SEGENGGAM LUKA

SEGENGGAM LUKA
KENYATAANNYA


__ADS_3

"Ada apa?"


Mulut Vio mengatup antara ingin bersuara dan bungkam, tetapi hatinya sangat tergerak untuk mengatakan tentang seseorang yang telah ia selamatkan, mungkin barangkali Reyhan yang dimaksud oleh Pita adalah Rey. Karena cerita Pita sama persis dengan apa yang sedang menimpa Reyhan. Vio sendiri mengetahui nama Reyhan dari kartu identitas milik Rey yang berada di dalam dompetnya. 


"Sebenarnya … aku butuh bantuan kalian," jeda Vio.


"Apa itu?"


"Katakan-lah aku egois pada saat itu, ingin memiliki sesuatu yang bukan milikku. 


Tapi … selama satu bulan tak ada perubahan apapun membuatku berpikir kembali, darimana aku bisa mendapatkan biaya rumah sakit ini. Tolong bantu aku menemukan keluarga seseorang yang sedang koma di ruangan ini."


Pita dan Yuna saling bersitatap. Berharap mereka sedang tidak ditipu. 


"Maksud kamu? Kamu ngerawat orang yang tidak kamu kenal?" Yuna memastikan.

__ADS_1


Vio mengangguk. "Iya. Aku pikir dia akan segera sadar dan tak merepotkanku, nyatanya selama satu bulan dia tak kunjung sadar," keluh Vio.


Kali ini Yuna bisa mempercayai saat Vio mengajak untuk masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan Pita yang masih ragu untuk masuk karena detak jantungnya semakin tak karuan. Rasa mual bercampur sesak tiba-tiba saja datang kembali tetapi Pita sekilas mengingat lelaki yang tengah terbaring di di dalam. 


Yuna harus menahan nafas dengan mata melebar saat melihat siapa yang sedang terbaring dengan balutan luka di kepalanya dan lengannya. Serasa tak percaya tapi itu nyata.


"Kamu menemukan dia dimana? Kenapa kamu gak memberi tahu bahwa kamu menyelamatkan orang ini?" Mendadak Yuna histeris membuat Vio tak mengerti dan merasa ketakutan.


Pita yang mendengar suara tinggi dari Yuna segera masuk ke dalam, ingin memastikan apa yang sedang terjadi.


Sama dengan Yuna sebelumnya, mata Pita membuka dengan mulut ternganga.


"Rey," gumam Pita.


Pita membuka matanya sambil menyebut nama Rey. Di hadapannya sudah ada Yuna dan Vio yang dengan sigap mendampingi Pita. 

__ADS_1


Kondisi Pita yang sedang hamil muda membuat kesehatan tak seperti biasanya. Mudah lelah dan akan pingsan jika mengalami shock yang mendadak. 


Pita mengedarkan pandangannya, mencari sosok Rey. Apakah dirinya hanya bermimpi saja bisa melihat wajah Rey yang sangat di rindukan selama ini.


"Bu …," panggil Yuna.


"Ibu tenang dulu, mas Rey ternyata masih hidup," lanjut Yuna lagi 


Pita langsung menatap Yuna dengan tajam. "Apa  yang kamu katakan, Yuna?" tegur Pita.


Saat Pita pingsan di ruangan tadi, Vio menceritakan kejadian sebenarnya yang tengah menimpa laki-laki yang sedang tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit ini. Jujur jika hingga satu bulan lebih tak ada perubahan dari lelaki itu, Vio tidak tahu lagi akan membayar biaya rumah sakit dengan apa lagi, untuk makan saja Vio sangat kesulitan karena tak ada sanak saudara disini.


"Coba ulangi sekali lagi! Kami jangan bercanda!" 


"Ya ampun, Bu. Saya serius lho, dan tadi yang ibu lihat itu benar-benar mas Rey," ujar Yuna.

__ADS_1


Pita menatap Vio, berharap Vio menjelaskan apa yang sedang terjadi. Dan mengapa Rey bisa dalam keadaan seperti ini. Ingin menyalahkan Vio tetapi itu sungguh keterlaluan karena Vio telah menemukan Rey. Tapi, yang sangat Pita sayangkan mengapa Vio tak melaporkan Rey ke tim SAR dan pihak yang menangani kasus kecelakaan pesawat saat itu.


"Maaf, aku benar-benar tidak tahu jika dia adalah orang yang kamu maksud," sesal Vio. 


__ADS_2