Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 13


__ADS_3

Beberapa Jam kemudian, Jasmine dan Julia bersiap berpamitan, tak lupa ia berpamitan pada Megan yang jelas baru saja di kenalnya.


“Kalau begitu kamu jaga Megan baik-baik” seru Jasmine di ambang pintu bersama Julia yang kerap berpamitan mengingat mereka harus segera kembali sebelum makan siang.


“Iya ma iya.. Mama hati-hati, ummuahh!” balasnya manja kerap memberikan kecupan di pipi kiri mamanya.


Mobil beranjak dari halaman rumah. Di ambang pintu, Jakson melambai akan kepergian mereka.


Degan desahan pasrah pula ia kerap menatap Megan di sofa yang sedang menikmati makanan rumah bawaan Jasmine yang tak lain adalah makanan kesukaannya.


“Apa kau sudah puas!” serunya kesal.


“Apa!” balas Megan kerap berhenti dari kegiatannya yang kain merasa aneh akan tatapan elang Jakson.


“Sudah dari tadi dia makan, apa belum kenyang juga!” gumam Jakson kerap menatap heran dengan memijat kasar kepalanya.


“Heiii, jangan menggagunya. Biarkan dia makan banyak, lagian dia sudah tiga bulan tak menikmati makanan seperti ini!” bela Jim yang kerap menatap Megan seraya menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan mata Megan dalam menyantap makanan.


“Jelas itu makananku!” gerutunya seraya duduk menatap Megan yang tak segan melahap penuh makanan itu.


“Kau makan yang ini saja!” ujar Jim menyodorkan sekantong makanan pesanan Jakson sebelumnya.


“Sudahlah, aku tak berselera lagi, kau nikmati saja sendiri!” balasnya kerap beranjak dari tempatnya dengan maksud meraih ponselnya di dekat tv.

__ADS_1


Mereka serasa sudah akrab akan kehadiran Megan di rumah besar ini, tanpa berkenalan dan saling menyapa formal, walau tampak Megan yang masih malu-malu dalam setiap gerak-geriknya. Jakson juga tak peduli akan hal itu.


Ting tong. .ting tong..


Suara bel mengagetkan mereka, dengan sigap dan penasaran, Jakson mendekat, meraih gagang pintu dan perlahan membukanya.


“Selamat siang, apa benar ini rumah saudara Jakson!” ujar salah satu dari mereka yang tak lain dua orang polisi yang sempat menghubunginya sebelumnya.


“Be benar, silakan masuk” ujarnya mempersilakan.


Salah satu dari polisi itu tampak masih muda. Saat memasuki ruangan, ia terkejut mendapati Megan di sana yang selama ini di carinya.


“Megan!!” serunya kian menatap lekat sosok wanita di sana.


Megan terkejut akan seruhan yang baru saja menyebut namanya, ia juga kian mengenal suara itu yang tak lain adalah Davin, teman SMAnya.


“Ya, ini aku.. Kau tak apa kan?” tanyanya kian mendekat dan langsung duduk di sofa tepat di depan Megan, ia kerap mengingat insiden naas di kediaman Megan, selama tiga bulan terakhir dirinya sudah mencari ke mana gerangan temannya ini yang seolah menghilang tanpa jejak. Ujarannya hanya di balas anggukan pelan oleh Megan sendiri.


Dengan sigap pula Jakson duduk elegan di sofa, ia sudah tahu maksud kedatangan dua orang polisi ini. Salah satu dari mereka menyodorkan beberapa kertas padanya. Tampak Jim hanya menyimak, dirinya kerap bertanya apa maksud kedatangan dua orang polisi ini, apa membahas kecelakaan itu? pikirnya.


“Sebelumnya saya sudah menjelaskan lewat telepon. Karena sekarang Anda menjadi walinya maka saya meminta izin ingin membawa Megan ke tempat yang lebih aman” jelas polisi itu, bertuliskan Anton di dada kananya dan tampak lebih tua.


“Tapi pak, dia masih sakit tidak boleh berpisah dengan dokternya!” jelas Jakson seraya menatap Jim, memberi isarat.

__ADS_1


“Kau sakit!” ujar Davin kian menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Megan yang membuatnya terkejut fasih.


“Haa.. apa apaan lelaki ini, apa dia tak tau batasan antara wanita dan pria!” batin Jakson kerap kesal menatap mereka.


“Ternyata begitu, begini saja, saudari Megan tetap berada di kediaman Anda dan kami akan menemani!” jelasnya memberi solusi.


“Dan ya, apa Anda mengenal beberapa orang ini!” seru polisi itu menyodorkan beberapa kertas pada Megan berisikan foto dan gambar dari buronan yang menjadi targetnya.


Tampak Megan mulai mengamati tiap lekuk wajah di sana, pada salah satu halaman ia terkejut membulatkan mata sempurna kemudian menatap polisi di depannya.


“Orang ini, saya sering bertemu dengannya di sekitar gang dekat rumah sebelumnya!” ujar Megan seraya menunjuk orang yang di maksudnya.


“Dia, kau pernah bertemu dengannya!” seru Davin tampak terkejut.


“Iya, aku pernah membantunya sekali” ujar Megan dengan polosnya.


“Nona Megan, dia adalah salah satu pembunuh berantai yang masih dalam pengerjaan kami!” ujarnya yang membuat Jakson dan Jim sukses merinding terkejut akan penuturan itu.


“Pembunuh berantai!” jelas Jakson tak percaya.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2