Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 50


__ADS_3

“Apa yang ku lakukan?” gumam Jakson dengan dahi mengernyit, “I itu.. Aku hanya berbicara dengannya!” jelasnya agak ragu, dan terlintas lagi kejadian semalam yang berusaha ia lupakan.


“Hmm.. Sepertinya aku mencium bau kebohongan!” goda Jim dengan menaikkan alis menatap Jakson.


“Ba bau kebohongan? A aku sama sekali tidak berbohong!” tegas Jakson gelagapan, yang sudah jelas bahwa ia sedang berbohong.


“Baiklah.. Jadi, kau minum jus di kamar Megan, dan itu terakhir kali kau makan atau minum kan?” selidik Jim yang di balas anggukan oleh Jakson.


Tampak Jim mulai berpikir “Mungkinkah Megan yang sengaja memasukkan itu!” ujarnya mengambil kesimpulan.


“Tidak mungkin, untuk apa dia melakukannya?” sangga Jakson seketika.


Jim juga tak merasa yankin akan penuturannya tadi, dan kembali berpikir. Jakson mengernyitkan dahi, jelaslah yang di katakan Jim barusan membuatnya tak percaya, secara yang membawa segelas jus itu adalah Nadia.


“Apa mungkin Nadia?” Jakson menebak dalam haati, tapi ia ragu antara percaya atau tidak.


“Kalau memang perbuatan Nadia? Untuk apa dia melakukan itu!” sambungnya berpikir.


“A atau sebenarnya dia ingin Megan yang meminumnya, tapi aku malah..” tambahnya mengambil kesimpulan.


“Ada apa Jakson.. Apa kau tau sesuatu tentang ini?” tanya Jim yang mulai curiga.


“Ti tidak ada, aku hanya merasa masih sakit perut” tuturnya beralasan.


“Kalau begitu beristirahatlah setelah meminum obat ini!” sodor Jim bersama segelas air.


Jakson meraihnya kemudian meminum obat itu. Masih terbayang soal Nadia di benaknya, benarkah seperti yang ia tebak. Perlahan Jakson membaringkan tumbuhnya di sana, dan baru sadar bahwa sekarang ini ia berada di kamar Megan.

__ADS_1


“Astaga.. Ternyata aku dari tadi di sini! Pantas saja sedikit tidak yaman tapi.. Bau Megan ada di sini!” batinnya yang kembali terlena akan bau di bidang empuk itu.


Jim beranjak saat setelah membereskan alat-alatnya. Sebelum membuka pintu ia terhenti, kemudian mengamati ruangan. Jelaslah yang dilihatnya sekarang bukan kamar Jakson. Tatapannya kembali sinis menatap Jakson dengan penuh curiga.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tegasnya.


“Tidur.. apa lagi!” tutur Jakson kian memperbaiki posisinya dan siap terlelap.


“Tidur? Tapi ini jelas bukan kamar mu!”


“Memang bukan!”


“Kalau begitu apa yang kau tunggu, cepat kembali ke kamarmu!” bentak Jim.


“Kenapa, aku ingin di sini!”


“Ini rumah mu, jadi kau bisa bersikap tidak sopan seperti ini! Atau jangan-jangan kau sudah jadi lelaki mesum dan gila!” tutur Jim kesal kemudian keluar dari pintu membanting pintu dengan kasar.


“Apa? Dia mengataiku me mesum!” gumam Jakson kesal yang perlahan beranjak dari bidang empuk itu dengan sisa tenaga, bermaksud kembali ke kamarnya dan terlelap di sana saja.


Yang di katakan Jim tadi ada benarnya, jangan karena dia pemilik rumah jadi bisa seenaknya, terlebih lagi tidur di tempat Megan.


Yang jelas ruangan ini penuh dengan nuansa wanita di dalamnya, dan sangat tidak sopan jikala ia masih di sana. Apalagi kejadian semalam masih menjadi kecanggungan diantara ia dan Megan.


Sementara itu, di luar kamar tepatnya di beberapa sofa, tampak Nadia tertegun menggigit kuku ibu jarinya, “Ba bagaimana bisa! Bagaimana bisa Jakson yang sakit dan Megan baik-baik saja sedari tadi!” gumamnya gelisah, menatap Megan yang duduk bersama Davin di sofa itu.


“Ada apa Nadia?” tanya Sam yang melihatnya.

__ADS_1


“A aku baik-baik saja!” jelasnya terkejut.


“Jakson akan baik-baik saja!” yakin Sam mengira Nadia khawatir akan keadaan Jakson.


Brak..


Jim terkejut saat keluar dari kamar itu, lantaran menerima tatapan heran karena baru saja membanting pintu dengan keras.


“Ada apa Jim?” tanya Sam.


“Tidak ada!” tuturnya.


Perlahan pintu terbuka, sosok Jakson juga keluar dari sana dengan lemah. Sesegera mungkin ia memegang Jim, menjadikannya sebagai penuntun jalan ke kamarnya yang tepat di sebelah kamar Megan.


“Kenapa kau keluar?” tanya Megan menghampiri membantu Jim menuntun jalan Jakson.


“A aku hanya ingin tidur di kamar ku!” tutur Jakson dengan menatap sinis pada Jim yang membuang muka.


Jelaslah ia ingin lebih lama di kamar Megan, sekalian mencari tau kesukaan dan kebiasaan Megan di sana, tapi Jim membuatnya ragu melakukannya lantaran ini juga bukan kebiasaannya.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2