
"Sialan Lo datang main peluk aja, jangan jangan Lo ketularan mesumnya Alvin." sungut Riri.
"sudah... ayo kita nikmati aja lagunya!" ucap Toni.
Riri masih heran dengan kejadian peluk dadakan Toni. Kayaknya sikap Toni mulai berubah pada Riri, lebih perhatian, kadang juga suka anterin pulang dari sekolah.
Toni... Lo ...lelaki pertama yang udah mengambil pelukan pertama gue selain dengan ortu hiks...hiks...
Padahal pinginnya pelukan itu diambil oleh orang yang jadi pacar gue." ucap Riri pura pura menangis.
"Bagaimana kalau gue mau jadi pacar Lo, bisik Toni ditelinga Riri.
Spontan Riri membalikkan badan dan menatap manik legam milik Toni yang masih saja memeluk pinggang Riri.
'Lo tidak demam kan Ton?" tanya Riri sambil memegang dahi Toni.
"ish... apaan sih Lo, gue sehat, normal dan hampir gila karena Lo, gue udah lama suka sama Lo, tapi gue takut nyatain perasaan gue, gue berfikir kapan waktu yang tepat untuk mengatakan pada Lo," jawab Toni dengan sungguh-sungguh tapi masih dengan muka datarnya.
"Terima aja Jaenab, kasihan tuh jones ( jomblo ngenes), celetuk Alvin menggoda Riri.
"Kenapa tiba-tiba gini, beri gue waktu untuk menjawabnya Ton! gue mau meyakinkan diri gue dulu, Bagaimana sebenarnya perasaan gue ke Lo," ucap Riri sambil menunduk.
"oke... gue kasih waktu satu menit dari sekarang! ucap Toni.
__ADS_1
"oke... satu menit sudah berlalu, apa jawaban Lo?... karena Lo diem aja berarti iya, katanya diamnya perempuan berarti iya." ucap Toni sambil tersenyum
"Ini sih namanya pemaksaan dodol!!!"
"Biarin... yang penting Lo jadi pacar gue, kalo jodoh, ya ... istri masa depan gue, ucap Toni dengan PD nya.
"Ri... gue tidak mau dengar jawaban penolakan dari Lo, karena gue beneran sayang sama Lo," lanjut Toni sambil mengecup kening Riri.
Riri hanya melongo mendengar kalimat dan perlakuan Toni padanya.
("Ya Allah... gue ditembak sama Toni Sahabat gue, aneh rasanya, tapi gue coba jalani dulu aja," batin Riri )
"Eh... Bambang apa yang Lo ajarin pada Toni, kenapa ketularan mesum Lo," ucap Riri pada Alvin.
"sialan Lo... "sahut Toni pada Alvin.
Obrolan mereka terhenti saat tepuk tangan meriah mengiringi berakhirnya penampilan Rita dan Susanto.
Alvin melepaskan pelukannya dan mengecup kepala Nana, mereka pun kembali ke area pemanggangan. begitupun dengan Riri dan Toni.
Panji tidak begitu memperhatikan sekelilingnya, jadi dia tidak melihat acara pelukan Nana dan Alvin.
__ADS_1
Di sana terlihat Panji sedang mengoles bumbu dan membakar ikan. Nana menghampiri Panji sambil membawa beberapa tusuk sosis yang siap di bakar.
"Pan ... lo pandai juga membakar ikan ya, seperti koki profesional aja!" ucap Nana membuka percakapan dan melihat ikan bakar hasil Bakaran Panji
" Semua orang bisa kalau hanya memanggang ikan! ucap Panji tanpa melihat Nana.
"siapa bilang semua orang bisa membakar ikan, itu lihat di sana Alvin sedang memanggang ikan yang hampir gosong!" ucap Nana sambil menunjuk ke arah Alvin yang memegang ikan berwarna kehitaman.
Alvin yang merasa diperhatikan, hanya senyum dan garuk kepala yang tidak gatal.
"itu jatah ikan bakar lo Vin...jangan lupa dihabiskan ya "ikan bakar rasa saus kopi," Ucap Riri tertawa yang diikuti oleh yang lain.
***
Akhirnya rangkaian acara malam ini pun berakhir. semua siswa yang terlihat lelah kembali menuju ke tenda masing-masing untuk istirahat, kecuali tim pemanggang masih beres-beres peralatan yang tadi digunakan.
Nana duduk di depan api unggun sambil meluruskan kakinya, Alvin yang melihat itu, langsung menghampiri sambil membawa kayu bakar untuk menghidupkan api unggun yang hampir padam.
"Kalo Lo capek istirahat gih...," ucap Alvin sambil memijit punggung Nana.
Riri, Toni, Rita, Panji dan Susanto ikut bergabung dengan Alvin di depan api unggun yang kembali membesar apinya, Susanto yang masih membawa gitar kembali memainkan gitarnya. mereka bernyanyi, dan bercanda riang bersama.
Sekitar pukul sebelas pak Kelvin menyuruh Nana dan temannya masuk ke tenda untuk istirahat, karena besok masih ada kegiatan yang menguras tenaga.
__ADS_1
***