
Belum lama Megan duduk bersantai di kursi itu, langkah kaki bergema memecah keheningan, perlahan sosok dengan langkah kaki itu kian mendekatinya.
“Siapa kau, ini tempatku!” terdengar suara dingin nan serak yang seolah menusuk telinga Megan.
Refleks Megan berdiri, berhadapan dengan pemilik kursi itu, walau ragu untuknya menatap wajah itu yang menurutnya sangar dan sinis, kesimpulan Megan dari suara yang di dengannya tadi. Ia merasa bersalah karena sudah duduk di sana tanpa tau bahwa kursi itu milik seseorang.
“Ma maaf, saya tidak tau tempat ini ada yang punya!” tutur Megan seketika dan langsung tertunduk dan siap berlalu.
“Tunggu dulu!” sela orang itu dengan nada sama.
Suara itu sukses membuat Megan berhenti, ia menelan ludah kasar seraya kembali berhadapan pada pemilik kursi.
“A ada apa?” tanya Megan yang gugup, padahal ia belum melihat jelas rupa dari sosok di depannya karena takut, tapi jelas terasa tatapan orang itu tengah mengintimidasi.
“Bawa ponselmu!” jelasnya menunjuk ponsel Megan di sofa itu.
“Aa.. I iya..” Megan langsung meraih ponselnya kemudian siap berlalu dengan terburu-buru.
“Tunggu.. Aku belum memperbolehkanmu pergi!” jelas lelaki itu lagi, membuat Megan kian resah dan takut.
Dengan sedikit berani, Megan menatap sosok di depannya, menerawang wajah dari pemilik suara dingin ini. Megan terkejut, refleks kedua tangannya mendarat menutup mulutnya yang ternganga, begitu pun dengan ekspresinya yang begitu kaget layaknya melihat hantu.
“A aa alfin..” ucapnya tak percaya.
__ADS_1
*
*
Di salah satu ruangan yang tepatnya ruangan pertemuan Jakson dan Devina, suasana tampak hening kala Megan keluar. Sebenarnya, Karin sedari tadi bermuka masam dan kesal akan munculnya Megan yang tiba-tiba, begitu juga dengan Jakson, ia kesal karena Karin ada di sini, pikirnya Megan tak masuk ke ruangan karena ada Karin.
Suasana tampak mencekam, seolah mereka tengah berbicara dalam hati dengan pikiran masing-masing. Devan juga tak kala diam membisu, ia menahan diri agar tak mengejar Megan. Tapi hatinya masih berharap bahwa ia bisa bertemu Megan lagi.
“Dia pasti terkejut melihat Devan dan sahabatnya di sini!” batin Nadia.
“Sungguh malang.. Bahkan tak berani melihat temannya ini!” sambungnya dengan seringai.
Nadia tersenyum kaku pada Karin dan Devan, yang di balas senyuman sama. Mereka seolah berbicara lewat senyuman. Kedatangan mereka ke sini tak lain karena Devina ingin meminta tanda tangan serta berfoto dengan Jakson, idolanya.
“Aaa.. Senangnya bisa bertemu langsung dengan oppa!” ujarnya kegirangan, “Tapi, apa oppa kenal dengan kak Megan?” tuturnya yang asal ceplas bertanya soal Megan, ia masih heran karena sebelumnya Megan membuka pintu, pikirnya Megan salah ruangan makanya menutup pintu itu kembali, tapi ia baru sadar bahwa Megan menghindari Kakaknya dan Karin sekarang ini.
Jakson tersenyum kaku, “Megan? Maksud mu wanita tadi?” Jakson kembali bertanya yang di jawab anggukan oleh Devina sendiri.
Bukan hanya Devina, Devan juga tengah menunggu jawaban dari pertanyaan itu, entah apa hubungan Jakson dengan Megan, yang jelas sekarang ini ia penasaran.
“Dia asisten ku!” tegas Jakson.
Jawaban itu sukses membuat Devan dan Devina terkejut, selama ini mereka sudah mencari Megan tapi siapa sangka Megan ada bersama Jakson, pantas saja jejaknya sulit di temukan.
__ADS_1
“A asisten?” tutur Devan yang masih tak percaya, ia ingat akan wanita yang bersama Jakson di lift waktu itu, dan tentu saja namanya bukan Megan melainkan Melly.
“Bu bukankah asisten mu bernama Melly?” sambung Devan.
“Aku yang menamainya begitu!” tutur Jakson seolah bercanda, mau bagaimana lagi, kalau pun sekarang ia mencari alasan, tetap saja bukti sudah terlihat, Megan sendiri yang memperlihatkan dirinya pada orang yang tak ingin di temuinya.
“Jadi.. Selama ini, kak Megan bekerja untuk oppa?” seru Devina menyelidik yang juga di balas anggukan polos oleh Jakson.
“Wah debak.. Jadi sudah berapa lama Kak Megan sama oppa!” tanyanya lagi.
“Tiga bulan!”
“Ti tiga bulan?” jelas Devina tak percaya.
“Yang berarti.. saat aku dan Karin menikah?” batin Devan.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1