
“Wanita ini, jelas sekali dia ingin Megan yang jadi nyonya muda di rumah ini!” kesal Karin dalam hati, sungguh emosi jika ia harus mendengar banyak penuturan tentang Megan.
Walau sudah tak ada Megan di sisi Devan tapi ia masih belum bisa menyentuh hati Devan, dan sekarang jejak Megan masih tersisa di keluarga besar ini, sungguh muak ia mendengar semua itu.
Karin menarik nafas dalam-dalam dan berusaha tersenyum sebisa mungkin, “Sudah Oma, tidak usah pikirkan Megan lagi! Itu hanya akan membuat Oma sakit kepala!” tutur Karin yang berusaha bersikap sesopan mungkin menahan kesalnya sedari tadi.
“Kamu benar nak! Tapi Oma masih berharap bisa bertemu dengan nya lagi!” ujar Oma, ia mengerti masalah tentang hubungan Devan dan Megan sebelumnya.
“Mungkin Oma tak bisa bertemu dengan Megan lagi nantinya! Maaf, aku tidak bisa membahayakan posisi ku sekarang” batin Karin yang kian tersenyum sinis membayangkan kematian dari Megan.
Oma tau bahwa Devan masih saja merindukan sosok itu, tapi karena tanggung jawab yang di emban Devan sekarang, maka Devan harus memulai hidup baru agar tak larut terlalu lama oleh asmara masa lalu.
Malam itu, Oma ada di sana, tepatnya duduk di dalam mobil melihat pertengkaran Megan dan Devan. Saat itu Oma sama sekali tak bisa membantu, ingin ia menyatukan mereka lagi tapi Devan malah berkata lain, ia menerima pernikahannya dengan Karin.
Setelah itu Oma berusaha mencari Megan, mulai dari tempat kerja hingga teman, tapi tak kunjung mendapat informasi sampai tiga bulan pun berlalu. Akhirnya Oma memutuskan tak mencarinya lagi, pikirnya Megan sudah tak ada di kota ini.
Sementara di salah satu ruang VIP, Megan bersama Nadia menunggu Jakson dan Sam yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Di sela waktunya menunggu, Megan terlelap di salah satu sofa, selendang masih terbalut di kepalanya menutupi rambut dan wajahnya, tapi Nadia sama sekali tak berani membangunkannya.
“Sebenarnya ada apa dengan Megan dan Pak Devan!” gumam Nadia bertanya-tanya, yang di lihatnya tadi sangat terlihat jelas bahwa Megan sedang menghindar dari Devan.
__ADS_1
“Pak Devan! De.. Van? Astaga, mungkinkah Devan mantan pacar Megan adalah pak Devan tadi?” ujarnya yang kian terkejut, duganya Devan mantan kekasih Megan yang pernah di sebutkan Jakson dan Sam.
“Ji jika memang benar seperti dugaanku, mengapa? Mengapa Megan menghindarinya? Ataukah.. mereka tidak putus secara damai!” tuturnya lagi yang kerap mencari tau.
“Tu tunggu, bukankah pak Devan sudah menikah? Karin.. Karin adalah istrinya dan.. Dan teman Megan! Ya ampun!” sambungnya yang keral percaya pada apa yang di duganya itu.
Nadia masih tercengang, ia menatap Megan lebih dalam lagi “Dia sungguh kasihan!” jelasnya “Aku bisa menjadi temanmu, asal kau tidak ada rasa dengan Jakson ku!” sambungnya dengan tegas.
Malam di mana ia melihat Jakson bersama Megan di atap, Nadia sudah kesal jika harus membayangkannya lagi, terlebih lagi kedatangan Megan mengusik ketenangannya dalam mengambil hati Jakson. Sudah lebih dari tiga tahun Nadia diam-diam menyimpan rasa pada Jakson.
Nadia merasa istimewa, karena Jakson sama sekali tak pernah bersama wanita lain selain ia dan mantan pacarnya itu. Dan sekarang kedatangan Megan membuatnya tak bisa menerima, awalnya ia bisa membuat Megan jadi teman dan partner kerja, tapi tak di sangka Jakson malah kerap peduli pada Megan.
Krek..
Pintu terbuka, diambang pintu Jakson kian mendekat.
“Ja Jakson.. Kau di sini? Di mana Sam?” ujarnya yang terkejut akan kedatangan Jakson yang tiba-tiba, harapnya Jakson tak mendengar ucapannya tadi.
“A Dia ada urusan!” jelasnya.
__ADS_1
“Begitu? aku keluar sebentar!” ujar Nadia yang kerap berjalan menuju pintu.
“Pergilah” setuju Jakson.
Tinggallah Jakson bersama Megan, awalnya ia tak sadar kalau yang tertidur di sana adalah Megan. Jakson mendekat, kembali menatap Megan seperti tadi pagi.
“Bukankah ini Selendang Nadia? Mengapa dia memakainya!” tuturnya mendapati selendang itu melilit di kepala Megan.
“Dia sungguh manis jika tertidur!” gumamnya.
Megan mendengar samar-samar perkataan itu, perlahan matanya mulai terbuka, membulatkan mata menatap Jakson yang tepat di hadapannya. Mata mereka saling bertemu, yang seolah terhipnotis akan tatapan masing-masing.
Deg.. deg..
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.