Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
101


__ADS_3

#sesuatu atau apapun yang Allah diberikan pada kita, yakinlah bahwa itu memang yang terbaik buat kita, yang harus pergi pasti akan tetap pergi juga walaupun kita ingin mempertahankan dengan jiwa dan raga#


***


Pak Davin memulai perbincangan mereka, sementara Nana hanya memandang wajah Alvin, begitupun Alvin dia memandang Nana, seolah mata yang bicara tapi bibir beku tanpa kata.


"Ah... Alvin, aku sudah melihatmu, ternyata kau baik baik saja, kau sudah sukses dan menjadi pengusaha, aku sudah seneng dan bahagia melihatnya.


"Alvin... rasanya sekarang ini begitu berat mengucapkan nama ini, ah... rasanya saat ini sangat sulit menjangkau dirimu, jurang diantar kita semakin curam, biarlah sudah cukup penjelasan darimu lewat tatapan matamu itu dan penampilanmu, haruskah aku merelakan dirimu pergi dariku." batin Nana menghentikan tatapan mata pada Alvin.


Pembicaraan mas Kevin dan pak Davin berhenti saat terjadi kesepakatan kerja. pak Davin meminta map yang berisi kontrak kerja tadi pada Nana, setelah Nana memberikan surat kontrak kerja, pak Davin mendatangani kertas tersebut dan bergantian dengan mas Kevin yang tanda tangan.


Pak Davin pamit undur diri setelah penandatanganan surat kontrak itu, Aku pun pamit pada mereka berdua dan mengikuti langkah Pak Davin keluar dari ruang meeting, aku tidak mau menengok ke belakang.

__ADS_1


Aku melangkah pergi, berharap Mas kevin atau Alvin memanggil untuk memberikan penjelasan ataupun sekedar menanyakan kabar. Namun sampai kakiku keluar dari perusahaan hal itu tidak terjadi, Mungkin mereka sudah melupakaku, aku mungkin hanya masa lalu bagi mereka.


Aku menahan agar air mataku tidak sampe menetes. perjalanan dari kantor perusahaan Engelmann ke hotel rasanya lama sekali, waktu berputar lambat sekali.


Pak Davin bertanya pun ku jawab seperlunya.


melihat perubahan wajah Nana yang nampak murung pak Davin mengurungkan niatnya bertanya banyak hal tentang pemilik Engelmann, karena sepertinya Nana mengenal mereka.


"ya, silahkan Nana! oh iya, nanti malam jangan lupa ada undangan makan malam di rumah tuan Kevin, kamu diundang juga," ucap pak Davin mengingatkan dan hanya diangguki oleh Nana.


Sesampainya di dalam kamar Nana mengunci pintu kemudian merebahkan badannya tanpa mengganti pakaian dulu.


Nana menangis tersedu-sedu, perasaanya campur aduk seperti gado-gado. awalnya ia ingin menanyakan banyak hal pada Alvin, tapi rasanya mulutku terkunci.

__ADS_1


Apalagi saat ini mengetahui dan melihat sendiri, Alvin sudah berada di jajaran kursi direksi perusahaan Engelmann, semakin membuat Nana tidak berani bertanya, "ibarat kata, pungguk merindukan bulan".


"Alvin... aku sudah bertemu denganmu, tiada satupun kata penjelasan keluar dari mulutmu, kau hanya diam memandangku, aku bukan pawang kodok yang bisa membaca pikiran.


Aku pergi dari kantormu pun engkau membiarkan tanpa berusaha memberikan penjelasan padaku.


Alvin, pergilah... aku mengiklaskanmu dengan yang lain, walaupun rasanya sakit. kenapa rasanya bisa sesakit ini, ya Allah?" ucap Nana sambil terus menangis, bila mengingat Alvin, sahabatnya dan juga orang yang dicintai Nana.


"Penantian ku berakhir hari ini," ucap Nana dengan senyum getir.


Akhirnya Nana tertidur setelah lelah menangis, matanya bengkak dan badannya agak demam."


Sore hari Nana terbangun dengan kepala berdenyut, ah... pusing kepalaku, Nana pergi ke kamar mandi dan berendam air hangat. dia memejamkan matanya

__ADS_1


__ADS_2