
Alvin sengaja menggunakan motornya yang masih terawat dengan baik, dipikir pikir sekalian bernostalgia mengingat saat SMA bersama dengan Nana.
"Yang aku ingin naik motor, aku merindukan saat-saat kau memeluk pinggangku dengan erat,"ucap Alvin yang mengenakan jaket kulit miliknya.
"Aku sih iyesss aja, dengan ide kamu mas, aku juga kangen saat dulu, yah cuma aku mesti bawa baju ganti, masak datang ke lamaran pake celana jeans kan gak lucu," ucap Nana.
"Inikan weekend, entar kita mampir ke pantai yang dulu kita pernah kesana ya!" ucap Alvin yang sudah duduk di motor kesayangannya.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, sehingga perlu waktu hampir satu jam untuk menuju ke rumah Riri. Pukul tujuh Nana Dan Alvin baru sampai.
Rumah masih tampak sepi, karena acara akan dimulai pukul sembilan. Nana mengetuk pintu rumah Riri, Bibi membuka pintu dan menyuruh masuk Nana yang sudah dikenal dari dulu
Ya Allah, neng Nana makin cantik saja, sama den Alvin pasti ya," tebak bibi yang dulu tahu kalau Nana pasti datang dengan Alvin.
"Iya bik, tuh orangnya sedang duduk di teras,"jawab Nana menunjuk Alvin yang sedang berbicara di telepon.
__ADS_1
"Sayang, aku ke tempat Toni ya? nanti aku berangkat dari rumah Toni, kata Toni suruh menemani ibarat pengiring mempelai putra. motor aku tinggal di sini, karena Toni jemput aku." pamit Alvin pada Nana.
Rumah Toni dan rumah Riri jaraknya tidak jauh cukup lima menit pakai motor sudah sampai. Tony menjemput Alvin yang berada di rumah Riri, dia tidak berani turun sehingga Alvin yang mendekatinya ada langsung masuk ke dalam mobil.
"Pagi om, Tante," sapa Alvin pada papa dan mama Toni. Toni adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adik Toni perempuan dan saat iniasih kuliah sedang adiknya yang ke dua masih kelas tiga SMA.
Alvin mengenal baik keluarga Toni.
"Pagi, Alvin tambah ganteng saja nih,"
"Eh enak saja, yang ada gue lah yang nyulik perawan, bukan perawan yang nyulik gue, tapi gue culiknya cukup satu perawan saja, yaitu istri gue lah," jawab Alvin.
...
Acara lamaran berjalan dengan lancar, tapi sebelum acara selesai, Alvin berbicara yang membuat orang yang hadir terkejut,
__ADS_1
"Mohon maaf bapak dan ibu semua, perkenankan saya untuk memberikan ide dan usul untuk memperlancar hubungan kedua calon mempelai yang akan mengadakan resepsi tiga bulan lagi, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan alangkah lebih baik kalau mereka dinikahkan secara agama terlebih dahulu untuk menghalalkan mereka," ucap Alvin sambil tersenyum
semua yang hadir hanya terperangah, mendengar usulan Alvin.
" Maaf, nak Alvin sepertinya tidak bisa, kami sudah menentukan tanggal pernikahan, jadi biarlah mereka menikah pada waktu yang sudah ditentukan," ucap ayah Riri.
"Iya pak saya juga tahu, tapi siapa yang tahu kalau Toni sudah tak tahan dengan Riri, mereka lama pacaran pak, takutnya zinah pak, apa bapak ingin cucu bapak ada sebelum ada ikatan pernikahan, kasihan pak! jadi nikahkan saja mereka secara agama dulu, toh ada kedua mempelai, wali perempuan dan saksi, kan jadi tidak dosa kalo mau begituan, undangan resepsi pernikahan tetep di tanggal yang sama," ucap Alvin.
"Mas apaan sih kamu, main suruh paksa menikahkan mereka sekarang," tanya Nana yang berada di sebelah Alvin.
"Aku hanya kasihan sama Toni, toh sama saja nikah sekarang apa nanti tetep saja Riri sama Toni, biar dia bisa merasakan surga dunia," ucap Alvin yang belajar dari pengalaman.
Setelah berunding agak lama akhirnya usul Alvin diterima oleh kedua belah pihak. JadilahToni menikahi Riri secara agama. Setelah bapak Riri mengundang pak RT dan tetangga sekitar untuk menjadi saksi.
Keringat keluar dari dahi Toni saat dia belajar mengucapkan ijab qobul, setelah berlatih beberapa kali akhirnya ijab qobul berlangsung dengan hikmat. Senyum puas tersungging dari bibir Alvin.
__ADS_1
"Selamat ya bro, bagaimana usulku jenius kan, aku mempermudah kalian untuk bisa merasakan surga dunia, kamu pasti ketagihan," bisik Alvin pada Toni saat pamit pulang.