
"Haiii...Nau, apa kabar? tumben ke rumah Nana, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Alvin yang langsung duduk di sebelah Nana.
" kabar gue baik, tidak ada sesuatu yang penting, hanya kangen saja pingin bertemu dengan Nana dan mengajak berangkat bersama, karena habis ini gue mungkin jarang ketemu Nana," jawab Nau yang membuat Alvin geram dan mengepalkan tangannya.
***
Sementara itu Mbak Dewi yang tadi penasaran dengan sosok Nauli berjalan ke tirai dan mengamati Nauli yang sedang berbincang dengan Nana. Sekilas ia mendengar pembicaraan Mereka, Mbak Dewi pun kembali berjalan mendekati Elang," bener katamu Lang, saingan cinta Alvin begitu berat, makanya Alvin ngebet pingin nikahin Nana secepatnya," ucap mbak Dewi.
"Saingan Alvin bukan cuma Nauli mbak, ada lagi, kakak kelasnya, herannya hampir semua yang menyukai Nana ganteng bin tampan," kata Alvin yang membuat Dewi heran.
"Kalau dilihat dari Fisik, Nana tidak begitu cantik, heran juga makhluk sekelas Nauli dan Alvin bisa bertekuk lutut di hadapan Nana." ucap Dewi yang masih saja keheranan.
"Mungkin inner beauty yang dilihat mereka mbak," sahut Elang.
***
"Maaf Nau, aku berangkat bareng Alvin, kamu hati hati di jalan ya, dan selamat menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ikuti kata hatimu dan semoga sukses, Oh iya... Gue mau berangkat dulu, keburu siang bisa bisa terlambat sampe sekolah." ucap Nana yang membuat Nau harus tahu diri untuk segera pamit.
__ADS_1
"ya udah gue sekalian pamit, salam buat Ayah dan ibu mu Nana," pamit Nau melenggang pergi ke halaman, untuk mengambil mobilnya.
Alvin sengaja menggandeng dan merangkul bahu Nana di depan Nauli. dia ingin menunjukkan bahwa Nana adalah miliknya.
"Ah ... Alvin..., lepasin! malu dilihatin orang."
ucap Nana namun Alvin tidak bergeming dan masih terus merangkul bahu Nana.
Nauli berjalan menuju halaman tempat mobilnya parkir, ia segera membuka pintu dan memasuki mobilnya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang. ada sedikit kekecewaan, namun bukan saatnya menyerah, gumamnya dalam mobil.
"Lo adalah milik gue, jagalah hati gue, agar selalu ada dalam pesonamu. Gue mencintai Lo seutuhnya, semua yang ada pada lo, gue menyukainya, Lo tahu gue sangat cemburu saat ada lelaki ya mendekati Lo," ucap Alvin
"terus apa gue gak boleh berteman dengan mereka? please deh Vin... jangan posesif begini, Lo tahu sendiri, gue juga sayang sama Lo, mereka hanya sekedar teman, tidak lebih," jelas Nana yang berusaha menenangkan Alvin.
"iya... kamu memang menganggap mereka teman, tapi mereka menginginkan lebih dari sekedar teman Nana, kamu aja yang gak paham," sungut Alvin.
"sudah ah... ayo berangkat sekolah, kalo ngomong terus gak akan sampai di sekolah, masak hari pertama masuk sekolah sudah terlambat." ucap Nana.
__ADS_1
***
Alvin membawa motornya dengan kecepatan tinggi, berharap tidak terlambat sampai ke sekolah, benar saja mereka sampai di parkiran bersamaan dengan bunyi bel tanda masuk sekolah.
Mereka bergegas menuju ke halaman sekolah untuk melaksanakan upacara bendera.
"Syukurlah kalian tidak terlambat, coba terlambat sedikit saja kalian akan jadi pager jemuran kayak itu, ucap Rita yang datang duluan sambil menunjuk beberapa anak yang datang terlambat dan berbaris di sebelah tiang bendera.
Hari ini kepala sekolah memberikan wejangan panjang kali lebar kali tinggi terutama untuk kelas dua belas. empat puluh menit upacara berlangsung, lumayan membuat kaki pegel dan keringat bercucuran.
Semua siswa berlari menuju papan pengumuman untuk melihat mereka duduk di kelas mana. Nana dan teman-temannya tidak ikut nimbrung melihat papan pengumuman tapi duduk santai di gazebo, menunggu semua bubar baru melihat pembagian kelas.
Toni dan Nana berada di kelas yang sama yaitu kelas XII A, Nana kembali mengamati satu persatu teman sekelas, matanya terbelalak melihat nama Lily Anastasia. "Nasib gue apes bener, sekelas bareng sama Mak Lampir, Ucap Nana yang kemudian teman teman ikut melihat kertas pembagian kelas itu.
sedangkan Alvin, Riri dan Rita berada di kelas yang sama kelas XII B.
...
__ADS_1