
"Lo cantik Na, bentar... sini dulu, "ckrek", Anto mengambil foto dirinya dan Nana yang sedang berdampingan sambil merangkul bahu Nana.
"Ayo naik na!" ajak Anto yang sudah siap di atas motor.
Anto melajukan motornya menuju kafe, tapi sebelum sampai kafe motor Anto berbelok ke kiri.
"Loh kak kok belok ke sini kan kafenya di sebelah sana!" ucap Nana keheranan.
"Sebentar Na gue ada perlu, Lo temeni gue sebentar!"
Anto berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang besar dan cukup mewah, setelah satpam membuka pintu motor kak Anto langsung masuk parkiran.
"Ini rumah kak Anto? tanya Nana.
"Iya, yuk masuk dulu, gue kenalin dengan orang rumah.
Anto mengajak Nana masuk, rumah yang besar dengan perabotan yang mahal. Nana yang melihat itu hanya berdecak kagum. Rumah yang elegan dengan perpaduan gaya Eropa dan Jawa.
Nana melihat sosok wanita cantik yang keluar dari arah dapur. " baru pulang, nak? tanya perempuan tadi pada Anto.
" Iya Mah, Mm ...mah kenalkan ini teman Anto namanya Nana,'sambil tersipu malu
Nana langsung berdiri dari duduknya dan menyalami dan mencium tangan Mamah Anto yang bernama Tante Diana.
Anto meninggal Nana dengan ibunya menuju ke kamarnya
Nana yang memang mudah akrab dengan orang lain langsung dekat dengan Tante Diana. Nana menceritakan tentang Anto disekolah sebagai most wanted no 2 setelah Alvin.
Kak Anto yang sudah selesai berganti baju seragam dengan kaos oblong biru muda dan celana jeans hitam dengan rambut yang disisir jari tampak sangat tampan.
__ADS_1
"Tampannya, anak Tante Diana, pasti banyak cewek yang antre nih Tan," ucap Nana sambil memuji Kak Anto yang memang tampan.
"Anak Tante memang tampan Nana, tapi sampai sekarang belum ada yang diperkenalkan pada tante sebagai pacarnya, tante heran, masak anak tampan tante nggak laku juga.
"Apa perlu Nana bantu carikan Tante, Nana punya stok teman-teman yang baik di sekolahan pokoknya menantu idaman deh tante."
"Mah, aku maunya sama yang ini, gimana menurut Mama, kira-kira kita cocok nggak?" tanya Anto pada mamahnya dengan senyum menggoda.
Mamah Anto yang mendengar itu tersenyum simpul, "buat mamah sih asal perempuan baik baik dan bisa membahagiakan anak mamah itu sudah cukup"
"Kakak Anto itu adalah teman terbaik yang pernah saya punya Tan, kak Anto jangan ngajak bercanda tante deh!" ucap Nana dengan sewot.
Tante Diana yang melihat sikap Anto dengan wajah merona dan Nana hanya tersenyum misterius.
"Tante aku permisi dulu ya, sebenarnya tadi saya mau ketemu sama temen di kafe, tapi kak Anto malah mengajak ke sini dulu." terang Nana pada Tante Diana.
"Loh Kak, kamu mau ke mana?"
"Anterin Lo sampai ke kafe dengan selamat," jawab Anto sambil berjalan keluar setelah pamit dengan mamahnya.
" biar aku tak naik ojol aja," ucap Nana sambil berjalan mengejar Kak Anto.
"Gak ... noh lihat mamah gue melototin, ntar gue dikira laki laki gak bertanggung jawab.
lima menit perjalanan, Nana sudah sampai di kafe. Kak Anto thanks ya dah mau anter Nana. everything for you Nana.
Nana memasuki kafe dan mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang tadi menelponnya, Nana mengamati jam tangannya sudah pukul 14.10 tapi sosok yang dicari Nana belum nampak batang hidungnya.
__ADS_1
Satu jam sudah Nana menunggu di kafe namun yang ditunggu malah belum datang juga. Nana mengambil ponselnya dan menghubunginya, telpon diangkat namun suara yang terdengar adalah suara orang lain.
"maaf... Naulinya ada? tanya Nana pada orang di sebrang.
"oh... Anda temannya? pemilik HP ini mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di Rumah Sakit X. Nana terkejut antara percaya dan tidak. setelah Nana mengambil Nafas dan membayar tagihan kafe langsung memesan ojol menuju rumah sakit X.
Dengan nafas ngos-ngosan Nana menuju ke bagian informasi menanyakan keberadaan Nauli. perawat menunjukkan ruang amarilis di lantai 5.
Perlahan Nana membuka pintu ruangan kelas 2, Mata Nana melotot saking terkejutnya, terlihat ada lelaki yang terbujur dengan kaki dan wajah terbungkus perban.
"Nau Lo kenapa? kok bisa gini sih! gue nungguin Lo satu jam di kafe. Nau Lo sendiri di sini apa Tante Lina belum dikasih tahu?" ucap Nana sambil terisak dan memegang tangan pasien yang hanya kelihatan matanya, tanpa ada Jawaban dari Nau.
terdengar bunyi Gordin terbuka dari ruang sebelah.
"kreeekk... "
"Lah ... ini tangan siapa yang gue pegang, ucap Nana dengan mata terbelalak, saat melihat Nau sedang tersenyum kearahnya.
"Ya Allah Nau .. kenapa Lo diam saja denger gue ngomong dari tadi." tanpa sadar, Nana berjalan memeluk Nau dengan erat.
"Syukurlah! Lo gak papa, gue kira Lo yang disebelah dengan perban disekujur tubuh.
Nau yang dipeluk hanya tersenyum bahagia, sambil meringis kesakitan.
"Eh... maaf mana yang sakit? ucap Nana sambil melepaskan pelukannya karena melihat Nau kesakitan.
__ADS_1