Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
18. Pelukan


__ADS_3

Awas typo bertebaran di mana-mana.


salam kenal buat semuanya, yang belum kenal bisa kenalan dulu.


++++++++++++++++++++++



Nana pulang dari kafe diantarkan oleh pangeran kampret tampan Alvin, sebenarnya ada yang mau Nana tanyakan sama Alvin, tapi sudah terlalu sore, mungkin lain waktu.



Setelah sampai di halaman rumah Nana, Nana turun duluan dari motor sambil melepas helm.



Sepulang dari Kafe wajah Alvin selalu ditekuk, Nana jadi bingung, "ada apa sebenarnya dengan Alvin, apa iya Alvin cemburu gara gara Kak Anto yang anterin ke kafe tadi." batin Nana.



"Thanks ya Vin, dah antara gue, ehh lo jadi kaya gojek pribadi!" ucap Nana sambil tersenyum tapi tidak juga dibalas oleh Alvin



" Lah ni kampret tampan kenapa? batin Nana.



"Lo kenapa Vin, pulang dari kafe wajah Lo jutek Mulu, ntar tampannya ilang Lo," goda Nana sambil cengengesan. Namun lagi-lagi


Alvin masih saja bungkam tidak mau menjawab pertanyaan Nana.



"Dihhh... ni kampret kayaknya marah beneran deh" batin Nana.



Alvin masih bertengger di atas motornya, aku mengambil inisiatif memegang kedua pipi Alvin dengan kedua tanganku. aku menatap mata Alvin, "Lo kenapa? apa tidak enak badan, dari tadi wajah Lo jutek Mulu?" tanyaku dengan hati hati.


__ADS_1


"Eh..." tiba tiba Alvin memelukku sangat erat sampai sesak dadaku.ini kampret kenapa lagi.



"Nana tetaplah bersamaku, jangan tinggalkan aku...,aku sayang kamu," bisik Alvin ke telinga Nana. "Aku sedang tidak bercanda, tidak prank, aku juga tidak sedang menggombal Nana, Aku begitu sedih, begitu cemburu melihatmu bersama lelaki lain." lanjut Alvin sambil melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Nana.



Sekarang malah gantian aku yang bengong, bingung aku harus Jawab apa. Ya.. Allah rasanya jiwaku melayang layang, mendengar bisikan Alvin. antara kenyataan dan mimpi, tanpa sadar aku cubit tanganku, "eh .. sakit," berarti ini nyata.



"Lah kita kan setiap hari bersama, kamu antar jemput aku juga, dan.... aku bahagia bersamamu Vin, jawab Nana balik menatap Alvin.


"Terimakasih sudah mau berbagi dan bersahabat denganku" lanjut Nana.



"Pulang dulu gih... sampai jumpa besok," Nana menyuruh Alvin pulang dulu.



"Ya udah ... aku pulang dulu, by..,"sahut Alvin sambil memakai helm dan melajukan motornya.




Di dalam kamar Nana masih senyum senyum sendiri. dia merebahkan badannya di atas spring bed singgle miliknya, tubuhnya guling guling kekiri dan kanan mengingat pelukan dan ucapan Alvin.



"Ahhhhhhhhhhhh.... apakah ini kenyataan!!!!! bagaimana bisa Alvin yang tampan melebihi Oppa-Oppa Korea bisa jatuh cinta sama gue.


Apa yang dilihat dari gue.... ahhhh ... , jalani aja dulu takdir di depan mata." gumam Nana.



"Tok....tok...tok..."Kak Elang membuka pintu kamar ku.


"Na .. Mandi dulu terus magriban dan turun ke ruang makan," ucap kakakku yang hendak pergi ke masjid.

__ADS_1



"Ya...kakakku sayang, akan adinda lakukan titah kakanda," balas Nana sambil mengambil handuk dan lari ke kamar mandi.


Elang yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.



Benar saja setelah magriban, aku ke ruang makan, di sana sudah ada mbak Dewi , kak Elang, Ayah dan juga ibuku.



Ibu mengambilkan ayah nasi dan lauk pauk, setelah memberikan pada ayah, ibu mengambilkan nasi dan lauk untuk dirinya. aku mengambil Nasi dan sayur kangkung dan lele goreng.



"Bagaimana kuliahmu Lang," tanya ayah.


" Elang sudah mengajukan judul skripsi dan Alhamdulillah sudah diterima yah, ini sedang proses mengerjakan proposal dulu," jawab kak elang sambil memasukan makanan ke mulut nya lagi.



"Bagaiman dengan kamu Nana?" lanjut ayah bertanya pada Nana. "bagaimana apanya yah.... sekolahku baik baik saja, tapi dua Minggu lagi sudah tes kenaikan kelas," jawabku.



"Ayah... Ahad depan mas Wisnu rencananya mau datang ke rumah, mau bertemu dengan ayah" ucap Mbak Dewi dengan muka memerah karena malu.



"Cie...cie.. ekhm ... ekhm...yang mau di lamar..." sahut Nana dengan senyum menggoda.



"Anak kecil, diem saja," ucap kak Elang pada Nana.



"Ya sudah... ayah tunggu, kedatangan Wisnu dan keluarganya hari Ahad," jawab ayah pada Mbak Dewi.


__ADS_1




__ADS_2