Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
102


__ADS_3

Sore hari Nana terbangun dengan kepala berdenyut, "ah... pusing kepalaku," Nana pergi ke kamar mandi dan berendam air hangat. dia memejamkan matanya. setelah berendam beberapa lama, badannya terasa lebih fresh.


"aku tidak mau lagi bertemu Alvin, aku ingin menenangkan pikiranku, cukup Sudah penantian ku selama ini. lima tahun bukan waktu yang lama tapi juga bukan waktu yang pendek pula.


"tok ..tok..."


Nana langsung mengganti pakaiannya dengan baju kulot panjang dan kaos panjang juga, tidak lupa menyisir rambut panjang sepunggungnya.


cklek .. kriet...


suara pintu terbuka, nampak di sana Nauli berdiri dengan gagahnya.


"Ayok jalan jalan," ajak Nau pada Nana.


besok aja ya Nau kepalaku rasanya sakit, berat , sementara gue mau istirahat dulu, mungkin imbas perbedaan musim kali yah! jelas Nana pada Nauli.


"perlu ke dokter?" tanya Nau.


"tidak perlu, gue hanya butuh istirahat dan mungkin minuman hangat." jawab Nana.


"Nanti malam kamu ikut dinner di rumah klien papa?"

__ADS_1


" kalo badan gue bisa diajak kompromi gue pasti ikut, tapi kalo masih seperti ini kayaknya mending istirahat, dari pada tambah sakit." ucap Nana.


"kita ke bawah saja cari minuman hangat, setelah itu kita pergi ke jembatan di sana matahari tenggelam terlihat sangat indah. waktu Lo disini kan tidak lama, ayo! sempatkan untuk berkeliling daerah Jerman," ucap nauli memaksa Nana sambil menggandeng tangan Nana seperti anak kecil, agar keluar dari kamar.


"nanti pulangnya kita mampir ke apotek untuk membeli obat pusing kalau memang Nana masih merasa pusing," ucap Nau lagi.


Nana dan Nauli duduk di kafe yang letaknya tidak jauh dari hotel.


"makasih banget Nau, Lo memang sahabat gue yang terbaik, Lo tidak melupakan keberadaan gue walaupun sudah 4 tahun kita tidak bertemu,"ucap Nana yang mengingat bagaimana Alvin melupakannya.


" Bagaimana mungkin gue bisa lupa sama lo Nana, karena lo adalah orang yang sangat gue cintai, asal Lo tahu Nana, gue melakukan semua ini bukan tanpa maksud, gue ingin berhasil dalam kehidupan ini dan bisa membahagiakan diri Lo," ucap Nauli bersungguh-sungguh.


" kumohon jangan terlalu berharap pada gue, karena belum tentu kita berjodoh , Siapa yang tahu rahasia Tuhan, bisa jadi sekarang kita suka , eh ..besoknya lagi kita sudah saling membenci. maka jalani saja apa yang ada di depan mata, sungguh gue sangat senang saat ini, terima kasih banyak Nauli, dan seperti apa pun kondisi kita, tetaplah jadi sahabat gue."ucap Nana sambil menikmati jahe hangat di kafe pinggir jalan yang rame lalu lalang pejalan kaki.


Pukul tujuh malam pak Davin dan Tante Lina sudah siap untuk berangkat dinner di rumah kediaman Tuan Kevin, Nana yang tadinya ingin ikut hanya bisa minta maaf pada pak Davin karena badan Nana tambah demam.


"Nauli, Pak Davin, Tante, maaf Nana tidak bisa ikut, Nana ingin istirahat dan tidur." ucap Nana saat mereka ingin menghadiri acara dinner. Nauli yang rencananya memang tidak ikut dan ingin merawat Nana, namun Nana menolak, agar istirahatnya cukup karena nanti kalau ada Nau malah cerita tidak jadi istirahat itu alasannya.


Nana kembali masuk kamar dan menyelimuti tubuhnya. dan kembali terlelap setelah minum obat.


Sementara itu tuan Davin sudah sampai di kediaman Tuan Kevin dan disambut oleh tuan Kevin dan tuan Alvin juga keluarga mereka.

__ADS_1


Alvin melihat ke sekeliling tuan Davin seperti mencari seseorang.


" Dimana sekertaris anda tuan?" tanya Alvin penasaran.


" sebenarnya dia ingin ikut tapi dari tadi malam badannya demam jadi dia tidak bisa menghadiri acara dinner kali ini," ucap pak Davin.


" selama ini anda menginap di mana tuan? tanya Alvin penuh selidik sambil mempersilahkan mereka masuk


" hotel Munich Marriott," jawab pak Davin


Setelah berbincang sebentar Alvin permisi ada keperluan keluar, dan pak Davin ditemani tuan Kelvin.


Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaanya campur aduk, sampai bingung apa yang harus dilakukan.


setelah tigapuluh menit berkendara, akhirnya Mobil sampai diparkiran pada sebuah hotel mewah.


Alvin menemui resepsionis dan menanyakan sebuah kamar, setelah berbincang agak lama dan alot, Alvin akhirnya mendapatkan kartu dan menuju ruangan yang dicarinya, lantai Tiga ruang 105.


Alvin menggesek kartu dan seketika pintu terbuka, ruangan nampak temaram, matanya berkeliling seperti mencari sesuatu.


Alvin melihat sesosok wanita berselimut yang sedang tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Lama Alvin memandang wajah wanita yang sedang tidur di hadapan. Air mata Alvin menetes...


...


__ADS_2