kamar mandi, tetapi Rey ragu akhirnya memilih menunggu Pita keluar saja.


"Kamu sakit?"


Rey segera menodong saat Pita baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mungkin hanya masuk angin."


"Aku ambilkan air hangat bentar ya."

__ADS_1


"Gak usah, Rey. Aku bisa sendiri. Lagian kakimu juga masih sakit untuk berjalan 'kan?" tolak Pita.


"Kamu meragukan ku?"


Pita membuang kasar nafasnya. Meskipun sedang hilang ingatan tapi tak merubah sifat Rey. Dengan pasrah Pita menuruti keinginan Rey. Setidaknya ia bersyukur Rey masih peduli kepada dirinya.


Sampai di dapur, Rey segera mengambilnya gelas namun, mata Rey terhenti pada sebuah kotak yang berada di dekat dispenser dengan tatapan jeli.


"Dia sedang hamil?" Rey sangat terkejut saat melihat kotak susu milik Pita.


Dengan tangan gemetar, Rey mengaduk susu kedalam gelas. Awalnya hanya ingin air hangat saja, tetapi ketika melihat susu dan yakin jika Pita tengah hamil, Rey memilih menyeduh susu tersebut.


Pita yang berada di balkon merasa terkejut atas kedatangan Rey tanpa sepengetahuan dirinya. Di tambah lagi saat Rey sedang menyodorkan segelas susu hangat yang biasa ia minum setiap pagi.


"Kamu sedang hamil?" tanya Rey.


Pita tidak jadi meneguk susunya. "Iya."


"Jadi itu anakku?"


"Iya, kalau kamu mengakuinya. Kalau tidak berarti itu hanya anakku."


Entah mengapa jawab Pita mampu menusuk hati Rey hingga ke relung terdalamnya. Disaat seperti ini dia harus kehilangan sebagian memorinya.


"Memangnya dengan siapa kamu membuat. Jangan bilang kamu buat dengan laki-laki lain lalu kamu mengaku bahwa itu anakku."


Pita menatap Rey dengan tajam. Jika sedang tidak hilang ingatan mungkin sudah akan terjadi perang dunia ke tiga lantaran ucapan yang tidak masuk akal dari Rey.


"Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak." Pita berlalu dengan rasa sesak di dada. Baru saja bertemu dengan Rey namun, ia harus dihadapkan dengan kenyataan Rey hilang ingatan. Seakan nasib baik hanya berlalu begitu saja.


🌹 Bersambung 🌹


Halo-halo Teh ijo datang lagi 😊 Kali ini mau kasih rekomendasi cerita seru dari temen teh ijo, mampir ya.


JUDUL NOVEL : BEGITU LAH TAKDIR

__ADS_1


AUTHOR : YUTHIKA SARAH



__ADS_2