
sekilas Riri dan Toni.
"Alvin memang gila buat usul yang hampir saja membuat jantungku seperti mau meledak, tiba-tiba mengusulkan menikah,dan aku harus mengucapkan kalimat sakral pernikahan, padahal aku belum persiapan sebelumnya loh," ucap Toni membuka percakapan dengan Riri, sesaat setelah masuk ke kamar Riri.
" Bukannya kamu yang merencanakan dan menyuruh Alvin untuk mengusulkan pernikahan ini," tanya Riri penasaran yang duduk di sebelah Toni.
" Ini murni ide gila Alvin sayang, tadinya aku sama sekali belum berniat menikah saat ini, Aku inginnya lamaran dulu biar ada persiapan gitu secara batin, yang awalnya aku hanya seorang kakak dan seorang anak bagi ayah bundaku, sekarang aku harus belajar untuk menjadi seorang suami bagi istri ku yang cantik, tapi sebenarnya aku juga sangat bahagia dengan ide Alvin, sekarang aku bisa dengan tenang tanpa ketakutan menciummu seperti ini, " ucap Toni yang menempelkan bibirnya pada bibir mungil Riri, ciuman yang awalnya kaku namun semakin lama semakin panas.
Dengan nafas terengah-engah, Toni melepaskan pangutan bibirnya, karena Riri hampir kehabisan nafas, ini pertama kalinya untuk keduanya berciuman sedalam itu. Riri tersenyum dengan wajah memerah karena malu.
"Yang, kita pindah ke sana yuk," ajak Toni menunjuk ke arah ranjang Riri, Riri mengangguk dengan malu malu.
Toni yang sudah tidak sabar, langsung mengangkat tubuh Riri dan membawanya ke ranjang dan meletakkan dengan pelan.
...
Alvin melajukan motor dengan kecepatan sedang, langit yang mendung tiba tiba menurunkan gerimis Alvin menghentikan motor di sebuah kedai kopi. Nana turun terlebih dahulu, setelah melepas helm, Nana berteduh terlebih dahulu. disusul oleh Alvin yang kemudian mengandeng tangan Nana yang kedinginan masuk ke dalam kedai.
__ADS_1
"Selamat sore mbak, pesen kopi hitam satu dan kopi susu satu mbak," pesan Alvin pada pemilik kedai yang terlihat seksi dengan balutan tanktop hitam dan rok hitam selutut.
"Iya mas, sebentar saya siapkan dulu," ucapnya dengan senyum genit. Nana yang melihat adegan itu tersenyum dengan geli. sedangkan Alvin dengan cuek melahap pisang goreng yang masih hangat dihadapannya.
"Yang, sepertinya kita tidak bisa menikmati sunrise deh kondisinya begini sih, kita cari hotel saja, malam ini kita nginap di hotel Deket pantai, siapa tahu besok pagi bisa kita menikmati sunset," ucap Alvin pada Nana yang ikut menikmati pisang goreng.
"Tapi ini Khan weekend, biasanya hotel penuh mas, masalahnya kita tidak booking dulu." sahut Nana.
"Kalo hotel penuh bisa nginap di rumah saya mas, rumah saya juga tidak jauh dari pantai kok, saya cuma tinggal dengan anak saya yang masih umur lima tahun,' sela pemilik kedai yang datang membawakan kopi pesanan Alvin.
"lah memang suami mbak di mana?" tanya Nana penasaran.
"Mbak ini adiknya ya mas?' tanya pemilik kedai yang kepo melihat pemuda ganteng akut, jiwa kejandaannya meronta.
"Waduh mbak, ini istri kesayanganku mbak, kami barusan menikah, pingin honeymoon ceritanya mbak," jawab Alvin yang merangkul Nana yang duduk di sampingnya.
"Walah mas, saya kira adiknya, mas punya saudara yang mirip mas tidak?
__ADS_1
"mau apa mbak?
'mau saya jadiin, suami kedua saya mas," seloroh pemilik kedai sambil tertawa renyah.
Alvin hanya geleng kepala, menanggapi celotehan pemilik kedai. "berapa semuanya mbak," tanya Alvin
"tiga puluh ribu mas, mbake memang beruntung punya suami ya ganteng pisan euy, tapi hati hati mbak banyak pelakor, contohnya saya, ha...ha...ha..," jawab pemilik kedai.
"Ini mbak, kembaliannya untuk anak mbak saja!" ucap Alvin sambil menyodorkan uang Lima puluh ribu.
"Oh iya mas, aku sudah dapat satu kamar di hotel Mulia, tadi aku sudah pesan lewat aplikasi, kita ke sana sekarang, aku gak betah di sini, yang ada kamu digodain sama pemilik kedai kopi ini." ucap Nana .
"Permisi mbak, kami lanjut perjalanan lagi," ucap Nana dan Alvin pada pemilik kedai.
" Mampir lagi mas," jawabnya.
Nana yang tahu pemilik kedai melihat ke arah Alvin, langsung memeluk erat pinggang Alvin, senyumpun menghias bibir Alvin.
__ADS_1
...