
SEGENGGAM LUKA
BAB 68 || MENJEMPUT CALON MERTUA
~TEH IJO~
SELAMAT MEMBACA ...
Sebuah penyesalan mengiringi langkah kepergian Danar siang ini. Meskipun ia diantar oleh Pita, tetapi relung hati kecilnya meronta tak ingin berpisah dan tak ingin pergi jauh. Namun, inilah yang harus Danar hadapi demi kesembuhannya.
"Aku titip Pita," ujar Danar.
Rey yang berada di samping Pita pun berkata, "Tanpa kamu kasih tahu, aku pasti bisa menjaga calon istriku dengan baik. Iya kan sayang?" Rey berucap sangat manja.
Danar mengangguk pelan. Memang sudah semestinya Rey akan menjaga mantan istrinya yang sebentar lagi akan menjadi istri Rey meski dalam hati Danar memberontak tidak rela.
"Hati hati, Bang. Semoga bang Danar cepat pulih," pesan Pita.
"Pasti aku akan segera kembali." Dan aku akan merebut cintaku lagi.
Sepeninggal Danar, Rey mendiamkan Pita tanpa alasan yang jelas. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada suara dari mulut Rey yang keluar membuat Pita merasa heran lalu mengingat- ingat lagi salah apa yang telah diperbuat. Saking hafalnya, Pita dengan di sikap Rey yang tiba tiba kan mendiamkan dirinya.
"Kenapa lagi sih?" Pita mencoba membuka percakapan.
"Memangnya kenapa?" tanya Rey balik.
Pita menggerutu. Ditanya kok malah balik nanya. Pita membuang nafas kasarnya.
"Aku dengar perusahaanmu akan mengeluarkan kosmetik baru yang akan launching bulan ini? Siapa modelnya?" tanya Pita antusias.
Tak ada perubahan dari wajah Rey yang datar tanpa ekspresi, pandangannya lurus kedepan. Mengabaikan setiap celotehan yang keluar dari mulut Pita. Rey hanya melirik sekilas saja. Hatinya masih kesal karena Pita masih perhatian kepada Danar yang harusnya tak perlu ditolong mengingat sudah menyakiti hatinya.
Mobil berhenti di sebuah Cafe milik Pita yang sedang merenovasi bagian depannya karena pengunjung yang semakin rame.
"Kamu gak singgah dulu?" tanya Pita.
"Gak, aku ada kerjaan di Studio dan kantor. Nanti kamu pulang sendiri ya."
Tanpa melambaikan tangan atau sekedar basa basi, Rey melajukan mobilnya lagi membuat Pita membeku di tempat.
.
.
.
Selama berada di ruangan, hati Pita tidak tenang. Pikiran terus memikirkan sikap Rey yang berubah.
"Rey kenapa lagi, sih?" gerutu Pita.
Pita mengambil ponsel lalu menghubungi Rey, meskipun Pita tau jika Rey sedang sibuk, tapi apa salahnya hanya mendengar suara serak serak basahnya.
Namun, Pita lagi lagi harus kecewa saat panggilan Pita diabaikan oleh Rey.
"Begini nih kalau punya pasangan yang masih labil. Dikit dikit ngambek gak jelas."
__ADS_1
Pita menutup laptop yang yang di hadapannya. Mengerjakan laporan sudah siap. Tak ada kerjaan lagi membuat Pita merasa jenuh.
"Jalan jalan ke mall aja kali ya." Tiba tiba ide untuk ke Mall pun mengalir begitu saja. Pita yang memang tidak memiliki teman hanya terbesit untuk mengajak Yuna. Asisten rumah tangga sekaligus asisten pribadi saat dibutuhkan pasti tak akan bisa menolak jika diajak jalan jalan.
Yuna yang berada di rumah Pita merasa sangat senang saat sang majikan memberi kabar bahwa sedang ditunggu di Cafe untuk di ajak ke Mall. Bagai durian runtuh setelah beberapa bulan tak pernah diajak jalan keluar karena sang majikan sibuk berpacaran dengan brondong jagung yang imut nan manis.
"Yes …! Cuci mata lagi." Yuna berjoget ria sambil mengemasi memoles bedak tipis di wajahnya. Yuna mengakui setelah bekerja dengan Pita, wajahnya mengalami banyak perubahan. Bagaimana tidak, saat Pita melakukan perawatan Yuna selalu ngintil dan ikut mencobanya. Beruntung sekali Yuna bisa mendapatkan majikan sebaik Pita.
Yuna mengendarai salah satu motor matic milik Pita karena enggan untuk memesan taksi. Gak seru jika jalan jalan gak terkena angin, apalagi jalanan kota pasti akan macet.
.
.
.
Kali ini Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah mendapat telepon dari seseorang yang sudah terdengar marah kepada dirinya.
Rey ternyata melupakan sesuatu yang paling penting, yaitu menjemput calon mertuanya di Bandara YIA.
