Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 73


__ADS_3

“Senangnya bertemu idolaku.. Tidak sia-sia aku menahan kebahagiaan ku dari tadi! Lagian tidak enak kalau aku malah bersorak untuknya dari pada Jakson, secara.. Acara ini untuk Jakson!” ujarnya kegirangan mengamati ponselnya yang tertera foto Alfin yang sudah ia tetapkan sebagai walpaper.


“Cup, cup, cup..” sambungnya, sekarang mencium layat ponselnya bertubi-tubi.


“Ada apa denganmu?” seru Jakson dari belakang, mengagetkan Megan yang tengah bahagia, fokus Megan sekarang tertuju pada sosok yang baru saja tiba ini.


“Hari ini aku sangat.. Sangat bahagia..” ungkap Megan tersenyum bodoh, mendekap lembut ponsel yang ia genggam.


“Ada apa? Kau ini bahagia karena apa? Apa hari ini ulang tahun mu?” respon Jakson yang malah bertanya, ia penasaran akan alasan dari kegirangan Megan saat ini.


“Bukan.. Hari ini aku bertemu idolaku!” bisik Megan yang kian mendekat pada Jakson.


“Idola mu? Maksudmu.. aku?” tunjuk Jakson pada dirinya sendiri yang seolah bangga bahwa ia menjadi idola Megan.


“Kau? Bukan.. Idolaku adalah.. Jeng jeng!” ungkap Megan yang menunjukkan ponselnya, foto walpaper yang telah ia ganti.


Jakson terkejut, “A alfin..!”.


“Dia tampan kan!” tanya Megan berbinar-binar.


“Tampan? Berani sekali kau mengganti walpaper ponselmu.. Aku jauh lebih tampan darinya!” tegas Jakson.


Seketika Megan terkejut, ia batu sadar bahwa sebelumnya walpaper ponselnya adalah foto Jakson. “I iya.. Kau tampan, tapi di mata ku.. Idola ku paling tampan!” Balas megan yang mulai berlalu, perlahan membuka pintu kamarnya menghindari tatapan Jakson yang mulai kesal. Ia tau kalau Jakson tak akan terima dengan ucapannya. Tak ingin mendengar ocehan Jakson, sesigap mungkin Megan menghindar.


“Kau! Berhenti di sana.. Ganti walpaper jelek itu, aku lebih tampan dari Alfin!” teriak Jakson, ia termakan kesal lantaran Megan menghindarinya.

__ADS_1


ucapannya kala telak oleh gerakan Megan. Megan sama sekali tak menghiraukan, malah tersenyum bangga kemudian memasuki ruangan itu. Sekarang sosok yang di panggilnya sudah masuk dalam kamar yang bersebelahan dengannya.


“Gadis ini.. Apa dari awal mengidolakan Alfin!” decak Jakson.


"Kalau tau begini, aku seharusnya tak mengundang Alfin ke acaraku!"


“Mengundang siapa?" seru Sam yang baru tiba bersama Nadia.


"Tidak ada!"


"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak masuk?”


“Ini.. Aku mau masuk!” ujarnya dengan kasar membuka pintu dan masuk.


“Kalau begitu aku juga ke kamarku, aku sangat lelah! Sampai besok!” sahut Nadia pula yang berpamitan pada Sam, ia juga heran akan tingkah Jakson itu. Nadia berlalu menuju kamarnya, kamar yang juga di gunakan Megan.


*


*


Di kamarnya pula, Megan terkejut, fokusnya teralihkan dari ponselnya kala melihat Nadia memasuki ruangan. Ia mengirim senyum tapi Nadia sama sekali tak menggubris. Nadia hanya berlalu dengan ekspresi datar lalu memasuki kamar mandi.


“Ada apa dengan Nadia? Apa.. Ada yang salah dengan wajah ku?” batin Megan merasa heran.


Entah kenapa tatapan dan perlakuan Nadia membuatnya tidak enak, membuatnya tertekan dan tersinggung. Tapi ia berusaha tak menggubris, pikirnya suasana hati Nadia kurang baik.

__ADS_1


Megan terlelap lebih dulu, bersama perasaannya yang berbunga. Ia berharap bertemu sang idola di lain waktu, bahkan dalam mimpi pun ia ingin.


Sementara Nadia baru saja selesai dari kamar mandi kala Megan tertidur. Entah apa yang ia lakukan selama itu di dalam sana, yang jelas ia sungguh tak ingin bertemu dan berbaik hati lagi pada Megan sekarang ini.


“Semakin aku bersama mu, semakin aku ingin menyingkirkan mu! Tapi.. Itu tergantung dari tingkahmu, jika kau selalu saja menempel pada Jakson aku jamin kau akan terluka! Kesabaran ku ada batasnya Megan!” gumam Nadia mengancam, kemudian berbaring di samping kanan Megan walau kesal.


*


*


Pagi tiba, matahari masih malu-malu memperlihatkan dirinya di balik awan, tapi panasnya masih terasa menghangatkan kulit. Sam bangun lebih dulu mengingat janji temunya bersama Davin untuk melakukan olahraga pagi. Cepat-cepat ia bersiap lantaran matahari pagi sudah menyapanya di balik jendela dan Jakson masih terbaring nyenyak memeluk bantal guling.


“Jakson.. apa kau tidak ingin bangun dan ikut olahraga denganku!”


“Hmm.. biarkan aku tidur sebentar lagi.. Aku masih mengantuk!” tolaknya.


“Baiklah, kalau begitu jangan lupa bangunkan Nadia untuk sarapan pagi, soalnya Megan juga akan ikut berolahraga denganku dan Davin!” jelas Sam yang mulai memakai sepatu, mengingatkan Jakson agar membangunkan Nadia.


“Kau bilang apa? Megan? Megan juga ikut olahraga denganmu?” tutur Jakson yang langsung saja duduk dari baringnya kala mendengar nama Megan, walau tampak matanya masih rapat tertutup.


To


Be


Continue

__ADS_1


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2