Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 75


__ADS_3

Davin dan Sam mengikuti, sementara Megan masih tertinggal di antara mereka. Megan masih terpukau lantaran membandingkan Davin saat SMA dan sekarang. Saat itu Davin sangat populer seangkatannya, seperti artis yang selalu di kerumuni banyak wanita, Davin juga suka bergaul bersama siapa saja.


Dan siapa yang menyangka, atlet dari sekolahnya kini sudah jadi polisi, membanggakan bukan. Tapi berbeda dengan dirinya, bahkan setelah lulus dari universitas ternama pun Megan masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai keahlian.


Megan merasa terbelakang, ia berpikir bahwa dirinya tak punya apa-apa. Baru tersadar bahwa selama ini ia selalu bergantung pada Karin dan Devan. Walau sekolah di universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda, Megan selalu menganggap Karin sebagai saudarinya tapi, setelah tau bahwa Karin menyukai Devan ia merasa ciut, lantaran tak punya apa-apa seperti Karin yang lebih pantas bersanding dengan Devan.


Kehidupan dan kemewahan yang hanya sepintas ia nikmati juga berasal dari Karin. Kala ia melihat Devan bersama Karin beberapa kali, ia tak merasa cemburu lantaran yakin akan perasaan Devan padanya.


Tapi, kesabaran Megan juga ada batasnya, Devan mulai jarang bertemu dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Karin, dengan alasan pertemuan keluarga. Tapi siapa sangka, pertemuan itu bertujuan menjodohkan mereka, padahal keluarga Devan tau bahwa Megan tengah menjalin asmara dengan anaknya saat itu.


Dan serigala dari banyak serigala yaitu Devisa, mama dari Devan menemuinya dengan berlembar-lembar uang, Devisa bermaksud menukar uang sebagai kompensasi agar Megan memutuskan hubungan dengan Devan.


Siapa yang ingin menjual seseorang yang begitu berharga, tentulah Megan menolak semuanya, semua pemberian dari mama Devan, termasuk kata-kata yang begitu menusuk hati, ia hanya membiarkannya.


Terakhir kali Devan berpesan bahwa ia akan mempertahankan hubungannya, tapi janji itu terkubur bagai janji lainnya, janji palsu berganti dengan rasa sakit dari sebuah kabar bahwa ia akan bertunangan dengan Karin.


Dan kepastian akan berita itu terungkap saat Megan mendapati Karin dan Devan di lobi perusahaan. Mereka tengah berdua, bercumbu mesra dengan getaran nafsu yang kian memuncak. Entah yang di lihat Megan saat itu adalah Devan yang sesungguhnya atau bukan, tapi jelas hal itu membuat Megan semakin bulat akan keputusannya untuk menjauhi Devan, menjauh dan pergi tanpa sogokan dan paksaan lagi, karena hatinya sudah terluka bagai remuk.


*

__ADS_1


*


Kembali Megan memukul kepala kecilnya, menyadarkannya dari lamunan singkatnya yang menyakitkan. Ia kembali mengamati sekelilingnya, melihat Davin dan Sam di depannya, juga sosok Jakson yang mulai jauh di sana.


Megan tersenyum, bukan saatnya ia kembali memikirkan hal yang telah berlalu, fokusnya sekarang harusnya masa kini, orang-orang di sekitarnya dan apa yang akan ia lakukan ke depannya.


Megan berusaha mengejar mereka, tapi seseorang serasa mengikutinya. Ia berbalik, mencari ke ganjalan dari setiap orang yang mendekat, tapi tak mendapat hal yang di harapkan. Kembali Megan melanjutkan langkahnya, pikirnya itu hanya perasaannya saja.


“Megan..” panggil Davin.


Sejenak Davin berbalik mengamati Megan, pasalnya ia sudah sadar sedari tadi seseorang tengah mengawasi mereka. Bukan, lebih tepatnya mengawasi Megan. Dari kejauhan tepatnya di belakang Megan, seseorang tengah mengamati seraya mendekat, entah apa yang akan ia lakukan tapi langkahnya terhenti karena panggilan Davin tadi.


“Hmm.. Mau sembunyi sampai kapan? sampai aku menangkapmu, tidak akan ku biarkan kau mendekati Megan!” batin Davin.


“Megan cepatlah!” seru Davin.


“Tu tunggu.. Aku tidak kuat lagi!” jelas Megan yang mulai kehabisan nafas.


Perlahan langkah Megan kian mengecil, tapi dengan sigap Davin beralih dan membantu Megan dalam berjalan.

__ADS_1


“Seharusnya kau tidak usah ikut kalau begini saja tidak kuat!”


“Aku kan juga ingin berolahraga, rasanya aku semakin gendut! Tiga bulan aku tidur dan ini pertama kalinya aku berolahraga!”


“Ya ya.. Makanya kau harus bisa lebih kuat lagi!” saran Davin.


Tatapan Jakson bagai elang yang siapa menerkam lawan. Ia merasa terganggu akan siakap Davin yang tengah membantu Megan berjalan sekarang ini.


“Bisa lepaskan aku, aku ingin berjalan sendiri!”


“Ba baiklah!” ujar Davin menuruti.


Megan sadar akan tatapan yang tengah mengarah padanya, terutama tatapan Jakson. Entah mengapa ia tak ingin jika Jakson melihatnya bersama Davin sedekat itu.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2