Ya, orang tua Pita hari ini sudah mendarat di kota Yogyakarta atas permintaan langsung dari ayah Rey, calon besannya.
Setelan memarkirkan mobil, Rey segera berlari kecil untuk mencari keberadaan dua orang yang kelak juga akan menjadi orang tuanya juga.
"Maaf, Pak. Saya telat menjemput," ujar Rey dengan nafas yang masih tersengal.
Ayah Pita menatap Rey dengan tatapan tajam sambil bertolak pinggang.
"Hebat kali kau ku tengok, ya! Sudah 30 menit aku menunggu tak datang datang kau. Kemana aja kau?!"
"Maaf, saya lupa," lirih Rey.
"Sudahlah bang, udah capek aku!"
Rey hanya bisa menelan kasar ludahnya melihat wajah ayah Pita yang hampir naik tensi. Beruntunglah emak Nadine segera mengalihkan pembicaraan.
"Masih jauh?" tanya ayah Pita.
"Sebentar lagi juga sampai, Pak. Tapi mungkin Pita tidak ada ada di rumah. Karena biasa jam segini masih di Cafe," ucap Rey.
"Cafe?" Ayah Pita mengernyit sebab ayah Pita tak tahu menahu apa pekerja anaknya di kota ini. Yang ayah Pita tahu hanya Pita telah menjadi model terkenal karena salah satu produk yang diiklankan. Bahkan ayah Pita tak tahu jika Pita telah resign dari dunia model.
"Pita sekarang mengelola Cafe milik Danar, Pak." Rey seolah menjawab pertanyaan di hati ayah Pita.
"Apa!?" Lagi lagi ayah Pita terkejut.
Nama yang paling dibencinya masih saja disebut. "Jangan sebut nama itu di depanku," tegas ayah Pita.
"Baik, Pak."
Mobil Rey telah berhenti di depan pekarangan rumah Pita. Mata Ham mengedar ke segala penjuru arah, meneliti setiap celah.
Cukup bagus, tapi sayang ini rumah si brengsek itu. Butet harus segera angkat kaki dari sini. Aku tak sudi jika Butet masih memakai fasilitas dari si brengsek itu, apalagi mengelola Cafe. Naj*s.
"Kemana pula pembantunya Butet. Ngeluyur tak jelas," omel Ham saat mereka berusaha mengetuk pintu dengan kuat serta memencet bel tak ada jawabannya.
__ADS_1
Nadine yang merasa pusing dan mual tak banyak bicara hanya duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.
Rey segera menelpon Pita untuk menanyakan keberadaannya saat ini.
Matanya membulat lebar saat banyak panggilanan tak terjawab dan itu dari Pita.
"Sebentar ya, Pak saya telepon Pita dulu."
Rey sedikit menjauh untuk menelepon Pita, takut takut jika Pita langsung ngamuk saat dirinya tanpa sengaja mengabaikan panggilannya.
Rey : "Sayang, kamu dimana?"
Pita : "Aku di Mall, Rey. Kenapa?"
Rey : "Yuna?"
Pita : "Ya ikutlah. Kenapa?"
Rey : "Kunci rumah kamu dimana?"
Pita ; "Ada di tempat bisa, Rey. Kenapa, kamu ke rumah?"
Rey : "Iya. Aku di rumah kamu sekarang. Pulang sekarang ya!"
Pita : "Baru juga nyampe, Rey."
Rey : "Sayang, please pulang. Aku punya kejutan luar biasa untukmu."
Rey segera mematikan ponselnya dan berlari kecil mencari dimana kunci rumah bersembunyi.
Setelah menemukan kuncinya, Rey segera membuka pintu rumah dan menyuruh dua orang yang akan menjadi orang tuanya untuk masuk.
"Hebat kali kau bisa tau dimana kuncinya disembunyikan," puji Ham, ayah Pita.
"Oh, lupa aku. Kau kan calon suami butet jadi harus tau ya," kekeh Ham.
Nadine yang tak sanggup lagi memilih segera menuju kamar Yuna untuk beristirahat dan meninggalkan dua orang laki laki di ruang tengah.
"Jadi bagaimana, sudah kau siapkan sinamot itu?" tanya Ham.
Rey tersenyum puas. "1000% sudah siap camer, makanya camer diundang ayah untuk membicarakan pernikahan saya dengan Butet."
"Paten kali kau, tiga bulan bisa dapat uang segitu, ngepet dimana kau?"
Ting ... tong ... ting ...tong camer numpang lewat
🍃 TERSAMBUNG 🍃
HAI HAII JAN LUPA ABSEN LIKE 😘
NAH, SELAGI MENUNGGU NOVEL INI UP LAGI BACA DULU NOVEL DARI AUTHOR INGFLORA YA
JUDUL NOVEL : SUNGAI RINDU
__ADS_1
AUTHOR : INGFLORA