
Jakson keluar dari kamar mandi, keadaannya makin memburuk. Wajahnya mulai pucat bersama keringat yang kian bercucuran.
Jakson mencari ponselnya, bermaksud menelepon Jim sekarang juga. Energinya sudah terkuras, tak bisa banyak bergerak lantaran perutnya masih saja sakit.
Ke sana kemari Jakson mencari ponselnya, mencarinya di setiap sudut ruangan yang biasa ia gunakan tuk menyimpan ponsel, tapi ponsel itu tak kunjung ketemu.
“Di dimana ponselku?” gumamnya lemah yang mulai putus asa mencari ponselnya.
Jakson kembali mengingat-ingat di mana gerangan ia meninggalkan ponselnya itu. Terakhir kali ia berada di kamar Megan, pikirnya ponselnya tertinggal di sana.
Tanpa pikir panjang lagi, Jakson menuju kamar Megan. Sempoyongan ia berjalan, langkah demi langkah ia usahakan di sisa tenaganya.
Pagi-pagi begini, suasana rumah masih sunyi, jelaslah penghuninya masih di kamar masing-masing, begitu pun Megan. Harap Jakson, Megan sudah bangun.
“Me megan..” panggilnya lemah.
Dan benar saja, Megan membukakan pintu. Jelas raut wajah Megan berubah panik saat mendapatinya yang kian pucat dan lemah.
“A ada apa denganmu? Mengapa wajah mu pucat sekali?”
“A aku.. tidak tahan lagi, sa sakit!” ujar Jakson yang langsung roboh dalam pelukan Megan.
“Jak Jakson.. Ada apa dengan mu? Bertahanlah!” ujar Megan kian panik.
“To tolong telepon Jim sekarang!” suruh Jakson di sela nafasnya yang lemah.
__ADS_1
“Berbaringlah di sini.. Aku akan meneleponnya untuk mu!” jelas Megan yang menuntun Jakson berbaring di bidang empuknya yang berantakan.
Sementara itu, Jasmine yang masih terhubung dengan ponsel Jakson mendengar semua percakapan singkat Megan dan Jakson dari tadi. Ia juga mulai panik saat mendengar suara lemah dari sang bintangnya.
“Nak Megan.. Ada apa dengan Jakson?” tanyanya.
“Ta tante.. Sepertinya Jakson sedang sakit! A aku ingin menelpon Jim dulu!” tutur Megan yang takut menutup panggilan lebih dulu.
“Begitu, be berikan ponselnya pada Jakson dulu, aku ingin mendengar suaranya!” jelas Jasmine, ingin ia dengar suara lemah Jakson lagi agar kecurigaannya pasti.
“Se sebentar tante!” mendapat perintah itu, Megan menyodorkan ponsel dan langsung melengketkan di telinga Jakson.
“Ma mama..” tutur Jakson lemah.
“Ka kau baik-baik saja!”
“Pe perutku sakit sekali ma!” sambungnya lemah.
Megan berlalu, keluar dari sana mencari Davin dan yang lainnya, bermaksud memberi tahu akan keadaan Jakson sekarang ini.
“Be benar sakit kah?” jelas Jasmine yang sekali lagi memastikan, karena biasanya Jakson suka bercanda soal kesehatannya agar ia datang menjenguk.
“Mama pikir aku bercanda? Aku tidak tahan lagi!” tegas Jakson sekuat tenaga, berusaha menahan sakit.
“Baiklah, biar mama yang menelpon Jim!”
__ADS_1
“Oh iya ma.. bi bisa mama menelepon Jacob? Ka katakan aku tak bisa hadir untuk suting hari ini.. Jangan katakan aku sakit, berikan alasan lain saja ma! Ingat.. alasan yang masuk akal!” jelas Jakson lemah meminta mamanya menelpon sepupunya itu.
Jelaslah Jakson tak ingin jika Jacob tau kalau sekarang ia sedang sakit, tak lain karena sepupunya itu akan mengejek dan lebih menjelekkan namanya lagi. Tentu saja karena mereka ini adalah rival, rival dalam hal apa pun tak terkecuali soal wanita.
Jakson dan Jacob cukup terkenal di keluarga Willy, terutama karena persaingannya yang tak kunjung selesai, dan lagi salah satu dari mereka tak mau mengalah satu sama lain.
“Baiklah, nanti mama sampaikan! Kamu jaga diri baik-baik, mama akan cari alasan agar bisa mengunjungi mu nanti!” tutur Jasmine sebelum menutup panggilan.
Jasmine ingin mengunjungi Jakson, tapi karena suaminya Jonatan sekarang ini berdiam diri di rumah, maka ia harus mencari alasan agar keluar, terutama untuk bertemu Jakson.
Tentu saja, karena nama Jakson sangat sakral baginya, tak ingin Jonatan mendengar nama itu lagi walau sebenarnya sangat rindu pada putra keduanya yang sudah lama jauh darinya.
Berbondong-bondong Megan bersama yang lainnya memasuki kamar di mana Jakson terbaring lemah. Tampak panik Nadia dan Sam menghampirinya.
“Jakson ada apa dengan mu?” tanya Nadia yang langsung duduk di sisi ranjang seraya meraih tangan Jakson di sana, menunjukkan kepanikannya yang menjadi-jadi.
“A aku tidak..” balas Jakson yang terhenti karena menatap tangannya sekarang sudah di genggam Nadia. Sungguh tak percaya bahwa Nadia juga sudah berani menyentuhnya.
Sementara Nadia sadar akan tatapan Jakson itu. Cepat-cepat Nadia melepas genggamannya, takut Jakson marah karena ia sudah lancang menyentuhnya.
“Ja jadi.. Aku tidak apa? Aku baru saja di sentuh oleh Nadia dan.. dan tubuhku tak bereaksi sama sekali!” batin Jakson yang mendesah lemah memejamkan mata tak kuat lagi menahan rasa sakitnya.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.