Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
Tujuh puluh dua


__ADS_3


Mereka duduk di bangku taman sambil mendengarkan lagu dari HP menggunakan earphone, Alvin menyelipkan satu earphone ke telinga Nana, terdengar lagu milik seventen memilikimu. sementara kak Kevin dan kak Cintia mengamati dua sejoli yang duduk di taman dari balkon kamarnya.



"Cintia... Bagaimana menurutmu hubungan antara Alvin dan Nana." Tanya Kevin pada istrinya cintia



"Mereka berdua masih kelas 3 SMA, ibarat kata mereka sedang proses pencarian jati diri. Kakak takut kalau rasa sukanya Alvin pada Nana seperti cinta monyet yang gampang hilang dan mudah tumbuh untuk yang baru," jawab Cintia yang masih mengarahkan pandangannya pada dua sejoli di taman.



"Tapi kalo Mas melihat kesungguhan Alvin, dia sepertinya sudah yakin dengan keputusannya untuk menikahi Nana, kamu tahu gak Cin, kalau Alvin itu sudah mulai membuka usaha counter HP dari awal SMA, kemudian dia juga menabung sebagian uang sakunya yang sekarang jumlahnya tidak sedikit, kalau ditanya mau untuk apa uangnya jawabnya membeli rumah untuk dirinya dan Nana bila sudah siap berkeluarga."ucap Kevin menjelaskan kesungguhan Alvin.



Segitunya cintanya Alvin sama Nana mas, padahal kalau Dilihat Nana itu sama sekali tidak cantik bila dibandingkan dengan perempuan yang mengejar Alvin," ucap Cintia keheranan.



"Kamu tidak tahu saja, walaupun Nana tidak cantik tapi dia itu punya sisi menarik, dia memiliki inner beauty yang tidak dimiliki cewek lain, mas yakin banyak Lelaki yang menyukai Nana," sanggah Kevin terhadap apa yang disampaikan oleh Cintia.



" Jangan-jangan mas Kevin juga naksir sama Nana,"Sungut Cintia yang mulai gerah dengan pembicaraan dengan suaminya itu



"Ada yang mulai cemburu nih kayaknya, bagi mas kamu yang paling sempurna sayang," sahut Kevin pada Cintia dan mengecup keningnya.



Sementara itu Alvin masih menikmati alunan lagu dari HP miliknya. Nana melepaskan earphone dan menghadap ke arahnya.


Ada apa Yang? Ucap Alvin sambil melepaskan earphone miliknya.

__ADS_1



"Ini rumah siapa Vin? Gede banget rumahnya," tanya Nana penasaran.



"Rumah Papa tapi yang menempati Mas Kevin dan istrinya, cuma kadang papa pulang kesini karena lebih dekat dengan tempat kerjanya." Jelas Alvin pada Nana.



"Nanti kalau kita menikah Lo maunya tinggal di mana? Bareng mamah aja karena kasihan mamah sendiri di rumah, atau mau mandiri?" Tanya Alvin



"Nikah aja belum dah mikir tinggal bareng, jangan jangan otak Lo mesum ya," gerutu Nana.



Lo pingin rumah yang kayak apa Na? Tanya Alvin lagi.




"gue pingin punya anak Lima," bisik Alvin ke telinga Nana.



"Banyak sekali, boleh diskon gak? Di diskon 40 persen ya," canda Nana yang diselingi tawa .



"Sudah ah... Anterin gue pulang yuk! dah hampir Maghrib nih, ntar dikira Lo nyulik gue, kalo gak pulang pulang." Seru Nana sambil menarik Alvin.



Gak! Malem ini kita nginep di sini! Ntar gue yang telpon Tante Mayang atau Om, tolak Alvin yang kemudian mengajak Nana masuk ke dalam rumah.

__ADS_1



"aish.... Pulang pokoknya. Tunggulah sampai janur kuning melengkung di depan rumah ya , entar gue bukan nginep lagi di rumah Lo tapi gue tinggal di rumah lo selamanya," ajak Nana agar Alvin mau mengantarkan pulang.



Alvin dan Nana duduk di sofa ruang tengah. Alvin mengambil HP dan terlihat memencet tombol angka, selang beberapa lama terdengar nada panggilan



Alvin: "Halo , Assalamu'alaikum Tante Mayang, ini Alvin



Tante Mayang:"ada apa Vin? oh iya kok Nana belum sampai rumah."



Alvin:" mau memberi tahu Tante, kalo Nana ada di tempat Mas Kevin. ini kami baru sampai sekalian mampir karena dekat dengan tempat turnamen. Tante..., Nana boleh nginep di sini nggak.



Tante Mayang:" ya, jaga anak Tante baik baik, jangan diapa-apain.



Alvin:" beres... Tante tenang aja, gue jaga dengan taruhan hidup gue tan,"






__ADS_1



__ADS_2