
-----Alvin pov----
Kemarin aku melihat Nana tersandung tali sepatu dan terjerembab jatuh menubruk peluk laki-laki bernama Nauli, Kapten klub Bola Voly dari SMA Garuda, jadi deh penampakannya seperti orang pelukan. Aku aja selama ini belum pernah meluk Nana, paling cuma gandeng tangan.
Eh... Kak Anto juga menunjukkan tanda tanda perang nih. Saat mau kuantar Nana, eh... malah dianya berbonceng dengan Kak Anto, hatiku rasanya panas, kenapa juga Nana tidak ngeyel minta bonceng aku, eh... malah curut itu yang bonceng aku.
"dihh ...." mana motor kak Anto jalannya pelan banget, masak dari sekolah ke kafe yang biasanya ditempuh lima sampai sepuluh menit, ini bisa tiga puluh menit baru sampai. ini pasti modus mau deketin Nana pikirku.
Aku curiga jangan-jangan Kak Anto juga naksir sama Nana, duh... saingan gue tambah satu. mana Nana orangnya baik banget lagi, BT gue jadinya.
Akhir-akhir ini aku seperti orang gila, aku selalu kepikiran dan sangat takut kehilangan Nana. aku selalu ingin bersamanya, kayak aku sudah menjadi bucin beneran tapi memang iya sih.
Maka selama perjalanan dari kafe ke rumah Nana perasaanku tidak karuan, Nana yang mengetahui keadaanku, menenangkan dirku, dia memegang pipiku menatap ke arahku, rasanya meleleh hati gue. Aku memeluk Nana dengan Erat, Tahu gak rasanya pelukan dengan Nana, beeuhhhh ... nyamaaaan banget, pingin banget peluk yang lamaaaaa, tapi belum Halal 😍. Akupun memberanikan diri mengatakan kalo aku menyukainya, dan menyayangi Nana.
Kalo ditanya apa Nana cantik, kok sampai aku menyukai nya? Bagaimana ya jawabnya, kalo dijawab jujur Nana itu kategori tidak cantik, Tinggi badan 160 cm, hidung pesek, rambut hitam ikal, kulit bersih tapi tubuh proporsional.
Apakah benar cinta datang karena terbiasa, atau witing tresno jalaran Soko kulino mungkin itu berlaku untukku. Aku mengenal Nana dari TK, gadis kecil yang mandiri pipinya tembem, hidung pesek, bawaannya gemezz, pingin cubit tuh hidung, kalo nggak ya pipi chubby nya. aku selalu mengganggunya kadang sampai membuat dia menangis.
Semakin berjalannya waktu aku merasa nyaman kalau ada dia, saat aku kesulitan belajar dia yang membantuku karena Nana memang otaknya encer walau jarang belajar, saat aku merasa galau dia yang nenangin aku. wajahnya jarang marah, walau di ejek, atau dihina dia selalu tersenyum tapi bukan berarti gampang ditindas Lo ya, kalo dia dah bales bicara, lawannya akan mati kutu, tapi jarang dia balas ejekan orang.
__ADS_1
Aku dikelilingi oleh cewek cantik dari yang miskin sampai yang kaya. ada yang terang terang mengatakan suka ada ada yang hanya memandangiku sambil takjub. bila aku berjalan dari parkiran rasanya hampir semua cewek melototi gue, dihh jadi sebel gue.
Kata temen temen aku tergolong mahluk tampan, ya karena itu cewek mengerubungi ku kayak lalat.
Selepas Maghrib ini aku di ruang tengah sambil tiduran ngobrol sama mama. Aku termasuk anak yang terbuka dengan Mamaku. sampai aku menyukai Nana saja aku ceritakan pada mama.
Ada suara ketukan pintu.
Tok...tok...tok Assalamu'alaikum.
aku bergegas membukakan pintu, "Eh... Nana .. masuk Na...," tumben nih kesini tanyaku pada Nana yang baru datang.
"Ini mah... Nana..., "balasku dengan sedikit berteriak.
"Eh Nana..." sapa Mama Alvin,
Nana berdiri dan langsung mencium tangan mamahnya Alvin.
Tumben malem malem ke sini ada ada Na?
Ini Tante nganter titipan dari Ibu dan mau mengembalikan buku Mat Alvin yang tak sengaja terbawa Tante, takutnya besok ada PR, kalau tidak mengerjakan bisa jadi wayang pajangan Tan,"jawab Nana sambil menyodorkan titipan ibunya yang berupa gudeg Jogja dan ayam kampung goreng.
__ADS_1
"Ini Vin, bukunya," sodorkan buku ke Alvin.
Alvin yang hatinya loncat loncat, tidak ingin kalau Nana cepat pulang. Aku punya ide agar Nana tidak cepat pulang.
"Mah Alvin ke kamar dulu mau minta ajarin Nana."
"Na ... sini deh" ajak Alvin sambil menarik Nana ke kamarnya.
"Ada Apa sih Vin," sungut Nana
"ajari gue ini," sambil menyodorkan buku kimia.
" gihhh... tadi gue pamitnya pergi sebentar, ntar gue pulangnya kemaleman," tolah Nana secara halus.
" entar pulangnya gue anter Lo, gak usah khawatir.
Nana duduk bersebelahan dengan Alvin, Alvin bukannya memperhatikan penjelasan Nana, tapi malah memandangi wajah Nana dengan saksama. sampai akhirnya jam Setengah delapan Nana pamit.
saat Nana mau berdiri dari kursi, Alvin juga berdiri, jadilah kepala Nana membentur dagu Alvin, Alvin terjatuh tapi tangannya menarik Nana, padahal maksudnya mau pegangan kursi. jadilah tubuh Nana ******** dada bidang Alvin.
__ADS_1
Nana ingin cepat berdiri tapi Alvin malah memeluk Nana dengan erat.