Sejuta Pesona Nana

Sejuta Pesona Nana
93


__ADS_3

Terkadang Nana teringat dengan Alvin yang sudah hampir delapan bulan pergi tanpa kabar. Nana tidak ingin merelakan Alvin pergi, walau sakit . pihak sekolah menyatakan kalo Alvin pindah sekolah ke Jerman . Keluarga Alvin Juga tidak ada yang kembali termasuk mas Kevin.


"Alvin kau mengatakan pada gue kalo lo mencintai gue selamanya, tapi mengapa lo meninggalkan gue sendiri tanpa kabar berita? apa yang sebenarnya terjadi..., gue sangat merindukan Lo hingga saat ini. gue rindu dengan kebersamaan kita, gue rindu saat kita kencan bersama, gue rindu dengan mulut usil dan bawelmu, kembalilah!! Sampai kapan gue harus menunggumu Alvin, Lo tahu bahwa gue juga sangat sangat mencintaimu.


"Ya Allah apakah benar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki," gumamku saat lintasan tentang Alvin muncul dan tak terasa air mata Nana mengalir tanpa diperintah.


Sekarang gue sedang fokus mencari perguruan tinggi tempat gue melanjutkan studi setelah kelulusan gue.


Masih seperti biasanya setelah Alvin pergi, Kak Elang yang selalu mengantarkan gue pergi sekolah, karena tempat kerja kak Elang searah dengan sekolah gue, jadi semenjak lulus enam bulan yang lalu dan bekerja sebagai teknisi mekanik di sebuah perusahaan mobil terkenal di kotaku maka setiap pagi gue berangkat bareng kak Elang.


"pagi Na... "sapa Toni dan Riri yang sudah kayak perangko ke mana mana selalu berdua.


"Pagi juga fantastis couple," jawab Nana dengan memberikan nama julukan pasangan dengan karakter seperti timur dan barat.


"Eh... Nana sayangkuh dah datang," sapa Susanto.


"Alay, ah ... "Jawab Nana.


" Si Panji kemana nih, apa belum datang?" tanya Nana sambil tengok kanan kiri.


"Tau tuh manusia es, belum kelihatan dari tadi," ucap Rita dari arah belakang.

__ADS_1


Hari ini mereka ke sekolah untuk melihat pengumuman kelulusan.


"kalian sudah menemukan Perguruan tinggi yang kalian inginkan?"


Ton Lo mau daftar mana?"


"kedokteran UI Na, doakan gue berhasil ya Na!"


"lah terus kalo Riri, masuk mana? apa ikut Toni, masuk kedokteran juga?


"gak lah, Jaenab!! mana Sampek otak gue kalo disuruh mikir berat kayak gitu," ucap Riri cengengesan.


"biarlah calon suami gue ini, yang sekolah berat, kalo gue mo daftar ke jurusan design interior aja," celetuk Riri.


"gue mo ambil jurusan manajemen bisnis saja, siapa tahu bisa buat perusahaan dan gue jadi kaya raya, entar kalo gue dah kaya, Lo semua gue traktir dah," ucap Nana sambil tersenyum.


"yeah markonah, mau traktir aja nunggu kaya raya, kalo gue mah gak mau buat perusahaan, tapi gue mau cari laki yang punya perusahaan, gak repot bisa langsung kaya raya tanpa kerja,"sahut Rita yang kemudian panen jitakan dari Riri dan Nana.


"eh.... itu pengumuman dah di tempel yuk merapat, penasaran Nih," ucap Riri


"gak ah, nanti aja gue gak mau berdesakan, sumpek," tolak Nana yang masih duduk di gazebo taman sekolah.

__ADS_1


Akhirnya Riri pergi sendiri melihat pengumuman, dia menrangsek ke depan papan pengumuman, dengan kelihaian merangsek sampai juga Riri di depan papan.


Dia mulai mengamati dari no urut satu, matanya terbelalak, disana tertulis nama Ratna Dewi Pambudi, kemudian nomer dua Toni sakata. nomer tiga Panji mata Riri terus melihat mencari nama dirinya. yah dia harus puas di nomer Lima belas dan dan Rita di nomer dua belas.


"panggilan kepada siswa atas nama Ratna Dewi Pambudi. segera menghadap ke kantor kepala sekolah, suara panggilan yang terdengar dari pengeras suara.


"eh... gak salah tuh, kepala sekolah manggil gue, apa ibu gue belum melunasi pembayaran SPP yah," tanya Nana pada teman yang ada disekitarnya.


"paling mau dikasih hadiah atau malah mau dijadikan menantunya sahut Panji yang baru saja bergabung.


"tumben Lo berpendapat, biasanya kayak manusia kutub nan miskin bicara, " sahut Toni.


"Hei ... sesama manusia miskin bicara dilarang saling menyahut," ucap Nana sambil tertawa.


"Eh... emang pak kep sek punya anak lelaki Pan, "tanya Nana penasaran dengan kalimat Panji.


"Noh sebelah Lo," jawab Panji menunjuk Susanto.


" hah ... beneran Lo anak pak kepsek, kok gue gak tahu." heran Nana.


"Lah Lo kan gak nanya," jawab Susanto

__ADS_1


"gih... cepetan sana menghadap pak kepsek, gak sopan membiarkan menunggu Lo, ucap Rita menengahi pembicaraan unfaedah mereka.


...


__ADS_2