
"heuh...." Nana menghembuskan nafas beratnya.
"ah Alvin gue jadi mengingat lo kembali setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu. seperti apa kau sekarang Vin, apakah kau sudah melupakan gue, apa lo sudah menikah dengan orang lain atau Lo masih setia menunggu gue, ah... ah... Alvin aku merindukanmu Vin," gumam Nana yang kelamaan mikir Alvin malah jadi gemes sendiri.
karena sudah semakin malam, mata Nana terpejam dengan nyenyaknya, tak terasa pagi menjelang, seperti biasa Nana sholat Subuh sebelum beres beres rumah dan masak menu sederhana untuk dirinya sendiri.
pagi hari ini Nana menelpon ibunya.
kruing...kruing...kruing...
Nana : " Assalamu'alaikum, ibu... ini Nana.
Elang : " waalaikum salam ini bukan ibu, tapi kak Elang.. ada apa Nana, kok jarang pulang sih, kakak kangen mulut bawel Nana.
Nana. : "eh maaf kak... gue juga kangen banget sama orang rumah tapi Nana Belum ada waktu untuk pulang Kak, ini saja Nana mau minta izin Nana diajak sama bos Nana untuk pergi ke Jerman menemani perjalanan bisnis beliau,
Elang. :" mau ke mana Nana, Jerman jauh banget !!
Nana :"gimana lagi kak, bos gue ngajak gue. lagian kan gue juga bisa bahasa Jerman jadi mungkin bos gue mantap kali ya ajak gue, oh iya Ibu di mana Kak? kok kakak yang menerima teleponnya"
Elang :"ibu sedang di kamar mandi, nah hp-nya ada di atas meja jadi kakak yang ngangkat hp-nya oh gitu ya! minta tolong ya kak bilangkan sama Ibu Nana Belum bisa pulang, Nana kangen banget tapi belum bisa pulang ke sana ,Kakak mau minta oleh-oleh apa
__ADS_1
Elang :" yang penting kamu pulang dengan selamat aja Kakak sudah senang.
Nana:" ya udah makasih Kak assalamualaikum.
hari ini Nana ke kantor hanya mengambil surat-surat yang nanti akan diantar oleh pegawai imigrasi ke kantor, Nana sudah mempersiapkan jadwal dari mulai pembelian tiket pesawat, paspor, visa dan pemesanan hotel di Jerman. Semua sudah diurus dengan baik oleh Nana.
Saat sore hari Nana pulang ke rumah. semua hal sudah beres mulai packing baju, sepatu tas dan lain-lain karena Nana bukan perempuan yang modis jadi baju yang Nana bawa tidak terlalu banyak, hanya satu koper.
pagi harinya, Nana berangkat ke bandara dengan menggunakan taksi.
Nana sudah stand by di bandara Soetta sebelum Pak Davin dan Tante Lina datang, Nana terlihat melambaikan tangan ke arah pak Davin, kemudian mereka berjalan ke ruang transit. setelah menunggu beberapa saat, Nana akhirnya bisa merasakan naik pesawat terbang untuk pertama kalinya menuju negara Jerman.
Nana duduk dengan menyandarkan kepalanya di kursi ruang tunggu sambil memejamkan mata karena kepalanya masih sedikit berdenyut.
Nana tidak menyadari kedatangan Nauli.
Nauli berjalan ke arah papa dan mamanya yang masih berdiri, Nauli memeluk papahnya kemudian Lina memeluk Nauli sang putra tercintanya sambil berbisik," lihat siapa yang mamah dan papah bawa, "sambil menunjuk ke arah Nana yang masih memejamkan mata.
Nauli terbelalak melihat sosok yang duduk di kursi, Lina yang melihat betapa terkejutnya Nauli hanya tersenyum.
sekali lagi Nauli menggosok matanya, "Mamah .. benarkah ini Nana, wanita yang selama ini kurindukan?" ucap Nau pada mamahnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Nauli berjalan mendekat ke kursi Nana dia memandang Nana yang masih memejamkan mata tanpa berkata-kata. setelah pusingnya agak reda Nana membuka matanya dan mengerjapkan matanya.
"Hah...Na...Na... Nauli..." ucap Nana sambil mengucek kedua matanya, siapa tahu akibat jetlah menyebabkan halusinasi.
" iya... Nana... ini gue Nauli, jawab Nauli yang mendekat dan memeluk Nana karena terlalu bahagia melihat pujaan hati di depan mata.
Nana masih belum yakin dengan pandangan matanya, dia mencubit tangannya, "eh... sakit." berarti ini bukan mimpi atau halusinasi.
Tiba tiba Nauli megang wajah Nana dan " cup" suara bibir Nauli mencium bibir Nana."
"Eh... Nau kenapa Lo nyium gue," ucap Nana yang terkejut dengan ciuman Nauli.
"mau nyadarin Lo kalo ini nyata bukan maya, semu atau abu abu," jawab Nauli sambil tersenyum manizzzz.
"ehm...ehm... "suara Tante Lina menyadarkan Nana bahwa mereka bahwa disana tidak hanya berdua.
"loh... Nana... jadi kamu, gadis yang dicintai oleh anakku," ucap pak Davin tersenyum.
"Eh... kita...cuma teman kok pak," ucap Nana yang menahan malu.
"Ayo kita ke hotel saja, Nanti ngobrol di sana!" ajak Davin pada istri dan anaknya, juga Nana.
__ADS_1