
Malam berbintang dengan sinar bulan membentang luas memberikan kesan hangat bagi setiap mata yang memandang. Dengan kesejukan angin sepoi, Jakson menikmati waktu sendirinya dengan termenung berpikir.
Ia membaringkan tubuhnya pada kursi panjang tempat ia duduk, kemudian memandang keindahan malam. Perlahan-lahan ia memerjapkan mata hanyut akan beban pikirannya.
“Apa aku harus membiarkannya pergi! Tapi dia mungkin salah satu dari sekian banyak wanita yang bisa menyembuhkan phobia ku!” gumamnya bertanya pada diri sendiri, akankah ia melepas Megan tanpa mengutamakan keadaannya.
“Tapi, bukankah Nadia juga pernah menyentuhku!” sambungnya.
Di antara kesunyian, terdengar samar-samar langkah kaki yang kerap mendekat.
“Aduh maaf.. Aku lupa menyiram taman ini! Maaf ya aku melupakan kalian!” ujar Megan teduh kemudian mulai menyiram satu persatu pot bunga yang tampak tak terawat di sana.
Kemarin ia sempat berjalan-jalan mengamati seluk beluk rumah besar ini. Sampai ia tiba di atap, pemandangan indah membentang luas nan jauh, di sudut ruangan terdapat beberapa pot bunga yang kian layu.
“Malam yang indah, apa aku pantas melihat keindahan ini sendiri! Sungguh menyedihkan!” ujar Megan teduh.
“Suasana sunyi sebelum badai tiba!” sambungnya lemah.
“Dari tadi kau ini bicara apa sih!” seru Jakson yang membuat Megan terkejut.
“Aaaaa.. Kau rupanya!” jelas Megan terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan botol air kosong di tangannya yang baru saja ia gunakan menyiram tanaman.
“Aku tidak tau kau di sini, ma maaf jika aku mengganggu waktu mu!” ujarnya teduh kerap meraih botol yang kian bergelinding menuju kaki Jakson.
Jakson meriahnya, mengambil botol lebih dulu dari Megan, tangannya hampir saja menyentuh Megan, tapi dengan sigap Megan menarik kembali tangannya. Jakson mulai menatap sinis.
__ADS_1
“Duduk!” serunya.
“A ada apa! Kau bisa mengatakannya tanpa aku duduk kan?” balas Megan tampak gugup.
“Aku ingin tau apa maksud perkataanmu barusan!” tanyanya.
“Kau mendengarnya? Ti tidak ada maksud apa pun!”
Sebenarnya Megan mengingat kembali masa lalunya, masa lalu bersama orang tuanya di suatu malam. Mereka menghabiskan malam bahagia di bawah sinar rembulan yang persis sama pada malam ini.
Desahan kasar beriringan dengan nafas Jakson yang seolah tak puas akan jawaban Megan. Ia menaruh botol dengan keras, membuat Megan terkejut heran.
“Aku ingin memastikan sesuatu!” ujar Jakson mendekat.
“A apa! Me memastikan apa?” balasnya gugup, selangkah Jakson maju sengkah pula ia mundur, hingga dirinya tertahan tembok tak bisa mundur lagi atau melangkah, sosok Jakson sudah tepat di depan menatap lekat dirinya.
Tatapan Jakson seolah siap menerkam Megan. Jakson tersadar, sempat dirinya terhipnotis tak bisa ia kontrol saking inginnya menyentuh Megan. Di tatapnya Megan yang memalingkan wajahnya dengan mata terpejam, Megan takut akan apa yang ingin di lakukan Jakson padanya.
“Aku, aku ingin kau menyentuh ku!” ujar Jakson gugup dan canggung.
Megan membuka mata, ia keheranan “Apa maksudmu men yentuh..”
Jakson mengangkat tangan di depan Megan, bermaksud agar Megan menyentuhnya. Dan lagi-lagi Megan tak mengerti akan hal itu, ia hanya menatap Jakson dengan wajah masamnya. setelah mengerti maksud dari Jakson ia mulai menyentuh tangan Jakson dengan lembut di sana.
Sesegera mungkin Megan menarik tangannya saat sudah melakukan suruhan Jakson. Ia kembali menatap Jakson yang tampak tercengang dengan saling memandang.
__ADS_1
“A ada apa!” tanya Megan canggung.
“Tidak terjadi apa-apa! Tidak terjadi apa-apa padaku!” ujarnya tak percaya.
Setelah selesai dengan fantasinya tentang phobianya, Jakson kembali meraih tangan Megan, di genggamnya dengan erat yang membuat Megan terkejut tersipu.
“Aku benar tidak apa! Apa sekarang aku sembuh! Berapa kali pun aku menyentuh mu aku tak apa-apa!” ujarnya senang.
“Me memangnya kamu kenapa?” tanya Megan canggung.
Jakson tersentak akan penuturan itu, ia baru sadar dirinya tampak bodoh sekarang “Aku baik-baik saja” ujarnya melepas tangan Megan darinya.
“Kalau begitu terima kasih, aku akan kembali ke kamar ku! Kau juga tidurlah, jangan tidur terlalu larut!” perintahnya girang kemudian menghilang dari balik pintu meninggalkan Megan dengan seribu pertanyaan.
“Ada apa dengannya!” gumam Megan masih heran.
“Tadi itu.. Dia, dia tidak bermaksud mencium ku kan!” sambungnya, mengingat wajah Jakson yang begitu dekat dengannya tadi.
Di sisi tembok yang jauh dari terpaan lampu, sosok Nadia ternyata menyimak obrolan Jakson dan Megan tadi.
“Cih.. Mengganggu saja!” gumamnya kesal kemudian kembali ke lantai bawah.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.