
"loh... Nana... jadi kamu, gadis yang dicintai oleh anakku," ucap pak Davin tersenyum.
"Eh... kita...cuma teman kok pak," ucap Nana yang menahan malu.
"Ayo kita ke hotel saja, Nanti ngobrol di sana!" ajak Davin pada istri dan anaknya, juga Nana.
Nauli menggandeng tangan Nana, Nana merasa risih dan malu, dia mencoba melepaskan jemarinya , tapi tangan Nau semakin erat memegang jemari Nana.
Nauli membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan papah dan Mamah masuk ke mobil dan ia membuka pintu depan mobil dan menyuruh Nana Masuk, baru kemudian Nau memposisikan dirinya dikursi kemudi.
Mama papah gimana kabarnya, tanya Nauli pada kedua orang tuanya.
"baik, seperti yang kamu lihat, ini loh Nau mamahmu minta ikut karena kangen sama anak semata wayangnya. kapan Nau mau meramaikan rumah dengan memberikan cucu untuk kami?" ucap papah.
"Nauli tinggal nunggu jawaban calonnya ajah kok pah, kalo dia siap sekarang, Nauli juga siap kok," jawab Nauli sambil melirik Nana.
'emang calon istri Nau masih gantung harapan gitu,' tanya Nana penasaran.
"ya gitu Na, lagian orangnya juga gak peka dengan perasaan orang lain," Jawa Nauli yang mulai kesal dengan Nana yang gak peka kebangetan dengannya.
__ADS_1
"bilang aja langsung, kalo orangnya tidak peka, Sahut Nana.
"gitu ya Na, oke lah... Nana ....jadi maukah kamu menjadi pacar gue sekaligus menjadi calon istri gue dan calon ibu dari anak anak gue," ucap Nauli percaya diri.
"Haish...Gak perlu latihan juga kali Nauli, mau lamar ya lamar aja ngapain latihan sama gue," sewot Nana.
Setelah tigapuluh menit akhirnya sampai juga mereka di parkiran hotel Munich Marriot. setelah semua barang di turunkan Nana mulai cek in hotel suite room untuk Pak Davin dan ruang biasa untuknya.
" Pak Davin untuk pertemuan besok akan diadakan pukul sembilan pagi dan bertempat di perusahaan Engelmann,"ucap Nana menjelaskan jadwal besok pada bos-nya.
Nauli mengantarkan papah dan mamah ke kamarnya untuk istirahat. setelah itu mengantar Nana ke kamar yang tadi dipesan, Nauli ikut masuk ke kamar Nana.
"kita sama ...Nana, gue juga gak nyangka seperti mimpi ketemu Lo, pujaan hati gue,"ucap Nau yang dibalas Nana dengan kata" gombal"
Nau ternyata pak Davin itu bokap Lo yah dan ternyata gue selama ini bekerja di perusahaan milik ayah Lo, tanpa tahu kalo Lo itu anaknya" ucap Nana menghadapkan wajahnya ke Nauli.
"iya... " jawab Nau lemah.
"gue istirahat dulu Yach, capek banget rasanya!" ucap Nana meminta Nau untuk pergi.
__ADS_1
"ya udah, Lo istirahat dulu, besok kita ketemu lagi" ucap Nau sambil meninggalkan kamar Nana.
pagi harinya Nana bangun, langsung mandi dan bersiap sholat, karena daerah baru Nana bingung harus menghadap ke mana, Nana membuka ponsel pintarnya dan melihat geogle map. setelah selesai berkegiatan dia menuju ke resto yang ada di bawah.
Nana memesan makanan currywurst dan teh hangat untuk sarapannya. "masakan Jerman bagaimana ya rasanya, ayo coba! kapan lagi bisa merasakan masakan Jerman kalo tidak saat ini," pikirannya.
...
Pak Davin dan Nana diantar Nauli menuju perusahaan Engelmann, mereka disambut oleh manager perusahaan dan langsung dipersilahkan menuju ruang meeting. mereka berdua duduk dengan tenang, Nana mengamati sekeliling namun direktur perusahaan belum datang.
Sepuluh menit berlalu, pintu ruang meeting terbuka masuklah dua petinggi perusahaan Engelmann itu, Mata Nana mengarah pada kedua petinggi yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Dua sosok yang begitu dikenal oleh Nana
"Mas Kelvin ... Alvin" gumam Nana pelan. dada Nana rasanya bergemuruh campur baur sedih senang, marah. Nana berusaha menekan perasaan yang campur aduk dan berusaha profesional dalam kerja.
"Selamat pagi tuan Kelvin dan tu...tuan ... Alvin," sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman dan diterima oleh Mas Kelvin dan Alvin. sementara pak Davin merasa bingung mengapa Nana menggunakan bahasa Indonesia.
"ini Pak Davin, direktur perusahaan Java Power." ucap Nana memperkenalkan direkturnya pada mereka berdua.
Pak Davin memulai perbincangan mereka, sementara Nana hanya memandang wajah Alvin, begitupun Alvin dia memandang Nana, seolah mata yang bicara tapi bibir beku tanpa kata.
__ADS_1