
"Vin Lo sebenarnya ada apa sih kok wajah Lo ditekuk, lesu, jadi pendiam beberapa hari ini, apa Lo sakit atau Lo ada masalah? kenapa gak cerita ke gue sih," tanya Nana yang masih saja didiamkan oleh Alvin, yang ada Alvin malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Vin... Lo gak sariawan kan? ngomong dong! jangan main peluk doang, risih nih gue," kesal Nana karena Alvin masih diam saja
"Jangan tinggalin gue Na, sakit banget rasanya kala melihatmu bersama lelaki lain." ucap lirih Alvin yang hampir tidak terdengar Nana dan masih dengan pelukannya ke tubuh Nana.
"Apalagi ini, emang siapa yang mau ninggalin lo, kampret! nih gue ada di samping Lo, yang ada mungkin Lo yang ninggalin gue Vin, jawab Nana.
"dah sekarang kita duduk dulu, gak enak banget nih posisinya. Sok ... duduk dulu..., gue dengerin cerita Lo oke!" ajak Nana sambil melepaskan pelukan Alvin dan duduk di tempat tidur Alvin.
"Gih .... Lo duduk juga," pinta Nana yang diikuti Alvin duduk di hadapannya.
"Sekarang Lo cerita sama gue ada apa sebenarnya, kenapa Lo murung berapa hari ini," ucap Nana sambil melihat manik jelaga mata Alvin.
Alvin masih tidak menjawab pertanyaan Nana, Alvin bergerak mendekati nakas dekat tempat tidurnya. Alvin mengambil hp diatas nakas
dan membuka layar.
Dia menunjukkan pada Nana beberapa foto dirinya dengan Kak Anto.
" Nana bisa kamu jelaskan ini semua? katanya Lo ditembak sama kak Anto, Lo tahu nggak Na! gue sampai nggak bisa tidur gara-gara foto ini, sedih banget perasaan gue, takut kalo lo kan pergi ninggalin gue dan lebih milih kak Anto. Berapa hari ini kucoba menghindari lo gue pengen tahu bagaimana sikap loh!" ucap Alvin sambil menatap mata Nana.
Dan tadi gue bahagia banget saat lihat Lo dihadapan gue,yang gue kira mimpi dan gak mau bangun rasanya." lanjut Alvin bercerita.
"Oalah...itu toh! kemarin itu pas Lo pulang, Nauli mengajak ke toko buku, karena dia masih baru disini maka minta gue temenin beli buku, eh ... pas di toko buku gue ketemu kak Anto yang sedang cari buku juga, sambil menunggu Nauli selesai kami ke pujasera pesen makanan, setelah itu kami juga pulang.
__ADS_1
"Segitunya Lo, ceritanya cembokur nih," ucap Nana selanjutnya.
"iya emang Napa? gak boleh!" sengit Alvin.
"budayakan bertanya ya zeyeng?" goda Nana yang diikuti wajah merona Alvin.
"Kalo gini terus lama lama gue bisa goyah, bobol nih pertahanan untuk tidak terlalu jatuh cinta sama Alvin," ucap Nana dalam hati.
Mungkin beneran kali yah "witing tresno jalaran Soko kulino" cinta datang karena terbiasa itu berlaku untukku dan Alvin
**************
Hari ini adalah pelaksanaan ujian Nasional siswa kelas satu dan dua libur. kelas dua mengadakan camping selama dua hari dua malam di tepi danau.
Rombongan bus Nana melaju dengan cepat menuju tempat camping. Nana duduk berdampingan dengan Rita merekapun asyik ngobrol, setelah tiga jam perjalanan bus sampai juga di tempat tujuan. Daerah yang masih asri dan udara yang sejuk.
Nana satu kelompok dengan Rita, Amel, Anin, Panji dan Susanto.
Kelompok kami kebagian mengumpulkan kayu untuk api unggun. "yah... sore ini kami sibuk mencari kayu sebanyak-banyaknya."
Aku pergi mencari kayu di sebelah selatan, tanpa Nana sadari Panji mengikuti Nana dari belakang. setelah sampai di tempat yang agak sepi Panji menampakkan diri, dia memunguti ranting kering di hadapannya. begitupun, dengan Nana yang baru tahu kalau ada Panji di belakangnya.
Tiba-tiba Panji merebut kayu bakar Nana.
" Sini... aku saja yang bawa!" ucap Panji dengan nada datar.
__ADS_1
"Eh... aku bisa bawa sendiri! yang tidak digubris oleh Panji.
"Si Panji kenapa sih kesambet penunggu hutan apa yach! batin Nana
"Pan.... gimana kabar om sama Tante? tanya Nana basa basi yang hanya dijawab "baik" .
"Iceman beneran nih anak" gumam Nana yang terdengar oleh Panji dan hanya lirikan yang di dapat.
"Pan, gimana menurut Lo kelas kita?nyaman dan kompak kan? Lo udah punya teman belum? dah kecantol cewek cantik belum?" tanya Nana pada Panji agar mau berbicara.
Lagi-lagi Nana dicuekin oleh Panji, "berhenti Nana" ucap pandu tegas!
" ada apa Pan?"
" tuh ... "sambil menunjuk ular yang ada di depannya. spontan Nana pindah ke belakang Panji dan memegang baju Panji.
Panji meletakan kayu bakar dan mengambil ranting yang ujungnya bercabang, Panji menekan pada bagian kepala ular dengan ranting bercabang dan mengambil kepalanya.
"Pan... hati hati" ucap Nana ketakutan.
Pandu melepaskan ular ke tempat yang agak jauh. Huh... selamat... selamat gumam Nana.
"Wah... Lo bener bener kayak pawang ular."
"Kalo pergi jangan sendirian apalagi di daerah hutan seperti ini, panggil gue kalo mau ke mana mana, biar gue temani," ucap Panji yang diikuti anggukan oleh Nana.
__ADS_1
Panji sampai ke tempat pengumpulan kayu bakar dan meletakan banyak kayu yang di bawa.