
Jakson meraih ponsel yang di sodorkan Sam, ia kerap penasaran akan isi dari ponsel itu.
Pikirnya ponsel itu memiliki sandi, ia memencet tombol aktif sehingga layar menampilkan sebuah foto yang tak lain foto Megan dengan Devan sebagai sampul dari layar itu.
“Siapa lelaki ini!!” tanyanya kerap menatap heran pada Sam sambil memperlihatkan layar ponsel itu.
“Dialah yang bernama Devan, kekasihnya. Sekarang ini, dia telah menikah, sudah sekitar tiga bulan lalu!” jelas Sam memberi tahu karena dirinya juga kerap bertanya pada teman lamanya yang tak lain dan bukan lain adalah seorang informan, sebut saja begitu.
“Terus, sejak kapan kau memperbaiki ponsel ini!” lanjutnya bertanya menatap ponsel yang bak baru seperti semula.
“Seminggu yang lalu, rusaknya juga tidak parah!” jelasnya lagi memberi jawaban.
“Sungguh wanita malang, tidak ada keluarga, bahkan kekasih sendiri sudah menikah dengan sahabatnya sendiri!” ujarnya merasa ibah akan apa yang menimpa Megan.
“Dia memang kasihan, dan kau malah membuatnya seperti sekarang ini!” jelas Nadia yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka, ia kerap tersenyum polos menyindir Jakson yang menambahkan garam baru pada wanita malang itu.
“Aku tak sengaja!” belasnya ketus.
“Aku juga sudah bertanggung jawab, kalaupun dia sadar biarkan saja dia tinggal di sini sampai sembuh total!!” sambungnya memberi solusi atas pertanggung jawabannya.
“Baiklah, biarkan dia tinggal di sini, aku juga butuh seorang teman wanita menemaniku, sekaligus membantu ku mengurus keperluanmu!!” seru Nadia memberi usul ingin ia jadikan Megan sebagai partner kerjanya.
__ADS_1
“Kalau begitu kenapa tak jadi kan dia sebagai asistenmu saja, aku tak bisa menemanimu 24 jam, setidaknya dia bisa!!” seru Sam kerap mengadu merasa pekerjaannya berat dan melelahkan, ingin ia berbagi kerjanya dengan Megan.
“Kalian ini berpikir terlalu jauh, sekarang saja dia belum sadar!” jelas Jakson membenarkan.
“Apa kalian sebegitu lelahnya bekerja denganku!!” sambungnya menduga kerap menatap sosok di depannya.
Sontak Nadia dan Sam tersentak dengan saling mengirim tatapan seolah perkataan itu benar adanya. Mereka memang kerap lelah jika harus mengurusi setiap keperluan Jakson di lokasi suting, terlebih lagi mereka juga butuh privasi dan kegiatan lain.
Desahan pasrah kian mengikuti nafas lemah Jakson, ia tahu akan beratnya pekerjaan dua orang temannya ini, ya mau bagaimana lagi, sebagai seorang bintang dirinya membutuhkan tim yang siap menemaninya, jangankan tim, bodyguard juga kerap ia butuhkan.
Selama tiga bulan ini, selesai sudah kegiatan drama dan suntingnya, sang idola hanya kerap menunggu namanya naik arisan untuk drama selanjutnya. Belum terpikir baginya membintangi drama baru saat ini, apa lagi dia juga butuh istirahat dari kerja yang kian padat.
“Yeii, jelaslah aku tak akan menemanimu, aku ada kencan dengan kekasihku!” seru Sam senang karena atasan sudah memberi libur, satu minggu sudah lumayan lama untuk menikmati hari-hari indah bukan.
“Jangan ingatkan aku yang jomblo ini kalau kau punya kekasih. Lebih baik aku kembali bersama ibuku saja!” seru Nadia sedikit kesal setelah mendengar penuturan Sam yang membahas kekasihnya.
“Terserah kalian, aku tak peduli, intinya satu minggu kemudian kalian harus kembali ke mari!!” teriak Jakson menggelegar dari kamar, tak peduli penuturan mereka dengan rencana-rencana yang akan mereka lakukan.
Dengan perasaan senang riang meriah, Nadia dan Sam mengirim tatapan bahagia, mereka seolah terbebas dari penjara kerja dengan ia gila kerja Jakson.
Dari arah kamar Megan pula, tampak sosok Jim mendekat dengan ekspresi kesal yang langsung di tujukan pada dua sosok yang masih duduk bahagia di sofa.
__ADS_1
“Apa kalian sebahagia itu mendapat libur!!” serunya kertus, karena dirinya juga ingin meliburkan diri dari kerjanya.
“Tentulah, bekerja dengan si pemilih itu sungguh melelahkan tau!!” seru Sam dengan bangga.
“Ya ya ya, nikmati saja liburmu, aku tak peduli lagi soal libur!” jelasnya kemudian mengambil sweter seraya memakainya dan beranjak menuju pintu meninggalkan ruangan dan dua sosok di sana.
“Ada apa dengannya! Apa dia iri kita mendapat libur” seru Sam menduga kerap menatap Nadia di sampingnya.
“Mungkin, hehe!!” balas Nadia dengan senyum tipis.
“Jakson, kalau begitu malam ini juga aku akan keluar!” seru Sam memberi tahu bahwa ia akan keluar malam ini, memperingatkan Jakson bahwa dirinya akan sendiri di rumah mewah ini.
“Terserah kalian saja!” balasnya dengan berteriak lagi, tentulah jika Sam keluar maka Nadia juga pasti akan ikut bersamanya, tak lain karena kediaman mereka searah.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1