Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 44


__ADS_3

“Ba bau Megan menjalar di setiap selimut dan seprai ini, sangat harum!” gumam Jakson saat dirinya bersembunyi di atas ranjang Megan.


“A ada apa denganku, bahkan bau seperti ini saja membuat ku terlena!” sambungnya yang kerap berpikir jernih, sadar akan dirinya yang bersikap tak pantas.


Selagi ia bersembunyi di sana, ia juga menyimak pembicaraan Megan dan Davin. Sudah jelas bahwa Megan terlihat panik mencari alasan agar Davin segera keluar dari kamar, walau tampaknya Davin sendiri tak curiga akan tumpukan di atas ranjang.


“Untung saja Davin tidak curiga dengan ranjang itu!” gumam Megan lega saat Davin sudah keluar.


“Apa yang baru saja dia lakukan padamu!” tanya Jakson yang langsung mengirimkan tatapan elang.


“A apa!” balas Megan heran.


“Sudahlah, lupakan saja pertanyaan ku, angga aku tidak bertanya!” ujarnya yang berubah pikiran.


"Apa urusanku jika mereka bermesraan!" batin Jakson.


“Jadi.. ada apa kau datang menemuiku, Ka kalau tak ada hal lain cepat keluar!” tegas Megan yang kian resah akan sosok Jakson, ia sungguh tak ingin berhubungan dengan lelaki ini.


“Kau mengusirku!” tegas Jakson yang kerap beranjak dari sana.


“I iya!” balas Megan sedikit gugup, memang benar sekarang ia sedang mengusir Jakson keluar dari kamarnya, tapi Jakson menangkap hal lain dari perkataan itu.


“Kau ternyata sudah berani mengusir ku ya..” ancam Jakson yang kian mendekat, memojokkan Megan di dinding dengan raut wajah terkejut.


“Megan..” seru Nadia di balik pintu.


Mendengar itu Jakson kembali panik, dengan sigap ia kembali mencari tempat untuk bersembunyi. Dan Megan hanya diam memantung menatapnya yang sangat ketakutan seperti seorang maling.

__ADS_1


Bukkk..


Jakson menabrak kursi yang hanya terdiam rapi bersama meja di sana, dan suara yang di timbulkannya sukses membuat Nadia penasaran.


“Megan, kau baik-baik saja?” seru Nadia.


“I iya, aku tidak apa, tunggu sebentar?” seru Megan kemudian menuntun Jakson agar bersembunyi di dalam lemari besar di sudut ruangan, karena pastilah Jakson akan terlihat jika harus bersembunyi di ranjang lagi. Mungkin Davin tak menyadarinya tapi Nadia pasti akan menyadarinya, setidaknya itulah yang di pikirkan Megan sekarang.


“Kau di sini sebentar!” bisik Megan yang di balas anggukan oleh Jakson.


Jakson berjongkok di dalam lemari, melihat dari sela-sela lemari seraya mengusap kakinya yang terasa sakit karena baru saja menendang sebuah kursi.


"Sakit sekali!" batinnya meringis.


Sungguh sial, ia hanya ingin bertanya pada Megan, seraya membicarakan tentang balas budi itu. Tapi bicara pun tak sempat dan sekarang ia harus kembali bersembunyi. Entah mengapa ia harus melakukannya, tapi kalau sampai ketahuan oleh mereka bahwa ia berada di kamar Megan berdua saja, entah apa yang akan di pikirkan Sam dan Nadia tentangnya. Yang jelas Jakson tak ingin citranya rusak di depan dua orang temannya.


Megan membuka pintu, dan benar saja, Nadia kerap masuk mengamati ruangan mencari ke ganjalan di sana karena suara dentuman tadi.


“A.. Ta tadi aku tak sengaja menjatuhkan sebuah buku!” alasan Megan yang entah di terima Nadia atau tidak.


“Hmm, kau mencari pekerjaan lagi?” ujar Nadia yang ingat akan hal itu, karena biasanya Megan membaca beberapa buku tentang pekerjaan, seraya mencari beberapa lowongan kerja di setiap perusahaan ternama.


“I iya..” angguk Megan.


“Apa kau belum melamar kerja di perusahaan J group?” tanya Nadia.


“Be belum, aku masih ragu, karena itu bukan keahlianku!”

__ADS_1


“Jangan buang kesempatan itu, kau kan bisa belajar! Kau pikirkanlah baik-baik, aku hanya datang meminjam buku ini!” ujar Nadia kemudian meraih sebuah buku novel yang tersusun rapi di atas meja.


“Kau sudah membacanya kan!” tanya Nadia sebelum beranjak.


“I iya, itu sangat romantis dan manis!” ujar Megan.


“Makanya aku tertarik, selamat malam!” jelas Nadia kemudian beranjak dari sana.


Megan kembali bernafas lega saat pintu tertutup rapat.


“A apa sudah aman!” seru Jakson dari lemari.


“Su.. Dah!” ujar Megan yang terhenti karena melihat sosok Nadia di depan pintu itu lagi.


Jakson yang tadinya ingin membuka pintu lemari berhenti bergerak dan kembali mematung.


“A ada apa Nadia?” tanya Megan gugup, pikirnya Nadia sadar akan keberadaan Jakson.


“Tidak ada, aku lupa memberikan minuman ini padamu!” sodor Nadia, kemudian saat setelah gelas itu di genggaman Megan ia segera beranjak dari sana.


“Te terima kasih!” ujar Megan.


“Minumlah.. minuman itu memang khusus untukmu! Karena besok pagi, kau tidak akan ikut dengan Jakson!” seringai Nadia saat keluar dari sana. Minuman yang ia berikan sudah di beri obat sakit perut, alasannya agar Megan tak ikut bekerja bersamanya besok, lantaran ia ingin menghabiskan waktu bersama Jakson.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2