
“Sam, jaga Nadia! Aku akan memeriksa ke kamar Megan juga!” seru Jakson kemudian berlari mengikuti langkah Devan bercahayakan senter sebagai penuntunnya dalam gelap.
“Megan, kau baik-baik saja!” seru Davin saat setelah di depan pintu kamar Megan, ia berusaha membuka pintu tapi pintu sama sekali tak bersahabat.
Jakson tiba “Ada apa?” tanyanya.
“Pintunya tidak bisa di buka!” balas Davin yang kian panik, memaksa gagang pintu agar terbuka.
“Megan, kamu baik-baik saja!” tanya Jakson, tapi tak ada jawaban dari dalam.
“Minggir, aku akan mendobrak pintunya!” seru Davin, dalam paniknya ia juga harus berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah.
Jakson menyingkir, membiarkan Davin leluasa mendobrak pintu itu.
Brak..
Satu dobrakkan mendarat, tapi pintu masih kokoh.
Brak..
Dobrakan kedua juga sama.
Brak..
__ADS_1
Dobrakan ke tiga, akhirnya berhasil juga Davin membuka paksa pintu itu. Bergegas ia mencari Megan di sana. Di senterinya setiap sudut kamar yang tampak berantakan. Di sana tak ada seseorang sama sekali. Jendela terbuka lebar, Davin mulai mengamatinya.
Dari arah taman Davin mendapati seseorang tengah memopong Megan. Sesigap mungkin ia meloncat dari jendela, berlari menolong Megan yang sudah tak sadarkan diri. Jakson juga mengikuti, entah itu berbahaya atau tidak, pikirnya sekarang adalah untuk menyelamatkan Megan.
Gerbang masih jauh di depan, pagar juga membentang mengelilingi area rumah. Entah dari mana orang itu bisa masuk sampai berani membawa Megan keluar. Hampir terkejar, Davin kian mempercepat langkahnya. Langkah demi langkah, Davin mendekat.
Bukk...
Satu tendangan berhasil mengenai orang itu. Ia terjatuh bersama Megan yang pisang. Penjahat itu bangkit lagi, berusaha melarikan diri, sudah tak mungkin baginya membawa Megan sekarang karena Davin sudah lebih dulu meraihnya.
Davin menyelamatkan Megan, tapi tatapannya masih tertuju pada penjahat itu, ia juga tak tega meninggalkan Megan sendiri.
“Megan, Megan sadarlah!” ujarnya yang kerap membangunkan Megan.
“Davin!” panggilnya.
“Jakson, ku serahkan Megan padamu! Aku akan mengejar penjahat itu!” serunya, kemudian berlari mengejar buruannya.
Dengan aksinya, Davin mengikuti jejak dari pembunuh itu. Ia melompati pagar dan mulia mengejar. Sempat ia menelepon teman yang berjaga di sekitar ke diaman Jakson, memberi tahu untuk membantunya mencari pembunuh itu.
Dan Davin baru sadar, di lingkungan sekitar sangat bercahaya akan kerlap-kerlip dari terpaan lampu jalan, hanya rumah besar Jakson yang padam. Jelaslah ini bukan kebetulan tapi di sengaja, pikirnya. Dengan penuturan yang di sampaikan Devan, para rekannya kerap menjalankan tugas sesuai perintah.
Mereka berpencar, mengamati setiap sudut kota. Lewat headset FBI Davin dan rekannya saling terhubung. Beberapa hari lalu, informasi sudah mereka kumpulkan, dan keamanan di sekitar rumah Jakson juga sudah di perketat. Tapi sungguh tak terduga, pembunuh itu bisa membobol keamanan dan masuk ke rumah itu.
__ADS_1
Di salah satu gang, rekan Davin bertemu pembunuh itu. Dengan sigap Davin juga ikut membantu, mengerahkan kekuatan untuk mengejar. Malam ini mereka memburu penjahat handal. Walau lelah, mereka tetap mengutamakan misi. Malam bersejarah dan kebanggaan nantinya untuk mereka yang menyelesaikan tugas.
Sementara itu, Jakson membawa Megan masuk ke rumah. Ia bertemu pak satpam yang berjaga sebelumnya, menyuruhnya menjaga dan memeriksa sekeliling rumah dengan teliti. Jakson membaringkan Megan di sofa ruang tamu. Di sana duduk Sam dan Nadia yang menunggu mereka degan cahaya lilin sebagai penerangnya.
“Jakson, ada apa dengan Megan!” tanya Sam saat Jakson mendekat.
“Aku juga tidak tahu!”
“Oh iya.. Telepon Jim untuk datang kemari!” perintahnya.
“Megan...” panggilnya, ia bermaksud membangunkannya seraya menepuk pipi Megan, tapi sama sekali tak ada respon.
Berapa kali Jakson coba tuk membangunkan Megan, tapi Megan tak kunjung terbangun. Ia mulai resah “Cepat panggil Jim kemari!” kesalnya.
“Tenangkan dirimu, Jim sudah dalam perjalanan!” jelas Sam memberi tau karena ia baru saja berbicara dengan Jim lewat telepon.
Mendengar itu, Jakson kian mengatur emosinya. Sekali lagi ia menepuk pipi Megan. Dan di bagian leher Megan, Jakson mendapati darah di sana, darah yang di sebabkan karena luka sayatan. Jakson kian panik, ia mulai mencari kotak obat untuk mengobatinya.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.