Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
103


__ADS_3

Alvin menggesek kartu dan seketika pintu terbuka, ruangan nampak temaram, matanya berkeliling seperti mencari sesuatu.


Alvin melihat sesosok wanita berselimut yang sedang tidur dengan nyenyak.


Lama Alvin memandang wajah wanita yang sedang tidur di hadapan. Air mata Alvin menetes. tangannya memegang kening Nana.


" tubuhmu demam Nana, padahal kemarin masih baik baik saja." kamu harus sehat, jangan sakit!


"maafkan gue Nana yang tidak pernah memberi kabar pada Lo, semua hal bukan karena gue inginkan, tapi keadaanlah yang membuat gue jadi begini," ucap Alvin yang memegang tangan .


hampir dua jam Alvin menemani Nana, tapi Nana sama sekali tdk bangun, Alvin memesan makan malam untuk dirinya dan Nana, dia yakin Nana pasti belum makan apalagi kondisi begini.


Nana terbangun karena ingin ke toilet. dia berusaha bangun dan duduk di kasur, dia tidak melihat Alvin yang duduk di sofa sambil memandangi kepergianya menuju toilet. jalannya sempoyongan seperti orang mabuk, sebenarnya Alvin ingin menggandengnya tapi takut membuat Nana terkejut.


setelah selesai dari kamar mandi, Nana hendak kembali ke tempat tidurnya. namun dia dikejutkan dengan suara yang tak asing ditelinganya. "Nana...Nana..." Nana hanya menggelengkan kepala, "apa karena demam, atau karena terlalu kangen dengan Alvin, aku jadi halu," gumam Nana.


Nana sudah duduk di ranjang terdengar kembali "Nana...Nana..." ya Tuhan, apa aku sudah jadi gila, karena merindukan mu, Vin!" teriak Nana karena terus mendengar suara Alvin memanggil namanya.


Nana langsung masuk dalam selimutnya, dan menutupkan sampai ke kepala.


Alvin tersenyum senang melihat tingkah Nana. Alvin langsung mendekat menuju Ranjang dan duduk di pinggiran, "Nana ini gue," ucap Alvin. hanya terdengar teriakan dari dalam selimut.


Alvin ikut merebahkan diri di ranjang dan memeluk Nana yang ada dalam gulungan selimutnya. Nana kaget bukan kepalang merasakan ada sesuatu yang mendekapnya.


Nana berusaha membuka selimut namun dia kembali terlonjak kaget saat melihat sosok lelaki mendekap dia dan selimutnya.

__ADS_1


Nana berusaha mengamati, sosok lelaki tampan di depannya, "Alvin ... itu kamu atau kamu hantuuuuuuu gentayang, Ah...hhhh," teriak Nana ketakutan.


"kenapa lama tidak bertemu, sekarang kamu hobi dan suka teriak-teriak," ucap Alvin yang menutup telinga karena teriakan Nana.


"untung ruangannya kedap suara, coba kalo tidak mungkin penghuni hotel akan datang ke kamarmu," ucap Alvin sambil menyalakan saklar.


Al.... Alvin... apa kamu sudah jadi hantu gentayangan, bagaimana bisa Lo masuk kamar gue?" suara teriak Nana yang ke sekian kali.


"ini beneran gue," ucap Alvin memeluk erat tubuh Nana.


" maaf... maafkan gue, Nana..."ucap Alvin sambil menangis.


Lo hutang penjelasan sama gue," ucap Nana sambil melepaskan pelukan Alvin.


Alvin membuka pintu dan menyuruh pelayanan meletakkan makanan di atas meja.


setelah pelayan keluar Alvin mengajak Nana makan .


" habiskan makanannya setelah itu gue akan jawab semua pertanyaan Lo," ucap Alvin yang juga menyantap makan malamnya.


Walaupun rasanya pahit di lidah tapi Nana berusaha menghabiskan semua makanan yang terhidang agar rasa penasaran nya bisa terbayar.


"sudah habis, sekarang lo cerita semua ke gue, kenapa Lo ngilang selama lima tahun tanpa kabar berita, seperti ditelan bumi" ucap Nana sambil menelan suapan terakhir.


Alvin yang juga selesai makan dan menenggak habis air putih di gelas mulai menceritakan kejadian yang terjadi.

__ADS_1


"Lo tahu kan kalo dulu kakek gue kritis, makanya kami sekeluarga pergi ke Jerman.


"sesampainya di Jerman kami tidak langsung ke rumah sakit, kami ke rumah kakek. setelah cukup istirahat mamah dan papah pergi duluan ke rumah sakit, mobil yang membawa mamah dan papah mengalami kecelakaan. papah mengalami kritis juga, sedang mamah dia hanya luka ringan tapi tidak tahu mengapa mamah tidak bisa berjalan.


" lima bulan setelah kritis, papah meninggal, tapi saat itu juga kakek bangun dari koma panjangnya. satu sisi sedih tapi satu sisi juga senang." ucap Alvin sambil mengusap air matanya.


Sebenarnya yang seharusnya menjalankan perusahaan milik kakek itu papa, tapi karena perusahaan papah kritis maka mas Kevin yang disuruh menjalankan. Gue baru bergabung di perusahaan dua tahun lalu, atas permintaan mas Kevin, selama ini aku hanya merawat mamah dan bersekolah.


Air mata Nana sudah menganak sungai, mendengar kisah Alvin, Nana berjalan mendekati Alvin dan memeluk Alvin sangat erat


"lo tidak perlu menangis untuk gue, Lo tidak perlu bersedih untuk gue, maaf kan gue Nana,


harusnya Lo yang marah ke gue karena gak menepati janji," ucap Alvin dengan terisak.


"Alvin... tidak ada yang bersalah dalam hal ini. semua adalah suratan takdir yang sudah di tetapkan. kita tinggal menjalani saja, yakin saja banyak hikmah dibalik setiap kejadian.


gue pikir kemarin Lo gak inget sama gue, sampai menyapa saja sudah tidak mau." ucap Nana yang masih memeluk Alvin.


"gue bingung saat lihat Lo didepan mata gue, apa yang seharusnya gue ucapkan karena tidak terpikirkan sebelumnya, lidah gue rasanya kelu, gue hanya pandang wajah Lo yang nampak kecewa pada gue." jawab Alvin.


"Vin ... bawa gue ketemu Tante Nena sekarang!" ucap Nana meminta pada Alvin.


"tapi ini sudah malam, hampir jam sepuluh," ucap Alvin menolak.


...

__ADS_1


__ADS_2