
Brak... Prang.. Prang..
“Astaga!!” teriak Jakson, bangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh dari arah dapur, sontak matanya membulat terkejut dari tidur lelapnya.
“Suara apa itu!!” gumamnya penasaran yang kerap beranjak dari bidang empuknya dengan mengendap-endap mengawasi situasi.
“Apa jangan-jangan ada pencuri di rumahku?” lanjutnya masih mengendap-endap melangkah perlahan seraya membawa bantal yang ia dekap erat di dada bidangnya.
Prangg...
Suara terdengar lagi dari arah dapur, lebih tepatnya piring dan gelas kian berhamburan di lantai dengan pecahan-pecahannya yang memenuhi lantai.
“Siapa itu!!” teriak Jakson menghampiri dapur.
“Aaakkkkkk, si si si siapa di sana?” teriaknya terkejut seraya bertanya pada sosok yang tengah berdiri dengan rambut acak-acakan menghalangi wajahnya, membuat Jakson sempat salah mengira sosok itu adalah hantu, kemudian dengan kasar ia melempar bantal yang ia dekap sehingga mengenai tepat wajah wanita itu yang membuatnya jatuh tersungkur di atas pecahan kaca.
“Aaakk!” ringis wanita itu pelan.
“Astaga, rumahku!!” bentak Jakson saat mengamati dapur yang kerap berantakan layaknya kapal pecah.
“Apa yang kau lakukan pada rumahku!!” sambungnya kian emosi seraya menghampiri sosok itu tanpa menghiraukan tiap pecahan kaca di sana karena dirinya memakai sendal rumah.
“A aku lapar!!” balasnya pelan yang membuat Jakson membulatkan mata keheranan akan ucapan sepele itu.
Jakson kerap menatapnya, mengamatinya yang duduk bersimpuh di lantai dengan maksud Ingin memastikan dugaannya, Jakson berjongkok menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah gadis itu, penasaran apa benar seperti yang di pikirkannya. Jakson terkejut, sosok di depannya tak lain dan bukan lain adalah Megan.
__ADS_1
“Kau, kau sudah sadar” jelas Jakson kerap tak percaya.
Megan hanya mengangguk lemah atas pertanyaan itu. Dirinya tak kenal sosok lelaki tampan di depannya yang sempat membuatnya berpikir keras siapa gerangan sosok ini yang langsung saja melemparinya sebuah bantal.
“Syukurlah, kau sudah sadar, apa kau baik-baik saja sekarang, tidak ada yang sakit?” tanya Jakson lagi memastikan keadaan dari sosok yang baru saja terbangun selama tiga bulan ini.
“I, iya hanya saja sekarang ini aku lapar!!” balas Megan agak canggung dan malu karena dirinya meminta pada orang asing.
“Kau lapar! Kau lapar ingin makan sehingga menghancurkan rumahku!” gerutu Jakson menatap lekat ruangan dapur yang berantakan, menahan kesal dengan mengepalkan tangan, padahal semalam dirinya sudah bekerja keras membersihkan semua itu.
“Aku, aku minta maaf!!” balas Megan kerap merasa bersalah, tahu dirinya berlaku sembarangan di rumah asing ini.
“Hmmm.. sudahlah, kemari! kau tak akan mendapat makanan di sini, aku tak bisa masak jadi biasanya hanya memesan dari luar!” balas Jakson dengan desahan lemah, saat sepeti ini dirinya tak boleh berlaku kasar pada Megan yang baru saja sembuh.
Megan juga kian beranjak mengikutinya tanpa ringisan apa pun dari luka kecil di kakinya. Ia juga hanya menurut, takut dirinya jadi serba salah karena belum kenal sosok ini, tapi mau bagaimana lagi ia juga tak tau harus meminta dengan siapa sekarang.
Jakson menyambar ponsel di atas nakas, dirinya kerap sibuk mencari nomor ponsel Jim bermaksud menyuruhnya membeli makanan seraya memberi tahu bahwa pasien yang sudah di jaganya selama tiga bulan lamanya telah bangun dari tidurnya.
“Apa yang ingin kau pesan!” tanya Jakson.
“Apa saja!” balasnya tak berani meminta lebih, setidaknya untuk makanan sama saja baginya entah itu enak atau tidak.
Megan duduk bersimpuh di sofa, matanya kerap menerawang seluk-beluk rumah besar ini.
“Apa iya, rumah besar begini dia hanya tinggal sendiri” batinnya bertanya kerap mengamati tiap sudut rumah kemudian menatap Jakson yang kian sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Megan termenung, dirinya kerap mengingat masa lalu kelamnya. Ia betanya tanya, apa Devan akan mencarinya saat ini. Dihatinya sudah banyak luka, sudah tak mungkin lagi dirinya kembali pada cinta pertama yang menghianatinya.
Pada salah satu meja, terdapat kalender kecil di sana, ia menatap lekat kalender itu dengan saksama. Terlingkar tanggal 21 Maret di sana, tertuliskan hari kejadian di bawahnya.
“21 Maret, bukankah hari itu aku putus hubungan dengan Devan!” batin Megan mengingat kejadian pedih itu.
Jakson yang kerap sibuk dengan ponselnya sesekali melirik Megan, takut sosok itu akan membuat rumah berantakan seperti dapur. Di dapatinya Megan sedang menatap lekat termenung di depan kalender kecil itu.
“Sekarang sudah tanggal 2 Juni” seru Jakson memberi tahu dengan nada polos kemudian melanjutkan ketikannya dengan Jim.
“2 Juni! Apa sekarang sudah tanggal 2 juni!!” bentak Megan histeris tak percaya, pikirnya sekarang masih bulan Maret yang tak lain masa berkabungnya.
“Ada apa, mengapa kau berteriak seperti itu, ada apa dengan tanggal 2 Juni!” seru Jakson menatap heran sosok yang tengah histeris panik di depannya.
“Sekarang 2 Juni, jadi maksudmu aku tak sadarkan diri selama tiga bulan, ti..ga.. bulan!” jelasnya kerap berpikir menghitung jari tangannya, dan hal yang terakhir di ingatnya tak lain saat dirinya berjalan luntai kedinginan menyusuri trotoar dan seseorang mendorongnya kemudian tubuhnya mulai mati rasa saat sebuah mobil menabraknya.
“Si siapa kau? mengapa aku ada di sini? hari itu.. hari itu aku tertabrak bukan!” tanya Megan kerap memastikan, seolah sopan santunnya dan rasa penasaran kian merajai tubuhnya dengan perasan menggebu tak terkontrol.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1