
“Ya, cinta pertama ku! tapi, aku tak tau apa sekarang cintaku masih sama seperti dulu? Kupikir Megan sudah menikah lalu hidup bahagiah dengan Devan, tapi aku tidak tau dia begitu menderita, apalagi yang bersanding dengan Devan sekarang adalah teman Megan satu-satunya!”
“Jadi kau masih ragu dengan perasaan mu?”
“Hmm.. sebelumnya aku sudah merelakannya, tapi sekarang melihat dia sebatang kara makin membuatku terluka! Jika saja dia bisa tersenyum dan lebih ceria seperti sebelumnya maka itu sudah cukup bagiku! Kau tau kan, selama ini aku memiliki hubungan tidak tulus bersama para wanita gila yang mengejarku!"
“Bagaimana perasaan mu padanya? Pikirkan itu baik-baik lalu kau bisa memutuskan, hubungan seperti apa yang akan ku jalani dengannya, tapi jangan semakan Megan dengan para mantan mu! Aku tau kau bisa mengejar wanita dengan ketulusanmu! Seplayboy apa pun dirimu kau juga berhak mencari seseorang yang kau cintai bukan?” saran Jessy, ia tau betul bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, karena selama ini cintanya juga seperti itu.
“Kau benar, awalnya aku berpikir! Aku mungkin tidak bisa bertemu seseorang yang menarik perhatian ku, tapi kali ini aku bertemu cinta pertama ku lagi! Ini kesempatan untukku bukan!”
“Hmm, kesempatan ya! Apa aku juga punya kesempatan untuk itu?” gumam Jessy.
“Bagaimana dengan cinta pertama mu? Apa berhasil?” tanya Davin pula.
Sewaktu SMP Davin sangat akrab dengan Jessy. Mereka sering kali berbagi cerita tak terkecuali tentang seseorang yang memikat hati. Waktu itu Jessy sempat menceritakan seseorang yang membuatnya berdebar, tapi cerita itu belum selesai lantaran Davin sudah pergi.
Jessy terdiam, bibirnya mulai kaku tuk menjawab pertanyaan Davin. Padahal orang di maksud Jessy waktu itu adalah sosok yang bersamanya sekarang.
“Itu.. Tidak berhasil!”
“Kenapa?”
“Waktu itu dia pergi, padahal aku belum memberi tahu perasaanku! Aku menyesal tidak mengatakannya! Tapi itu sudah berlalu, mungkin cinta monyet ku kandas saat itu juga!”
__ADS_1
“Hmm, ku pikir hanya aku yang mengalami hal menyakitkan seperti ini! Bertahanlah, pasti seseorang akan datang untukmu di kesempatan lain!”
“Kuharap itu dirimu!” batin Jessy, ia masih berharap bahwa pemilik hatinya adalah Davin, tapi ia juga ragu, ragu akan perasaannya, apakah masih sama seperti dulu.
Selama berbicara, mereka juga melangkah perlahan memasuki rumah hantu. Bahkan tak terdengar rintihan atau pun teriakan ketakutan dari dua insan ini yang menandakan mereka sama sekali tak takut akan wahana yang satu ini.
“Hati-hati!” Davin berteriak kemudian menarik Jessy dalam dekapannya.
Jessy terkejut, jika bukan Davin yang menariknya, mungkin kepalanya sudah mengenai sesuatu yang jatuh dari atas secara tiba-tiba. Kini Jessy mulai gugup, bau parfum Davin dapat tercium begitu tajam yang membuatnya terbuai akan harumnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Davin.
“Hmm..” Jessy hanya mengangguk seraya bergumam pelan.
Selesai dari rumah hantu, Jessy menghampiri salah satu penjual es krim tak jauh dari sana. Di tempatnya berdiri, ia juga melihat Megan di salah satu bangku bersama seorang anak imut. Jessy bermurah hati membelikan es krim untuk Davin dan juga Megan.
“Megan!” panggil Jessy yang mulai mendekat bersama Davin sambil membawa es krim di kedua tangannya.
“Mereka ini teman kakak!” bisik Megan di telinga Melly.
“Nih es krim!” sodor Jessy.
“Terima kasih!” ujar Megan seraya meraihnya.
__ADS_1
“Siapa anak imut ini!” jelas Davin kemudian menggendong Melly dalam dekapannya.
“Siapa nama mu gadis imut!” tanya Jessy pula yang tak mau kalah dari Davin.
“Melly!” tuturnya.
“Imutnya! Tapi Megan, dimana orang tuanya?” tanya Jessy.
“Entah!!” Megan mengangkat kedua bahunya tanda tak tau.
“Ponselmu bergetar, angkat gih!” ujarJessy yang baru saja duduk di sisi Megan dan menyadari getaran ponsel itu.
“Cuman nomor salah sambung!” tolak Megan.
“Tapi kan terus bergetar, angkat saja sih siapa tau penting!” jelas Jessy.
“Ba baiklah!” setuju Megan walau ragu, karena yang dikatakan Jessy ada benarnya, getaran ponsel itu sangat mengganggu.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.