
"lahhhh... itu Nana sama Alvin sedang duduk di gazebo." teriak Rita sambil berjalan mendekat pada Alvin dan Nana .
"Buammmbang dan jaenab dicari ke mana-mana tidak ketemu, eh tak tahunya malah enak-enakan mojok berdua,"sahut Riri yang gemezzz.
" hati hati Lo, berduaan yang ketiga setan" sahut Toni menambahi perkataan Riri.
" lah... berarti Lo setannya,he...he..," celetuk Nana sambil tertawa.
"sialan Lo, gue bukan setan tapi manusia tampan," canda Toni.
"ehh... kalo mau kesini, harusnya bawa banyak makanan dari sana tadi, gue masih laper." lanjut Nana sambil menunjuk arah tenda makanan.
"mana gue tahu lo kelaparan, kalo gue tahu akan bawain makanan sama mejanya sekalian," sahut Rita .
" eh... ada Panji! panjang umur banget sih Lo , baru aja gue omongin sama Alvin, Ehhh... sudah hadir di depan mata. emm... Pan Lo kemana saja, kok.. tiga hari gak masuk sekolah? ucap Nana.
"gue mudik pulang ke kota kelahiran," jawab Panji
"emang kota kelahiran Lo di mana?" sahut Susanto
__ADS_1
mereka bercanda sahut menyahut sambil tertawa, apalagi jika sifat gokil Alvin kambuh, maka semua bumbu candaan menjadi semakin menarik.
Semua rentetan acara resepsi selesai pukul tiga sore, semua tamu sudah pulang, tinggal Alvin seorang yang tinggal menemani Nana yang nampak kelelahan.
" syukurlah semua acara berlangsung hikmat walaupun capek. karena dari kemarin menyiapan untuk acara hari ini, dan yang lebih menyebalkan harus pake baju kayak gini" gumam Nana.
"Alvin... Lo pulang gih... dah selesai semua, gue capek banget pingin istirahat, ucap Nana sambil menguap.
'Sebentar, Nana ... mungkin ini latihan buat kita kalo Minggu depan jadi menikah, sini sebentar," pinta Alvin yang sudah duduk di lantai sambil memegang kaki Nana sambil mengurut pelan kaki Nana.
"eh ... nyamannya, pijatan Lo enak juga vin. sebenarnya tadi gue mau nolak pijitan Lo, tapi karena rasanya enak dan nyaman Lo terusin gih," pinta Nana sambil tersenyum malu.
"Ayo, kita hadapi semuanya bersama Na, aku merasa tenang saat Lo ada di samping gue." ucap Alvin yang masih memijit kaki Nana.
Titip kaki gue sekalian dipijit! ucap kak Elang yang sudah duduk di sebelah Nana.
Alvin hanya tersenyum kecut.
###
__ADS_1
keesokan harinya.
semua siswa berlari, saat mendengar bel sekolah berbunyi tanda masuk kelas dan pelajaran dimulai.
Nana dan Alvinpun berlari karena datang terlambat. bukan apa apa Alvin bangun kesiangan setelah kelelahan seharian berada di rumah Nana. Nana dan Alvin berpisah di persimpangan jalan karena mereka berbeda kelas. Alvin mengetuk pintu kelas, karena pak Gito guru bahasa sudah masuk ke kelas. Alvin dihukum berdiri di luar kelas.
Nana masuk ke kelas dan ternyata belum ada guru masuk, "selamat...." gumam Nana yang senang karena guru belum masuk ruangan.
Nana berjalan ke tempat duduknya, beberapa saat setelah Nana masuk Bu Iin, guru fisika pun masuk kelas.
Lily menatap tajam pada Nana, ada rasa benci dalam hatinya karena menurutnya Nana menghalangi keinginannya mendapatkan Alvin. "lihat saja nanti apa yang Gue perbuat pada Lo gadis jelek, miskin lagi!" gumam Lily.
Kriiiing pelajaran jam pertama sudah selesai. Nana yang sudah kebelet lari ke kamar mandi. teman yang lain pun sudah menuju ke kantin atau ke perpustakaan. tinggal Lily sendiri yang berjalan ke arah meja Nana, sekilas dia mengambil sesuatu dari tas Nana, setelah mengutak-atik sebentar, dia berjalan kembali ke tempat duduknya dengan menyunggingkan senyum licik dari bibirnya.
Pelajaran kembali berlangsung hingga pukul dua siang, bel tanda pulang sudah berbunyi. seperti biasa Nana keluar kelas dengan Toni dan Panji. mereka menuju ke kelas Alvin yang terletak di sebelah ruang kelas Nana, namun sampai Nana melewati dan mencari di dalam kelas juga tak ada. Nana berjalan ke parkiran, tapi motor Alvin juga tidak ada.
"huh... kemana sih Alvin, gak jelas banget, pergi gak bilang-bilang. dengan alasan mau menghubungi Alvin, Nana menyuruh Toni dan Panji pulang dulu.
...
__ADS_1