
Saat para wanita masih sibuk di dapur, di ruang tamu pula tinggallah Jakson dan yang lainnya. Mereka duduk di sofa, tampak suasana di antara mereka juga mulai serius.
Mereka membahas masalah beberapa hari ini, yang tak lain pembunuh berantai yang sedang berkeliaran di sekitar lingkungan dan harus mereka waspadai.
“Apa sudah ada petunjuk dari pembunuh itu Davin?” ujar Jakson bertanya, harapnya pembunuh itu tak akan datang ke mari terlalu cepat.
“Ini rekaman cctv yang ada di sekitar wilayah ini, pembunuh itu selalu muncul dari arah gang! Aku sudah menghubungi rekan untuk mengintai di sana tapi masih tak ada petunjuk untuk saat ini!” jelas Davin memperlihatkan pada Jakson dan Sam rekaman cctv akan situasi di lingkungan sekitar tempat rekan Davin berjaga.
“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya! Meskipun sudah banyak polisi di dekat sini, tapi tidak menjamin kemungkinan pembunuh itu bisa datang kapan saja!” ujar Sam.
Ia sebelumnya sudah bertanya pada Jim akan situasi Jakson, dan terkejut saat tau bahwa yang mereka hadapi adalah seorang pembunuh berantai. Memang yang di targetkan adalah Megan tapi tak menutup kemungkinan bahwa nantinya nama Jakson juga ikut terseret.
“Untuk saat ini kita tunggu perkembangan dari rekanku dulu!” solusi Davin.
“Tak masalah! Aku juga akan berjaga di depan monitor!” ujar Jakson setuju.
“Oh iya, Jakson aku ingin bicara berdua denganmu?” ujar Sam kerap menatap serius pada Jakson. Masih banyak pertanyaan yang menjadi beban pikiran Sam sekarang.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu! Davin, kau istirahat saja dulu!” ujarnya saat meninggalkan Davin sendiri di sana seraya mengikuti Sam di salah satu ruangan, yang tak lain adalah kamar Megan karena kamar itu lebih dekat dari rumah tamu.
“Ada apa?”
“Apa kau yakin akan hal ini!”
“Apa maksudmu!”
“Bukankah pembunuh itu menginginkan nyawa Megan, kenapa kita harus terlibat! Apa kau tidak takut citramu akan terseret, kau seorang bintang!” peringatnya.
“Sudahlah.. jangan bahas lagi, nasi sudah jadi bubur, aku juga tidak bisa menarik kata-kataku!”
“Kau memang benar, tapi ini juga merupakan tanggung jawabku sebagai walinya! Anggap saja tebusan karena menabraknya waktu itu!”
“Ini tidak sama Jakson! Bukankah kau sudah membiarkan dia tinggal di sini dan merawatnya selama tiga bulan, itu sudah cukup! Jangan terlibat lebih dalam lagi dengannya, kita tidak tau ada masalah besar apa lagi nantinya!”
“Sam, sudah.. Keputusanku sudah bulat! Ke khawatirkan mu, aku sangat menghargainya, tapi apa kau tak ingin membantunya yang sebatang kara!” seru Jakson memberi pengertian, mengingat Megan tak punya orang tuk bersandar sekarang.
__ADS_1
Memang benar Jakson sudah tak bisa menarik kata-katanya, ia juga sebenarnya tak ingin terlibat akan masalah besar ini. Tidak terpikir olehnya akan membantu Megan, tapi ia ibah dan kasihan akan apa yang menimpa Megan sebelumnya.
Tak ada keluarga, teman, atau kerabat yang berusaha mencari Megan. Tidak seperti dirinya yang memiliki keluarga lengkap, latar belakang dan orang terdekat yang masih peduli padanya.
“Setiap orang punya masalah Jakson! Apa kau tidak terlalu bodoh melibatkan dirimu dengannya yang jelas belum kau kenal! Dia mungkin tidak mengerti mengapa kau melakukan semua ini!” ujar Sam lagi memberi peringatan.
Sekarang Sam termakan api khawatir, situasi yang Jakson hadapi takutnya akan berdampak untuknya dan Nadia nanti. Memang benar Jakson harus bertanggung jawab, tapi Jakson siap memberi perlindungan pada Megan, jelas ini bukan sekadar rasa tanggung jawab lagi, pikir Sam.
“Sam cukup! Aku tidak ingin mendengar kegelisahanmu lagi, lebih baik bantu aku menjaga rumah agar tetap aman!”
“Tapi..”
“Tidak ada tapi! Kalau tak ada hal lain aku kembali ke kamar dulu!” seru Jakson.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.