
"Vin kamu mau jadi calonnya Nana gak," tanya ibu pada Alvin.
"ya mau lah Tante, aku ngarep banget Lo, tapi ini Oneng satu ini gak paham juga," sahut Alvin dengan muka bahagia.
"Gimana Na diterima gak Alvinnya?
" terserah Alvin aja Bu... enaknya gimana? lagian kita nih masih kelas 2, bentar lagi ujian semester, sekulah dulu yang bener ye pangeran kampret tampan.... entar kalo dah sukses baru Lo lamar gue, itu juga kalo Lo gak pindah ke lain cewek," jawab Nana dengan santai dan melirik kearah Alvin.
Tunggulah aku sampai aku sukses Nana, aku pasti akan melamarmu dan menikahimu"batin Alvin.
Alvin dan Nana berpamitan kepada ibu menuju rumah Om Surya. Alvin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga Nana memegang erat pinggang Alvin. melihat kondisi itu Alvin tersenyum senang. setelah 30 menit perjalanan sampai juga di rumah Om Surya. Alvin memarkirkan motornya di luar gerbang, dan Nana memencet bel
"tingtong.... tingtong... tingtong..."
Panji membuka gerbang rumahnya.
"oh... Nana... mari masuk, ada perlu apa kok kesini? tanya Panji dengan muka datar dan dingin.
"ini mau mengantarkan titipan dari ibu untuk keluargamu,"balas Nana sambil menjelaskan maksud kedatangannya.
'Ya udah . gue langsung saja ya!" ucap Nana
Dari dalam rumah Tante memanggil Panji." siapa Ji...?
"Nana mah, nganterin sesuatu,"jawab Panji.
"suruh masuk ke dalam dulu!" sahut Tante dengan senang.
__ADS_1
Mau tidak mau Nana dan Alvin masuk ke dalam rumah Om Surya.
"Siang Tante? saya disuruh ibu mengantar ini Tante," sapa Nana sambil menyodorkan kardus yang diberikan oleh Ibunya.
Setelah berbasa-basi dan menghabiskan es teh yang disuguhkan, Nana pamit pulang.
Sebenarnya saat Nana duduk tanpa disadari mata Panji sering melirik ke arah Nana dan Alvin.
Alvin melajukan motornya dengan pelan. rencananya Alvin ingin mengajak Nana jalan ke toko buku.
-----------sesampai di toko buku --------------
Alvin mengajak Nana turun dari motor. dan melepaskan helm yang di pake Nana. Nana menolak dan mengatakan gue bisa sendiri, tapi dasar Alvin dengan seenak jidatnya memaksa melepaskan helm yang dipakai Nana.
Alvin menggandeng tangan Nana masuk ke toko buku, dan Nana berusaha melepaskan tangannya. Alvin malah semakin mempererat pegangannya. Nana hanya bisa pasrah digandeng Alvin.
"Hai Nana, hai Alvin..., cari buku apa nih! tanya Kak Anto yang sedang memilih buku latihan soal menghadapi UN.
"cari majalah otomotif, sahut Alvin sambil mengambil majalah di depannya.
"Eh... Na ... tadi kok langsung pulang, temen temen mau ngajak makan bareng ke "kafe Lope" pukul 16.00, untuk merayakan kemenangan kita melawan SMA Garuda tadi, datang ya, di tunggu dan wajib hadir." pinta Kak Anto dengan paksaan.
"Gue kan bukan pemain, pelatih juga bukan, penggembira ... baru iya, ngapain wajib datang, tp🤔 ok lah... hitung hitung ikut meramaikan suasana," jawab Nana dengan senyum manisnya yang membuat jantung Anto deg..ser...deg...ser.
"Aduh... Na... jantung Abang deg... degan nih... lihat senyum manis Lo,, " gombal receh yang keluar dari mulut Kak Anto.
__ADS_1
"Nana mau gak loh jadi pacar Gue? ucap Kak Anto dengan wajah serius berikutnya.
"What...."
"Susanto... menurut penanggalan Jawa, hari ini Ahad Kliwon apa yah..., konon katanya saat Kliwon, setan banyak yang berkeliaran, jangan-jangan ada yang nemplok di jidat kak Anto,"jawab Nana Santai dan asal-asalan sambil menjawil Susanto, sore begini udah digombali Kak Anto.
Susanto dan kak Fajar yang mendengar kalimat Nana tertawa ngakak.
"iya.. Na.. Anto ketempel jin jatuh cinta." sahut Fajar.
sialan Lo...
Saat ini pukul 15.30, Anto mengajak Alvin dan Nana langsung menuju ke Kafe Lope. Anto berinisiatif memboncengkan Nana, karena tahu Nana biasa dengan Alvin maka Anto mengkode Susanto untuk membonceng motor Alvin.dan diacungi jempol oleh Susanto.
Nana memakai helmnya dan hendak naik motor Alvin, tetapi disana sudah bertengger Susanto.Kak Anto menarik tanganku, dan menyuruh ku membonceng motornya. Dengan terpaksa aku naik ke motor kak Anto.
Alvin yang menyadari bahwa Nana membonceng Anto, hanya geram dan memarahi Susanto.
"Ngapain Lo bonceng gue.... Sana Lo bonceng Kak Anto, biar Nana bonceng gue,"sungut Alvin dengan kesalnya.
Susanto tidak mau turun. terlihat motor kak Anto juga sudah melaju dengan lambat. Akhirnya Alvin pun mengalah dan melajukan motornya.
Anto terlihat senyum senyum sendiri, karena bahagia bisa memboncengkan Nana. Dia tidak rela bila cepat sampai ke kafe.
__ADS_1