
# Siang reader, tak disangka yeh... dah up sampe eps 69, Akoh saja gak percaya tapi itu nyata. thanks teruntuk yang sudah kasih like👍 , favorit ♥️, rating bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ dan komentar atau yang sekedar baca. Semoga kisah ini bisa diselesaikan sebelum akhir Januari 2020.
"Oh iya, teman teman gue juga merilis Novel baru yang berjudul " Selendang di Atas Ranjang", yang berbeda sekali dari segi bahasa, segi latar dan gaya penulisan dari "Novel Sejuta Pesona Nana". yuk... di baca di like, di fav dan di koment ya!!!#
#####
Nana dibesarkan di lingkungan yang memegang etika pergaulan, jadi ciuman bibir itu merupakan hal tabu yang hanya boleh dilakukan setelah menikah.
Ini adalah pengalaman pertama Nana dicium lelaki paling tampan di sekolah, eh ... bukan berarti pernah dicium lelaki jelek loh ya!!!
detak jantung Nana serasa balapan antara mobil Mercedes dan Lamborghini. Nana merasa perlu dibawa ke dokter spesialis jantung untuk diperiksa apakah jantungnya normal.
Nana tarik nafas kuat kuat dan membuang perlahan-lahan. agar ritme jantung Nana agak normal.
***
"Gue tunggu Lo di lapangan aja, terusin ganti baju." ucap Nana meninggalkan ruang ganti.
__ADS_1
"Nana berjalan ke arah lapangan, di jalan dia berpapasan dengan Nauli, tangan Nana ditarik tiba tiba, menuju tempat yang sepi.
"Ada apa Nauli? mengapa kau menarik tanganku, apa ada yang mau dibicarakan? oh... iya gue belum ucapkan selamat atas kemenangan Runner up di turnamen voli kali ini!" ucap Nana setelah Nauli melepas tangan dari pergelangan Nana.
Nau melangkah mendekati Nana, Nana yang melihat itu melangkah mundur. Nau terus melangkah begitu pun Nana masih melangkah munduur sampai akhirnya mentok tembok dan Nau meletakan dua tangan di tembok mengukung Nana.
Lama Nau hanya melihat Nana yang tertunduk mukanya. "Nauli... Lo kenapa, jangan seperti ini dong, gue takut?" tanya Nana yang bingung dengan sikap Nauli sambil mendongakkan wajahnya.Namun Nauli tetap diam dan hanya menatap wajah Nana
Setelah sekian lama hanya memandang sekarang Nauli malah mendekap erat tubuh Nana."Nana... sepertinya gue menyukai Lo, gue jatuh cinta sama Lo, gue juga gak tau mulai kapan gue mulai suka sama lo, maukah kau jadi pacarku?" ucap Nau pelan dengan wajah memerah menahan malu.
"Gak mau, gue gak mau pacaran sama lo, yang ada hidup gue ancur ntar. gak pacaran sama Lo aja gue udah dilabrak sama si mulut cabe, apalagi jadi pacar Lo, oh... No!!hadeuh... mimpi apa gue semalem sampe ada lelaki tampan bak artis Hollywood nembak gue, ucap Nana sambil melepaskan diri dari pelukan Nau.
"Ayolah Nana gue beneran suka sama Lo gue gak bohong, memang kita masih sekolah, tapi Gue bisa menunggu Lo sampai kapanpun lo siap bersama dengan gue," ucap Nau sungguh-sungguh.
__ADS_1
Nana terlihat mengernyitkan keningnya, dan memandangi wajah Nauli
"Sebenarnya ada apa ini Nauli tidak mungkinkan kau jatuh cinta padaku? mungkin perasaan Lo hanya kasihan pada gue atau hanya suka sebagai teman jadi jangan salah arti terhadap perasaanmu sendiri. kita masih sama-sama muda kita masih sekolah, pun cita-cita masih panjang. Aku yakin tidak satu, dua cewek yang menyukaimu, tapi mungkin satu sekolahan sangat mengharap cinta dari Nauli. Jadi pilihlah salah satu yang terbaik dari mereka untuk menjadi pacar atau pendamping lo. dan biarlah kita tetap bersahabat tidak lebih, gue tahu diri siapa gue Nauli!" ucap Nana melepaskan pelukan Nau sambil menjauh menuju lapangan, dan berteriak" gue tagih janji Lo kapan kapan ya!, jangan lupa".
Sementara itu dibalik tembok ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dia melangkah dengan gontai menuju ke lapangan, hatinya bergemuruh dan juga emosi, yang dia lakukan hanya meremas tanganya dan memukul tembok. wajahnya yang putih bersih menjadi merah karena emosi.
"Gue pulang dulu guys, ntar yang maju ambil piala kau saja kak Anto,"ujar Alvin pada Teman satu timnya.
"Nana... ayok kita pulang, Toni, Riri, Rita gue duluan," pamit Alvin pada temannya.
"Lo kenapa Vin muka Lo kok kayak marah gitu, kan seharusnya seneng karena menang di turnamen kali ini, Lagian pialanya juga belum diserahkan, belum terlalu sore juga," ucap Rita keheranan dan tatapan mata menyelidik.
"Gue gak papa hanya sedang gak mood saja. untuk pengambilan piala biar Anto yang mewakili, dah ya.... gue duluan," ucap Alvin sambil menarik tangan Nana.
__ADS_1