Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
Ultah Tante lina


__ADS_3

"Ini bukan teman sekolah Nau, ini ... pacar Nau," jawab Nau dengan muka datarnya.



"Whattt...." Gue yang denger jawaban Nau langsung tersedak, mataku juga melotot, dan Nau yang tadi memang sudah memegang segelas air langsung menyodorkan minumannya padaku.



"Duh... Gusti Allah permainan apa lagi yang terjadi."gumamku sambil ngelus dada.



"Kau harus memberikan jawaban atas permainan yang kau mulai." bisikku pada Nau.



Mungkin kalau orang lain akan melayang karena mendengar kalimat barusan yang keluar dari manusia tampan, tapi bagi gue ini mesti hanya gurauan.



Almira mengamatiku dari atas ke bawah, dengan wajah keheranan.



"Vin jangan bercanda, mana mungkin kau menyukai jenis perempuan seperti ini?" kau dan dia bagaikan jurang dan langit Nau," ucapnya sinis sambil masih terus mengamatiku.



Nauli berjalan mendekatiku dan merangkul bahuku, sontak aku menoleh kepadanya.



"Akan ku bantu permainanmu Nau," batin Nana.



"Nau sayang, malu dong dilihatin banyak orang, ayok kita bicara di taman samping rumahmu, ajakku sambil menggandeng tangan Nauli.



Maaf Almira kami ke sana dulu," pamitku pada Almira yang masih dengan muka kesal.



Almira menatap kami yang berlalu dihadapannya sambil menggandeng tangan Nauli, sebenarnya aku menahan tawa melihat hal ini tapi demi kelancaran sandiwara, aku sekuat mungkin menahannya.



"Sekarang sudah aman, ada penjelasan atas semua kejadian ini?"kata Nana sambil melepaskan tangan dari pegangan tangan Nau dan meminta penjelasan.



"sama seperti yang kau pikirkan," jawabnya santai.



"Emang kamu pawang, atau dukun bisa baca pikiran orang," gerutu Nana.



"Emang apa coba yang kupikirkan?" tanya Nana balik.



" Sepupuku itu menyebalkan, nempel terus, sok kegenitan, risih gue. thanks Lo udah selametin gue dari manusia menyebalkan itu? jelas Nauli pada Nana.


__ADS_1


"Ya ...ya... tambah musuh nih gue?" kemarin aja gue habis dilabrak penggemar Alvin.



Sementara itu Tante Lina sudah naik ke panggung, untuk menyampaikan sepatah kata.


semua yang hadir mendekat ke arah panggung .



Aku mengedarkan pandanganku, setelah ku amati ternyata kebanyakan yang hadir adalah Tante Tante yang membawa anak perempuannya, mereka cuantiiikk-cuantik dan terlihat barasal dari keluarga kelas Atas.



Mereka mengenakan pakaian branded dengan merk terkenal, mungkin disini hanya aku yang kelihatan seperti Upik abu.


" ya iya lah, tinggal di perumahan elit masak kaum jelata sepertiku." gumam Nana



"Mohon perhatian sebentar, saya mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran teman teman semua...dst.'



Tante Lina meminta Nauli anak semata wayangnya untuk naik ke panggung.


Tante Lina memeluk anak di atas panggung.


dia memperkenalkan anak semata wayangnya. perempuan cantik yang hadir disana memandang kagum dengan ketampanan Nauli.



Kulihat kebahagiaan pada keluarga Nauli.Tapi ada yang janggal, aku tidak melihat ayah Nauli.



Nana ingin berpamitan pada Tante Lina.



"Tante, Nana pamit pulang dulu, sudah jam lima!" ucapku sambil Salim dan mencium tangan pada Tante Lina.



"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Tante Lina.



"Nana nanti dijemput temen Tante, rumahnya juga tidak jauh dari sini," ini tinggal WA saja, jawab Nana.



"Ini biar diantar Nau saja," jawab Tante Lina.


tidak usah Tante, di sini masih banyak tamu, biar Nau menemani Tante.



"Ish... gak papa Na!, Nau.... sana anterin Nana pulang, perintah Tante pada Nau, yang diikuti Nau masuk ke kamar untuk mengambil kontak.



"Tapi... Tante... nanti ngerepotin Nau jadinya."


"sudah... sana... itu Nau sudah siap!!" sanggah. Tante.


__ADS_1


"Nana permisi dulu Tante, terimakasih dan maaf merepotkan.



"Ya... hati hati!!!"



tanpa mereka sadari, sedari tadi Almira mengamati setiap gerak gerik Nana, ada rasa tidak suka dan kebencian yang tumbuh di hatinya



Nauli mengantarkan Nana dengan menggunakan Mobil, Nana duduk bersebelahan dengan Nauli.



"Nau... dari tadi kok aku tidak melihat papamu?"



"Na...papahku sedang keluar kota." Jawab Nau dengan raut muka sedih, seperti ada yang disembunyikan.



"Oh....." jawab Nana.


"Na... maukah kamu jadi temanku? ucap Nau



"bukankah kita sudah berteman?"boleh minta nomor telepon,? lanjut Nau.



"boleh banget dong, sini HP Lo," jawab Nana sambil menerima HP Nau dan mengetik nomer Hpnya Dan meng call Hp nya.



"Na... sebenarnya gue aja jarang ketemu papa, mamahku adalah istri ke dua dari Hermawan Davin," Nau mulai bercerita tentang keluarganya.



"Apa Lo juga anggap gue anak pelakor yang buruk," jawab Nauli



"Eh...Nau seorang anak itu lahir suci, yang salah tuh orang tuanya, dan tidak ada seorang anak pun yang bisa meminta dari siapa Dia dilahirkan. Jadilah dirimu, buktikanlah bahwa kau orang baik, yang pantas hidup dengan bahagia.


orang mah... tinggal menghakimi doang karena tidak merasakan.



"Eh.. maaf Na... gue gak tahu kenapa gue bisa cerita masalah gue Samo Lo. Gue merasa nyaman dan Lo adalah orang yang baik yang bisa dijadikan sahabat.



"Dah sampai Nau, thanks, mau mampir dulu?


"Lain kali aja," jawab Nau.





__ADS_1


__ADS_2