
"Lo kenapa Vin muka Lo kok kayak marah gitu, kan seharusnya seneng karena menang di turnamen kali ini, Lagian pialanya juga belum diserahkan, belum terlalu sore juga," ucap Rita keheranan dan tatapan mata menyelidik.
"Gue gak papa hanya sedang gak mood saja. untuk pengambilan piala biar Anto yang mewakili, dah ya.... gue duluan," ucap Alvin sambil menarik tangan Nana.
setelah menstarter motornya Alvin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Nana semakin erat berpegangan tangan pada pinggang Alvin. Setelah hampir satu jam, Alvin menghentikan laju motornya.
Nana turun dari motor, dia menengok kanan dan kiri, kita ada di mana Vin? tadi katanya mau pulang," tanya Nana yang masih heran melihat sikap Alvin yang masih diam dan kembali menarik tangan Nana menuju suatu rumah dengan pagar tinggi dan halaman luas dengan bunga yang indah tertata rapi.
"Perasaan dari tadi tangan gue digandeng Mulu sama Lo, kayak truk gandeng aja, gihh lepasin ..., gue bisa jalan sendiri buambang! ucap Nana yang masih tidak dipedulikan Alvin dengan tetap menggenggam jemari Nana.
" Ini kita di rumah siapa Vin, gede banget rumahnya," ucap Nana dengan rasa takjub.
"Rumah sebesar ini sepi sekali, apa gak ada penghuninya," ucap Nana celingukan tapi tidak bertemu dengan satu orangpun.
Alvin membawa Nana dalam sebuah kamar Besar bercat abu tua dengan perpaduan crem, nuansa kamar maskulin namun rapi dengan bed besar yang empuk.
"Lo mandi dulu, ntar baju gantinya pake kaos gue, tuh... di lemari sana," perintah Alvin dengan muka datar dan masih terlihat kesal.
Nana berjalan ke arah lemari, dan mengambil kaos berwarna biru tua dan handuk. Nana melangkah menuju ke kamar mandi yang berada dalam kamar. Setelah lima belas menit Nana keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan digelung dengan handuk. Sekarang gantian Alvin yang mandi.
Beberapa saat kemudian Alvin keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi area intimnya. badannya terlihat kekar dengan otot dada terlihat kotak versi roti sobek walau belum sempurna.
__ADS_1
Nana tercengang dengan terbelalak antara kagum dan kaget melihat penampakan mahluk seksi nan rupawan di depan matanya dan ia pun menutup wajahnya
"Haiiii....Alvin kampret ngapain Lo cuma pake handuk doang, gak malu apa sama gue, Lo menyebabkan mata gue sudah gak perawan lagi," teriak Nana yang masih menutup mata.
Beneran nih gak mau melihat penampakan seksi gue," goda Alvin pada Nana.
Alvin dengan santainya mengganti celana di depan Nana yang masih menutup mata dengan tangannya.
"buka mata Lo sekarang! ucap Alvin sambil memegang tangan Nana.
perlahan Nana membuka matanya, muka Alvin tepat berada di depan muka Nana.
"Yuk kita turun, kita temui ayah dan kakakku."
Alvin berjalan di depan dan Nana mengikuti dibelakang, Alvin kembali menggenggam jemari lentik Nana untuk memberi kenyamanan padanya.
"ngapain, gak usah gandeng tangan lagi, gue bisa jalan sendiri, tolak Nana pada Alvin yang tetap tidak melepaskan genggamannya.
"Kenapa rasanya gue kayak mau disidang ya, lagian ni curut ngapain bawa gue ketemu bokapnya, batin Nana.
__ADS_1
"Sore Om Tian, mas Kevin," ucap Nana ramah pada ayah dan kakak Alvin.
"bagimana kabarmu Nana?" tanya om Tian.
"Baik Om," jawab Nana yang duduk sebelah Alvin.
"Papa, kakak... Alvin mau bicara sebentar! Alvin mau menikah dengan Nana boleh tidak?" ucap Alvin dengan sungguh-sungguh.
"Eh.... ya Allah Gusti? Vin kampret jelasin ini semua," ucap Nana pelan yang terkejut dengan ucapan Alvin barusan.
Papi dan kak Kevin lebih terkejut lagi, terlihat dari raut muka menahan emosi.
"Maaf Om... kakak, ini Alvin sedang konslet kayaknya. jadi bicaranya ngawur," ucap Nana berusaha merubah suasana.
"Alvin, menikah itu bukan main-main, sesuatu yang dilakukan sekali seumur hidup, jadi harus dipikirkan baik baik jangan sampai menyesal di kemudian hari." ucap kak Kevin menasehati Alvin.
"Vin, kamu masih sekolah SMA, jalanmu menapaki kehidupan masih panjang, belum waktunya kamu menikah, apa kamu sudah memikirkan bagaimana rencana setelah menikah? bagaimana kamu menghidupi anak dan istrimu? "ucap papa menjelaskan pada Alvin.
"Papa... kakak... Alvin sudah mantap, Alvin tidak mau kehilangan Nana, Alvin menyukai Nana dari dulu, semakin kesini semakin jatuh cinta padanya, Lagian Pah.... Alvin punya banyak saingan yang berebut Nana , jadi Alvin mencuri start lebih dulu pah... mungkin kita menikah dulu, untuk urusan studi kami akan bersama menempuhnya sampe bangku kuliah. untuk tempat tinggal aku akan bersama mamah atau kalau papa mau aku mandiri aku akan membawa Nana keluar dari rumah itu," Alvin menjelaskan rencana nya pada papa dan Kak Kevin.
Nana yang mendengar itu hanya melongo, yang ada dipikirannya ada apa dengan Alvin?
__ADS_1